oleh

Kaleidoskop Rupiah 2014: Tahun Politik, Tahun Rupiah Bergejolak

CIREBON (CT) – Tahun 2014 memang cocok jika dibilang sebagai tahun politik, bagaimana tidak, puncak pesta demokrasi Indonesia berada di tahun ini. Tentu, politik juga menjadi salah satu unsur naik atau turunnya nilai tukar mata uang kita, Rupiah (IDR).

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa nilai tukar mata uang (Kurs) suatu negara, selalu dijadikan patokan seberapa jauh perkembangan ekonomi negara tersebut. Kurs selalu menjadi tolak ukur seberapa jauh suatu negara mempertahankan fungsinya secara ekonomi terhadap dunia internasional. Singkatnya, Kurs adalah “peringkat” kemajuan ekonomi suatu negara di kancah internasional.

Tidak berlebihan memang jika kurs selalu dijadikan patokan perkembangan ekonomi suatu negara, karena penentuan kurs selalu merujuk kepada kemajuan investasi , yang mana berkriteriakan banyak aspek. Mulai dari politik, perdagangan yang berujung pada aktivitas ekspor-impor, hingga kebijakan fiskal yang diambil pemerintah dalam menanggulangi permasalahan ekonomi.

Pada 2014, faktor politik menjadi faktor yang berperan sangat signifikan dalam naik-turunnya kurs rupiah terhadap Dollar Amerika (USD) ataupun mata uang lainnya. Tahun politik yang datang di tahun 2014 tentu diikuti oleh intrik, isu, dan strategi politik yang bahkan bisa mengganggu stabilitas keamanan dan kelancaran ekonomi. Oleh karenannya, di tahun 2014 stabilitas kurs rupiah sangat bergantung kepada stabilitas politik di Indonesia.

“Memang isu internasional jadi topik utama yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, namun untuk sekarang, politik di Indonesia jauh lebih mempengaruhi stabilitas nilai rupiah terhadap dollar,” ujar Moh. Yudi Mahadianto selaku sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cirebon.

Pada dasarnya, fase gejolak politik yang mempengaruhi nilai rupiah pada tahun 2014 bisa dibagi menjadi 2 tahap. Tahap yang pertama fase sebelum pemilihan presiden dan fase kedua setelah pemilihan presiden.

Awal 2014, rupiah masih melempem diposisi kisaran 12.300-12.400 per USD, hal itu adalah efek dari mulai terungkapnya tersangka korupsi dari kabinet presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dari kasus hambalang yang menyeret mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora), Andi Malarangeng, hingga kasus korupsi migas yang menyeret mantan Menteri BUMN, Jero Wacik.

BACA JUGA:   Penjual Es yang Ditangkap Densus 88 Diduga Terlibat Jaringan JAD

Namun menjelang Februari hingga April 2014, rupiah terus mengalami peningkatan yang signifikan, bahkan kurs tengah Bank Indonesia mencatat angka tertinggi yaitu 11.200 per USD.

Naiknya nilai rupiah menjadi representatif bahwa masyarakat mulai menaruh harapan yang besar terhadap era yang baru. Seperti diketahui, periode Februari hingga April adalah periode pemilihan umum calon legislatif yang baru. Ekspektasi yang besar dari seluruh bangsa Indonesia menghasilkan stabilitas keamanan dan suhu politik yang meskipun menegang, namun tetap berjalan pada trek yang benar.

“Yang paling penting dari bisnis investasi adalah rasa aman, jika investor melihat suatu negara stabilitas politik dan masyarakatnya aman, maka, para investor dengan sendirinya akan berbondong-bondong untuk berinvestasi ke Indonesia. Banyaknya investasi dari luar negeri secara otomatis akan mendongkrak mata uang rupiah terhadap mata uang negara lain,” papar Yudi melanjutkan.

Namun pasca pemilihan pada 9 April 2014, suhu politik mulai memanas. Gonjang-ganjing tentang siapa presiden baru makin memanaskan situasi politik. Hingga akhirnya nilai rupiah pun makin melemah dan menembus angka 11.700-12.000 per USD pada periode Mei-Juni 2014.

Pada periode Juli-Agustus, perseturuan Jokowi-Prabowo yang pada saat itu bersaing mendapatkan kursi RI 1 mencapai klimaksnya. Saling sindir, adu intrik, hingga kecurangan pun menjalar hingga tingkat personal. Stabilitas keamanan dan suhu politik yang terus memanas, jelas sangat mempengaruhi nilai rupiah yang merosot hingga berada dikisaran 11.800-12.400.

Walaupun sempat naik pasca terpilihnya Jokowi menjadi Presiden, suhu politik rupanya terus memanas. Hasil quick count tandingan, dituntutnya KPU ke Mahkamah Konstitusi (MK) oleh kubu Prabowo, hingga saling sikut di pemilihan kursi DPR dan MPR. Pada tahap inilah rupiah mengalami pasang surut yang sangat sering.

“Coba bayangkan, ketika Jokowi terpilih, rupiah naik, kemudian kubu Prabowo menggugat ke MK, rupiah melemah lagi, Prabowo dan Jokowi bertemu, rupiah naik lagi hingga ketika DPR dan MPR dikuasai Koalisi Merah Putih (KMP) rupiah jeblok lagi. Betapa fluktuatifnya rupiah,” lanjut Yudi.

Pada periode September-Oktober, walaupun persaingan politik sedang memanas, hal yang lebih mempengaruhi rupiah adalah ada pada isu internasional, inilah isu internasional pertama yang “merobohkan” nilai rupiah pada 2014. Isunya tidaklah lain perihal Bank Sentral Amerika The Fed yang akan menaikan suku bungannya hingga satu persen. Hal ini akan membuat nilai tukar USD sebagai mata uang Amerika Serikat terus menguat, dan berdampak secara signifikan kepada mata uang lainnya.

BACA JUGA:   Polres Majalengka Adakan Diklat Patroli Keamanan Sekolah

“Semakin turunnya nilai rupiah, akan berdampak pada harga-harga barang, terutama hargar barang impor. Hal ini jelas bahaya, dengan penghasilan yang tetap, rakyat Indonesia akan terus tertekan dengan harga yang makin melambung tinggi,” ujar Aan Jaelani, selaku akademisi yang menjabat sebagai Ketua Jurusan Perbankan Syariah di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Meskipun setelah dilantiknya Presiden Indonesia ke-7, Joko Widodo Rupiah mengalami kenaikan signifikan, bahkan mengalami kenaikan yang paling digdaya diantara mata uang lainnya di Asia. Namun hal tersebut tidak bertahan lama. Periode November-Desember menjadi masa bobroknya nilai rupiah, bahkan rupiah sempat dikategorikan kedalam “5 besar uang sampahdi dunia” versi The Richest. Uang sampah sendiri adalah uang yang memiliki nilai yang sangat rendah terhadap mata uang lain.

Jebloknya nilai rupiah dimulai ketika presiden Joko Widodo secara tiba-tiba pada pertengahan November kemarin menaikan harga BBM bersubsidi, Rp. 2000 per liternya. Meski sempat naik, namun rupiah terus merosot seiring gelombang unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM silih berganti berdatangan.

Adanya ketegangan ekonomi di Jepang hingga menahan sejumlah produk ekspor Indonesia, serta keputusan Negara China yang memilih berhenti untuk melakukan impor dari Indonesia, membuat nilai rupiah terus merosot bahkan hingga menembus angka hampir 13.000 per dollarnya, dari hal tersebutlah, Rupiah sempat dijuluki sebagai “uang sampah” oleh berbagai kalangan di dunia.

Hingga pada akhirnya, tren pada akhir Desember ini yang menempatkan rupiah pada trek menanjak dan berada pada level 12.300-12.500 memberi harapan besar kedepannya, agar rupiah terus membaik, dan target dari Presiden Jokowi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh hingga 7% bisa terealisasi pada tahun-tahun berikutnya. (CT-125)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed