oleh

Klenteng Talang Cirebon, Satu Dari Dua Empat Ibadah Konghucu di Pulau Jawa

CIREBON (CT) – Minoritas, iya, itulah predikat penganut agama Konghucu d‎i Kota Cirebon. Namun dibalik itu semua, kesatuan mereka sangat kuat, dan yang lebih penting lagi, toleransi penganut agama yang berasal dari Tiongkok itu sangat tinggi, sampai-sampai mereka memberikan kebebasan kepada keluarga mereka, dalam menganut sebuah keyakinan.

Selain itu, mereka juga sangat menghargai dan menghormati setiap tamu yang datang di tempat ibadah mereka. Hal itu dirasakan betul, saat tim Cirebontrust.com berkunjung di Klenteng Talang yang beralamat di Jalan Talang, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon‎.

Mereka dengan hangat, menjamu rombongan CT bersama dua budayawan ternama Kota Cirebon, yakni Noerdin M Noer dan Jeremy Huang. Dalam kesempatan itu, kita pun berbincang dengan beberapa pengurus klenteng yang dulunya sebuah bangunan masjid pertama di Cirebon.

Mereka dengan hangat bercerita tentang sejarah berdirinya klenteng tersebut, hingga tata cara beribadah mereka, yang memang belum diketahui oleh khalayak.

‎”Dulunya klenteng ini adalah masjid yang dibangun oleh kaum muslim bermadzhab Suni Hanafi, pada awal 1400, sebelum masa islam Pangeran Cakrabuana. Dan setelah Cakrabuana datang dan membangun Masjid Pejagrahan, yang saat ini berlokasi di Jalan Mayor Sastra Atmaja. Masjid ini kemudian diserahkan pada umat Konghucu, dan dijadikan klenteng,” ungkap Noerdin M Noer, Budayawan Cirebon.

Memang, selain sebagai tempat ibadah penganut Konghucu, klenteng yang memiliki arsitektur yang sangat khas, dengan dominasi warna merah ‎itu, menjadi destinasi tempat wisata bersejarah di Kota Cirebon.

Pasalnya, klenteng tersebut adalah satu dari dua tempat ibadah Konghucu yang ada di Pulau Jawa, dan sudah dijadikan situs bersejarah oleh Pemerintah Kota Cirebon. (Riky Sonia)

BACA JUGA:   Milna Peduli Kebutuhan Gizi Balita Indonesia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed