Citrust.id – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi penopang biaya pengobatan rutin bagi Warkina (61) dan suaminya. Hampir 10 tahun terdaftar sebagai peserta, ia merasakan langsung manfaat jaminan kesehatan tersebut, terutama ketika keduanya harus menjalani pemeriksaan dan pengobatan secara berkala.
Suami Warkina memanfaatkan JKN untuk menjalani perawatan di poli jantung karena penyakit yang dideritanya. Sementara Warkina sendiri sudah sekitar dua tahun menggunakan layanan tersebut untuk berkonsultasi dan berobat ke dokter spesialis saraf.
Kondisi itu membuat keberadaan JKN semakin berarti bagi keluarga mereka. Warkina tidak lagi harus mencemaskan besarnya pengeluaran untuk membiayai pengobatan setiap bulan.
“Saya dan suami rutin berobat, suami ke poli jantung dan saya ke poli saraf. Alhamdulillah adanya JKN ini sangat membantu karena kami jadi tidak khawatir memikirkan biaya berobat rutin yang dikeluarkan tiap bulannya,” lanjutnya, Kamis (10/9/2026).
Dalam menjalani pengobatan, Warkina juga merasakan proses pelayanan berjenjang melalui fasilitas kesehatan. Sebelum memperoleh rujukan ke rumah sakit, dokter di puskesmas terlebih dahulu memeriksa kondisinya untuk menentukan apakah penanganan lanjutan memang diperlukan.
Ia menilai prosedur tersebut berjalan tanpa hambatan. Ketika dokter memutuskan perlu pemeriksaan di rumah sakit, proses rujukan dapat dilaluinya dengan lancar.
“Yang saya tahu, kalau berobat rujukan itu sesuai kebutuhan medis ya, untuk itu saya memilih rumah sakit yang jaraknya dekat dari rumah sehingga tidak memerlukan biaya transportasi yang besar,” jelasnya.
Selain kemudahan akses pengobatan, sikap tenaga medis juga menjadi hal yang membuat Warkina nyaman selama menjalani perawatan. Menurut dia, dokter dan perawat melayani dengan ramah serta memberikan penjelasan ketika dirinya berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan.
Salah satu pengalaman yang masih diingatnya terjadi ketika ia hendak menjalani tindakan suntik. Saat itu, tekanan darahnya berada di kisaran 160 atau 180. Karena kondisinya belum memungkinkan, tindakan tersebut harus ditunda hingga tekanan darahnya lebih stabil.
“Pernah satu waktu saya perlu tindakan suntik, saat itu tensi saya sekitar 160 atau 180 saya lupa persisnya, karena tensi saya tinggi jadi tidak bisa disuntik. Jadi tensi saya harus stabil dulu sambil dijelaskan dengan baik oleh petugasnya,” ungkap Warkina.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya terhadap pentingnya perlindungan kesehatan. Saat menunggu pemeriksaan dokter dengan ditemani anaknya, Warkina menyampaikan apresiasi kepada BPJS Kesehatan atas kemudahan layanan yang dirasakan peserta JKN.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan status kepesertaan. Menurutnya, menjaga keaktifan JKN penting agar perlindungan kesehatan tetap tersedia ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Bagi Warkina, membayar iuran setiap bulan bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai peserta. Ia memandangnya sebagai bentuk gotong royong karena iuran yang dibayarkan juga menjadi bagian dari upaya saling membantu sesama peserta yang membutuhkan layanan kesehatan.
“Semoga semua masyarakat bisa saling bantu lewat rutin membayar iuran. Saya ikhlas membayar iuran karena pengennya sehat dan tidak ada kendala ketika membutuhkannya,” tutupnya.







