JKN Dampingi Ali Rohman Jalani Cuci Darah Sejak 2019

JKN Dampingi Ali Rohman Jalani Cuci Darah Sejak 2019
JKN dampingi Ali Rohman jalani cuci darah sejak 2019. (ist)

Citrust.id – Diagnosis gagal ginjal yang diterima Ali Rohman (35) pada 2019 mengubah seluruh kehidupannya. Pria peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah (PBPU BP Pemda) itu kini harus menjalani hemodialisis atau cuci darah dua kali setiap pekan untuk mempertahankan kondisi kesehatannya.

Perjalanan Ali menerima penyakit tersebut tidak berlangsung mudah. Berawal dari keluhan mual yang dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa, kondisinya justru semakin memburuk hingga mengharuskannya mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.

Saat ditemui seusai menjalani hemodialisis pada Selasa (6/10/2026), Ali menceritakan bahwa dirinya bersama keluarga sempat mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) di salah satu Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) di Kota Cirebon. Setelah menjalani pemeriksaan dan perawatan selama hampir satu minggu, dokter menyatakan dirinya mengalami gagal ginjal.

“Awal-awalnya tuh dikiranya penyakit biasa. Enggak tahunya setelah lama-lama semakin tidak nyaman, terus dicek ke rumah sakit, gagal ginjal ternyata,” ungkapnya menceritakan masa-masa awal penyakitnya.

Vonis tersebut menjadi pukulan berat bagi Ali. Sebelum sakit, ia terbiasa bekerja dan melakukan aktivitas yang membutuhkan tenaga fisik. Keharusan menjalani cuci darah secara rutin membuatnya harus menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh yang tidak lagi memungkinkan untuk beraktivitas seperti sebelumnya.

Bahkan, ketidaksiapannya menerima kenyataan membuat Ali sempat menghentikan pengobatan selama tiga bulan. Ia belum bisa membayangkan harus bergantung pada prosedur cuci darah sepanjang hidupnya.

“Karena saya belum siap, ya belum menerima lah, jadi saya menolak untuk cuci darah. Masih enggak mau gitu dengan proses cuci darah tuh karena seumur hidup kan,” tuturnya.

Namun, kondisi kesehatan yang terus menurun akhirnya membuat Ali kembali menjalani pengobatan. Sejak saat itu, hemodialisis menjadi bagian tetap dalam kehidupannya. Hampir tujuh tahun berlalu, ia kini menjalani prosedur tersebut setiap Selasa dan Jumat di sebuah rumah sakit di Kabupaten Cirebon.

BACA JUGA:  Suteja Bocah 11 Tahun Alami Syndrome Steven Jhonson

Di tengah keterbatasan fisiknya, Ali masih mengendarai sepeda motor sendiri ketika berangkat berobat. Sang ibu selalu mendampinginya dalam perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit menuju rumah sakit.

Bagi Ali, kehadiran ibunya memiliki arti penting dalam menghadapi pengobatan jangka panjang. Pendampingan tersebut menjadi sumber semangat untuk tetap menjalani terapi di tengah perubahan besar yang dialaminya sejak didiagnosis gagal ginjal.

Selama bertahun-tahun menjalani hemodialisis, Ali juga semakin mengenal tenaga medis yang menanganinya. Intensitas pertemuan dua kali dalam sepekan membuat hubungan dengan dokter dan perawat menjadi dekat sehingga ia merasa lebih nyaman ketika menjalani pengobatan.

Ia menilai pelayanan rumah sakit, termasuk penyediaan obat-obatan, berjalan dengan baik. Ali juga mengaku tidak pernah diminta membayar biaya tambahan untuk pelayanan maupun obat yang diterimanya.

“Kalau untuk pelayanan rumah sakit di sini sih bagus ya, nyaman. Terus kalau untuk obat-obatan juga cepat responsnya, enggak ada keterlambatan. Saya juga enggak pernah diminta tambahan biaya apapun untuk pelayanan dan obat yang saya peroleh,” katanya.

Selain pelayanan di rumah sakit, Ali memanfaatkan Aplikasi Mobile JKN untuk menunjang kebutuhan administrasi kesehatannya. Melalui aplikasi tersebut, ia dapat mengambil antrean dokter sekaligus mengecek status kepesertaan JKN.

Meski demikian, ia masih berharap pengurusan surat rujukan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) bisa dibuat lebih praktis. Menurutnya, kemudahan tersebut penting bagi pasien yang mengalami keterbatasan fisik sehingga kesulitan mendatangi fasilitas kesehatan secara langsung.

Setelah melewati masa sulit menerima diagnosis hingga terbiasa dengan jadwal cuci darah, Ali kini berusaha menjalani kehidupannya dengan lebih lapang. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa proses penerimaan penyakit membutuhkan waktu, terutama bagi pasien yang baru pertama kali menjalani hemodialisis.

BACA JUGA:  Soal Varian Omicron, dr Tirta: Hindari Panik tapi Tetap Waspada

Ia pun berpesan kepada pasien gagal ginjal lainnya agar tidak kehilangan semangat dalam menjalani pengobatan. Dukungan keluarga, menurutnya, menjadi salah satu hal penting yang membantu pasien bertahan menghadapi proses panjang tersebut.

“Untuk pasien-pasien baru, yang sabar. Semua juga butuh proses, apalagi awal-awal cuci darah kan pasti sulit buat menerimanya, jadi harus tetap semangat. Dukungan keluarga juga penting, karena adanya keluarga yang mendampingi, kita jadi punya semangat untuk terus menjalani pengobatan dan tidak mudah menyerah,” pesannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *