oleh

Konghucu dan Ajarannya

Oleh Jeremy Huang

Klenteng Talang Cirebon adalah Lithang yang menjadi tempat ibadah dan belajar umat Konghucu. Tiap peringatan ce it dan cap go, mereka sembahyang dan melakukan kebaktian umat Konghucu pada bulan tersebut. Ce it sendiri diperingati tiap tanggal satu pada penanggalan Imlek Tiongkok dan cap go tiap tanggal lima belas pada penanggalan Imlek Tiongkok.

Sebagai informasi, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Cirebon bernama Teddy Kong Giok dan wakilnya, Sucipto Chandra.  Pengurus Pusat Agama Kong Hu Cu ialah MATAKIN yang merupakan kependekan dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia yang diketuai oleh Uung Sendana.

Seperti diketahui, pada tahun 1967 agama Konghucu tidak diakui di Indonesia. Agama Konghucu baru ditetapkan sebagai agama keenam di Indonesia pada zaman Presiden Gus Dur. Berkat Gus Dur, penganut agama Konghucu dapat bebas menjalankan ibadahnya.

Di masa pemerintahan Presiden SBY, pelajar yang memeluk agama Konghucu dapat mempelajari agama tersebut di sekolah. Para penganut agama Konghucu pun dapat menuliskan agamanya pada KTP dan kartu catatan sipil lainnya. Tak hanya itu, Presiden SBY juga selalu hadir dalam setiap peringatan Imlek oleh MATAKIN Jakarta, bahkan sejak SBY masih menjadi menteri dan belum menjabat sebagai presiden.

Uung Sendana, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) mengatakan bahwa Konfusius adalah nama lain dari Konghucu. Konfusius lahir pada  27 Ba Yue, 551 SM di Negeri Lu (sekarang Provinsi Shan Dong), Kota Zou Yi. Tepatnya di Desa Chang Ping di Lembah Kong Song. Konfusius kemudian wafat pada 18 Er Yue 479 SM di Negeri Lu dan dimakamkan di QuFu.

Halaman 61 buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan Cina Klasik karangan Michael C. Tang yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama mengisahkan Konfusius (Konghucu) adalah seorang anak yang penuh cinta. Ayahnya meninggal ketika dia berusia tiga tahun, dan ibunya meninggal ketika ia berusia tujuh belas tahun.

Sesuai dengan peraturan pada saat itu, orang mengubur jenazah ayah dan ibu mereka dalam satu peti. Tetapi Konfusius tidak dapat melakukannya, karena ia tidak dapat menemukan kuburan ayahnya. Ia bahkan tidak mengetahui siapa ayahnya, karena ibu Konfusius tidak pernah memberitahunya. Konfusius kemudian membawa peti mati ibunya dan meletakkannya di persimpangan jalan yang menuju ke desanya. Ia berdiri disana, bertanya kepada setiap orang yang lewat tentang almarhum ayahnya. Akhirnya, seorang wanita tua yang baik hati mengajaknya ke kuburan ayahnya. Pada saat itu, untuk pertama kalinya Konfusius mendengar cerita tentang ayahnya.

BACA JUGA:   Beredar Proposal yang Mencatut PWI Jabar

Ayah Konfusius adalah anggota keluarga Ningrat Kuno dan seorang tentara terkenal di Negeri Lu. Pada usia tujuh belas tahun, ayahnya jatuh cinta kepada anak gadis petani, yang juga berusia sama. Pada tahun 551 SM, seorang anak lahir dari hubungan ini. Anak itu di beri nama Qiu yang diambil dari Gunung Ni Qiu.
Konfusius bukanlah nama yang sebenarnya, melainkan latinisasi dari “Konfuzi” yang berarti “Tuan Kong” yang merupakan sebuah titel atas kebaikannya. Sebutan tersebut diberikan kepadanya bertahun-tahun kemudian, karena marganya adalah Kong. Meski memiliki tinggi hampir dua meter dan tubuh yang sangat kuat, Konfusius tidak ingin mengukuti jejak ayahnya menjadi seorang prajurit, sekalipun prajurit merupakan pekerjaan yang paling bergengsi saat itu.

Konfusius tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi ia hobi membaca buku, terutama buku mengenai raja-raja dari masa lampau yang tidak memerintah dengan kekerasan, melainkan dengan kebijaksanaan.

Mengutip dari buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik karangan Michael C. Tang halaman 66, Konfusius mendapatkan pekerjaannya yang pertama sebagai penjaga lumbung seorang bangsawan setempat saat masih muda. Setelah beberapa saat, ia ditunjuk sebagai pengawas di Departemen Pertanahan dan Panen, dan kemudian menjadi pengawas di berbagai kantor pemerintahan di Negeri Lu.

Konfusius mulai mengajar pada waktu senggangnya ketika berusia hampir tiga puluh tahun. Bukan hanya pengetahuan dan keahlian yang ia ajarkan, tetapi juga bagaimana cara mengasah pikiran dan memperoleh integritas. Konfusius tidak mengikuti monopoli pendidikan yang hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan pada waktu itu. Murid Murid Konfusius berasal dari berbagai kalangan. Tua atau muda, kaya dan miskin berkumpul di sekitarnya. Konfusius memiliki lebih dari tiga puluh ribu murid, tujuh puluh dua orang di antara mereka adalah teman baiknya.

BACA JUGA:   NU Majalengka Gelar Bakti Sosial Peringati Hari Santri

Penanggalan awal Tahun Baru Imlek berdasarkan musim semi adalah usulan Konghucu (Konfusius) kepada Kaisar Huang Di yang akhirnya menetapkan awal Tahun Baru Imlek berdasarkan awal musim semi.

Konfusius mengajarkan pria sejati haruslah rendah hati, murah hati berwawasan luas dan baik hati. Konfusius juga mengajarkan seorang pria sejati harus mengerti apa yang adil dan benar; pria sejati menolong sesamanya, menyadari potensi mereka dan tidak mengikuti temannya berbuat jahat. Seorang pria sejati khawatir tentang ketidakmampuannya, bukan tentang orang lain menghargai kemampuannya atau tidak. Tujuan utama Konfusius mendidik murid-murid prianya adalah untuk menjadi seorang pria sejati dengan pengetahuan dan moral yang berkualitas tinggi.

Dalam buku Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara halaman 40, menuliskan bahwa Konfisius mengajarkan :

1. Li (Ritual). Li dalam Bahasa Mandarin bermakna ritual, ritus upacara tata krama. Konfusius dan murid-muridnya mentransformasi praktek-praktek keagamaan Dinasti Shang dan Dinasti Zhou menjadi sebuah doktrin sistematis.

2. Ren (kebaikan). Konfusius menekankan pendidikan sebagai alat untuk membentuk karakter pribadi sebagaimana halnya proses yang membawa kedamaian dan harmoni dalam masyarakat dan dunia hasil akhirnya adalah seseorang yang memiliki kearifan (de). Kearifan yang terpenting menurut Konghucu adalah ren yang berarti kebajikan, kemanusiaan, cinta kasih dan lain-lain. Orang yang memiliki ren akan cinta dan ramah kepada orang lain. Peduli kepada orang lain (Zhong), tenggang rasa (shu), dan kebajikan (yi). Konghucu mengajarkan untuk peduli kepada orang lain dan tenggang rasa.

Itulah sekelumit kisah hidup Konfusius (Konghucu) dan ajarannya. Menurut Teddy, ketua MAKIN Cirebon, penganut agama Konghucu di Cirebon sebanyak 75-150 orang. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed