oleh

Kota Cirebon Miliki Bangunan Bersejarah Lawang Sanga Masih Rapih

CIREBON (CT) – Jika Semarang terkenal dengan bangunan tua yakni Lawang Sewu (pintu seribu), Cirebon juga mempunyai bangunan tua dan bersejarah yakni Lawang Sanga (sembilan pintu). Banungan Lawang Sanga merupakan bangunan kecil bersejarah, termasuk dalam bangunan cagar budaya yang lokasinya persis di belakang Keraton Kasepuhan, menghadap ke Sungai Kriyan.

Tepatnya berada di RT 9 RW 2 Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, dan merupakan pintu gerbang keraton Kasepuhan dari arah perairan. Bangunan ini mempunyai peranan penting pada masa lalu karena tamu-tamu Kesultanan Cirebon yang akan menuju ke istana datang dan pergi dari pintu tersebut.

bangunan Lawang Sanga tidak hanya berperan dibidang sosial dan ekonomi, akan tetapi juga dalam bidang  kebudayaan, politik dan pendidikan. Dan Lawang Sanga dibangun awal abad 15. Sezaman dengan pembangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa dan Masjid Pejagrahan.

“Pada zaman dahulu Kesultanan Cirebon yang merupakan Kesultanan Islam yang cukup besar telah mengadakan hubungan multilateral dengan negara, bangsa dan kerajaan lain, seperti dari Gujarat, Campa, Cina, Arab dan lain sebagainya. Sehingga gaya arsitektur perpaduan dari berbagai unsur budaya, yaitu Hindu, Arab dan Cina,” tutur filolog R Ahmad Opan Safari Hasyim, M. Hum, kepada CT, (28/02).

Dikatakan Juru Kunci Lawang Sanga, Suwari (69). Dahulu Lawang Sanga ini digunakan sebagai tempat masuk penerimaan upeti untuk raja-raja di Indonesia, dari raja-raja dari luar negara, dengan memelalui sungai Kriyan, dan berlabuh di depan Lawang Sanga.

Bangunan Lawang Sanga pun ada kaitannya dengan sejarah wali sanga, disinilah tempat berundingnya para waliyullah bermusyawarah menyelesaikan permasalahan ketika berdakwah menyiarkan agama Islam, dan  apabila telah selesai, mereka pulang ke tempat masing-masing melalui sungai Kriyan. Lawang sanga juga melambangkan sembilan lubang yang berada di badan manusia, lubang tersebut harus selalu dijaga agar tetap bersih.

BACA JUGA:   Ini Profesi LT, Terduga Teroris yang Ditangkap di Panembahan Cirebon

Satu tahun sekali tepatnya tanggal satu Muharram atau satu Asyura di tahun baru Islam, Lawang Sanga itu akan dibuka, dengan mengadakan babarik (tahlilan atau syukuran).

“Setelah Keraton Kesepuhan membuat bubur syura kemudian dibagikan ke keramat-keramat, baru Lawang Sanga dibuka dari pukul 17.00 hingga ba’da Isya menggelar babarik (tawasul) lalu ditutup kembali. Dan pintu ini tidak akan dibuka lagi pada bulan asyura tahun yang akan datang. Meskipun ada pendatang atau presiden sekalipun tidak akan dibuka, karena sudah ada ketentuannya, saya juga sebagai juru kuncen tidak bisa masuk,” tuturnya. (Putri Murni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed