Ekonomi Indonesia Tumbuh, tetapi Apakah Benar-Benar Maju?

 

Dr. Nita Hernita, S.E., M.M.
(Pakar Ekonomi dari Universitas Majalengka)

 

Citrust.id – Ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan pada 2026, tetapi capaian tersebut belum otomatis menggambarkan peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 dan mencapai 5,45 persen sepanjang semester I 2026.

Indikator makroekonomi lainnya juga menunjukkan kondisi yang relatif terjaga. Tingkat kemiskinan tercatat 8,07 persen, pengangguran 4,65 persen, sedangkan inflasi pada Juli 2026 berada di angka 2,88 persen.

Data tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia belum berada dalam kondisi resesi. Namun, angka pertumbuhan tersebut belum cukup untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apakah pertumbuhan ekonomi sudah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Pembacaan terhadap kondisi ekonomi Indonesia perlu melihat lebih dari sekadar pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Persoalan yang muncul bukan hanya mengenai ada atau tidaknya pertumbuhan, melainkan juga menyangkut kualitas, struktur, serta distribusi pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan lebih dari lima persen setiap tahun, menurut narasi yang disampaikan, belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa masyarakat mengalami peningkatan taraf hidup.

Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah kondisi kelas menengah. Jumlah kelompok masyarakat tersebut disebut menurun dari sekitar 60 juta orang pada 2018 menjadi sekitar 52 juta orang pada 2023.

Penyusutan kelas menengah menjadi persoalan penting karena kelompok ini memiliki peran besar dalam aktivitas ekonomi. Selain memiliki daya konsumsi, kelas menengah mencakup pelaku usaha dan tenaga profesional serta menjadi bagian dari kelompok yang mendorong produktivitas dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya persoalan ketika pertumbuhan ekonomi tidak diikuti dengan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan posisi ekonominya. Pertumbuhan PDB dapat tetap berlangsung, sementara mobilitas ekonomi sebagian masyarakat berjalan lebih lambat.

BACA JUGA:  Kewarganegaraan Global di Indonesia: Hentikan Drama, Fokus pada Hasil Nyata

Persoalan lainnya berkaitan dengan masih besarnya pekerjaan informal dan sektor dengan produktivitas rendah. Situasi itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum selalu berjalan seiring dengan bertambahnya lapangan pekerjaan yang mampu memberikan peningkatan taraf hidup secara signifikan.

Seseorang dapat memiliki pekerjaan, tetapi pekerjaan tersebut belum tentu memberikan produktivitas dan penghasilan yang cukup untuk mendorong peningkatan kesejahteraan. Di sinilah pertumbuhan ekonomi perlu dibedakan dari transformasi ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi pada dasarnya menunjukkan peningkatan ukuran perekonomian. Sementara itu, transformasi ekonomi berkaitan dengan perubahan struktur menuju kegiatan ekonomi yang lebih produktif, industri bernilai tambah, pekerjaan formal yang layak, serta penguatan kelompok masyarakat yang mampu naik kelas secara ekonomi.

Karena itu, penilaian terhadap ekonomi Indonesia tidak cukup hanya dengan membandingkan angka pertumbuhan antartriwulan. Perlu dilihat pula sumber pertumbuhan dan kelompok masyarakat yang memperoleh manfaat dari pertumbuhan tersebut.

Sejumlah pertanyaan menjadi penting, mulai dari kemampuan pertumbuhan menciptakan pekerjaan produktif, perkembangan upah riil, kekuatan industri nasional, peningkatan produktivitas tenaga kerja, hingga kemungkinan bertambah atau menyusutnya kelas menengah.

Selain itu, persoalan ketimpangan dan risiko terjebak dalam kategori negara berpendapatan menengah atau middle-income trap juga menjadi bagian dari tantangan yang perlu diperhatikan.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa ekonomi Indonesia secara keseluruhan sedang mengalami kemunduran. Data makroekonomi terbaru justru menunjukkan perekonomian masih tumbuh, tingkat kemiskinan berada di angka 8,07 persen, pengangguran 4,65 persen, dan inflasi 2,88 persen pada Juli 2026.

Di sisi lain, kondisi makro yang relatif terjaga juga tidak berarti persoalan struktural dapat diabaikan. Pertumbuhan yang tidak cukup membuka mobilitas sosial berpotensi menciptakan jarak antara peningkatan ukuran ekonomi dan pengalaman masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA:  Xiangqi

Perbedaan itu dapat terlihat ketika biaya hidup dirasakan semakin berat, daya beli tertekan, pekerjaan berkualitas sulit diperoleh, dan kesempatan untuk meningkatkan posisi ekonomi menjadi semakin terbatas.

Dengan demikian, tantangan ekonomi Indonesia bukan semata-mata menjaga agar pertumbuhan tetap berada di atas lima persen. Yang tidak kalah penting adalah memastikan pertumbuhan tersebut menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi perlu mampu memperluas kesempatan kerja produktif, meningkatkan upah riil, memperkuat industri nasional, menghasilkan nilai tambah, memperbesar kembali kelas menengah, serta meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Jika berbagai hal tersebut tercapai, pertumbuhan ekonomi tidak hanya berhenti sebagai angka statistik, tetapi dapat menjadi bagian dari proses peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sebaliknya, apabila pertumbuhan terus berlangsung sementara kelas menengah menyusut, pekerjaan dengan produktivitas rendah masih mendominasi, peningkatan upah riil tidak berarti, dan perubahan struktur industri berjalan lambat, kekhawatiran mengenai persoalan struktural ekonomi Indonesia tetap relevan.

Karena itu, kondisi ekonomi Indonesia tidak harus dilihat secara hitam putih antara kelompok yang menilai perekonomian baik dan pihak yang melihat adanya kemunduran. Kedua pandangan tersebut dapat memiliki dasar jika menggunakan ukuran yang berbeda.

Secara makro, ekonomi Indonesia masih tumbuh. Namun, dari sisi struktur ekonomi, masih terdapat pekerjaan rumah yang serius untuk memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar PDB bertambah. Ukuran yang tidak kalah penting adalah seberapa banyak masyarakat yang mampu merasakan hasil pertumbuhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ekonomi yang maju bukan sekadar ekonomi yang tumbuh. Kemajuan ekonomi juga tercermin dari kemampuan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup dan naik kelas secara berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *