Citrust.id – Harga emas berjangka tengah menjadi perhatian pelaku pasar setelah mengalami koreksi dari level tertinggi yang sempat dicapai dalam beberapa waktu terakhir. Kendati demikian, kondisi tersebut dinilai belum menjadi sinyal berakhirnya tren penguatan emas, melainkan fase konsolidasi yang wajar setelah reli panjang yang terjadi sebelumnya.
Analis sekaligus Kepala Cabang PT Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman, mengatakan koreksi yang terjadi saat ini merupakan bagian normal dari dinamika pasar. Menurutnya, tidak ada instrumen investasi yang dapat terus bergerak naik tanpa mengalami jeda maupun penyesuaian harga.
“Menurut saya, koreksi yang terjadi setelah emas mencetak level tertinggi merupakan sesuatu yang wajar. Dalam market, tidak ada instrumen yang naik terus tanpa jeda, termasuk emas. Setelah rally cukup agresif, pasar biasanya membutuhkan fase konsolidasi karena ada aksi ambil untung dari investor yang sudah masuk lebih awal,” ujar Ernest Firman, Rabu (24/6/2026).
Meski mengalami tekanan jual, Ernest menilai karakter pergerakan emas berjangka masih menunjukkan kekuatan yang cukup baik. Hal tersebut terlihat dari minat beli investor yang dinilai masih bertahan di tengah volatilitas pasar.
“Yang menarik, meskipun terkoreksi, emas berjangka sejauh ini masih menunjukkan karakter yang cukup kuat. Artinya, tekanan jual memang ada, tetapi minat beli juga belum hilang. Dari kacamata kami di EWF Cirebon, kondisi ini menunjukkan market sedang mencari keseimbangan baru sebelum menentukan arah berikutnya,” katanya.
Menurut Ernest, terdapat tiga faktor utama yang menjadi perhatian para pelaku pasar dalam beberapa pekan terakhir. Faktor pertama adalah ekspektasi kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed. Faktor kedua adalah pergerakan dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Adapun faktor ketiga adalah perkembangan situasi geopolitik global yang terus memengaruhi sentimen investor.
“Tiga faktor tersebut menjadi pusat perhatian trader saat ini. Di market emas, faktor-faktor itu saling tarik-menarik sehingga pergerakan harga terlihat sangat responsif terhadap data ekonomi maupun berbagai perkembangan global,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ernest menilai koreksi yang sedang berlangsung masih tergolong sebagai koreksi sehat dan belum mengindikasikan perubahan tren jangka panjang.
“Secara struktur, faktor fundamental yang mendukung emas masih ada, mulai dari ketidakpastian global, kekhawatiran fiskal, hingga permintaan aset safe haven. Biasanya perubahan tren baru lebih valid apabila terjadi penembusan level support penting yang disertai perubahan sentimen fundamental secara jelas. Jadi menurut saya, market saat ini lebih ke fase cooling down, bukan pembalikan arah total,” jelasnya.
Dari sisi teknikal, ia mencermati adanya potensi tekanan harga menuju area support psikologis. Berdasarkan analisis indikator Stochastic Oscillator, harga emas berjangka berpeluang bergerak ke level 4.000 dollar AS per troy ounce.
Menurut Ernest, apabila tekanan jual berlanjut, area 3.800 dollar AS per troy ounce dapat menjadi level support berikutnya yang menarik untuk akumulasi investasi jangka panjang.
“Saat ini teknikal emas hampir berada dalam zona jenuh jual sehingga level support menjadi harga yang menarik untuk pengambilan posisi beli. Sedangkan level resistance terdekat berada di kisaran 4.400 dollar AS dan 4.600 dollar AS per troy ounce,” ungkapnya.
Di tengah koreksi yang terjadi, Ernest melihat peluang emas berjangka mencetak rekor tertinggi baru hingga akhir tahun masih terbuka. Menurutnya, selama ketidakpastian global belum mereda, emas akan tetap menjadi salah satu aset yang diminati investor sebagai instrumen lindung nilai.
“Apalagi jika The Fed mulai mengambil sikap yang lebih dovish atau terjadi eskalasi risiko geopolitik baru. Sentimen terhadap emas bisa kembali sangat bullish. Namun perjalanan menuju rekor baru tidak akan lurus karena kemungkinan besar akan diselingi fase koreksi dan konsolidasi yang cukup tajam,” katanya.
Ia menambahkan, investor perlu mencermati sejumlah indikator penting dalam beberapa bulan ke depan, seperti kebijakan dan pernyataan pejabat The Fed, data inflasi Amerika Serikat, pergerakan dolar AS, serta perkembangan geopolitik dunia.
“Di EWF Cirebon, kami selalu menekankan bahwa trader atau investor yang baik bukan hanya melihat chart, tetapi juga memahami konteks fundamental di balik pergerakan harga. Karena market hari ini bergerak bukan cuma karena teknikal, tetapi juga karena ekspektasi,” tutur Ernest.
Terkait kekhawatiran sebagian investor terhadap koreksi harga emas berjangka, Ernest mengimbau agar pelaku pasar tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan kepanikan sesaat.
“Jangan panik hanya karena koreksi. Saat banyak orang ketakutan terhadap koreksi di pasar, saat itulah peluang yang sering dimanfaatkan trader berpengalaman untuk mendapatkan keuntungan. Dalam perdagangan berjangka komoditas, trader juga dapat mengambil peluang keuntungan ketika market bergerak turun,” ujarnya.
Menurut Ernest, edukasi mengenai manajemen risiko dan pemahaman pasar menjadi salah satu hal yang terus ditekankan EWF Cirebon kepada para nasabah dan calon investor agar mampu mengambil keputusan investasi secara lebih terukur.
Mengenai prospek hingga akhir tahun, Ernest mengaku tetap optimistis terhadap kinerja emas berjangka. Pengalaman selama lebih dari dua dekade di industri perdagangan berjangka komoditas menunjukkan bahwa emas memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi global.
“Contoh paling jelas adalah saat pandemi Covid-19 melanda dunia dan membuat perekonomian global lumpuh. Banyak instrumen investasi membutuhkan waktu panjang untuk kembali ke level normal, tetapi harga emas justru mampu mencetak rekor tertinggi baru setelah pandemi. Dari pengalaman saya selama 21 tahun di industri perdagangan berjangka komoditas, saya melihat performa pasar emas belum pernah mengecewakan,” pungkasnya. (Haris)













