Satu Dekade Macan Ali, Rawat Budaya dan Persatuan Nusantara

Satu Dekade Macan Ali, Rawat Budaya dan Persatuan Nusantara
Satu dekade Macan Ali, rawat budaya dan persatuan nusantara. (ist)

Citrust.id – Laskar Agung Macan Ali Nuswantara memasuki satu dekade perjalanan organisasi dengan mengusung semangat pelestarian budaya, kepedulian sosial, dan persaudaraan lintas agama. Peringatan 10 tahun kebangkitan organisasi tersebut diisi berbagai kegiatan, mulai dari santunan sosial, ziarah, silaturahmi lintas iman, hingga pertunjukan kesenian tradisional Nusantara.

Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali, Prabu Diaz, menyebut usia satu dasawarsa menjadi momentum untuk mempertegas komitmen organisasi dalam menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

“Selama 10 tahun ini, kami terus menjaga adat istiadat budaya dan menjalankan marwah leluhur, termasuk toleransi dan kebersamaan,” ucapnya, Sabtu (31/10/2026).

Rangkaian peringatan tersebut telah dimulai sejak 15 hari sebelumnya. Macan Ali mengadakan sejumlah kegiatan sosial, di antaranya memberikan santunan kepada anak yatim, mengunjungi panti jompo, serta membagikan bingkisan kepada guru-guru mengaji di kawasan perbatasan Kota dan Kabupaten Cirebon.

Kegiatan juga mencakup ziarah ke makam para tokoh penyebar agama Islam. Selain itu, jajaran organisasi menjalin silaturahmi dengan pemuka berbagai agama dan kepercayaan, mulai dari Hindu, Katolik, Kristen, Buddha, Konghucu, hingga perwakilan masyarakat adat.

Prabu Diaz mengatakan, komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga persaudaraan. Meski demikian, tokoh-tokoh Muslim tetap mendapat prioritas dalam agenda silaturahmi organisasi.

“Kami ingin membangun silaturahmi dengan seluruh elemen masyarakat. Namun, tentu para tokoh Muslim tetap menjadi prioritas dalam rangkaian silaturahmi kami,” katanya.

Nuansa kebudayaan turut mewarnai perayaan tersebut melalui penampilan Debus, Barongan, Singa Reang, Tari Topeng, dan Jaipongan. Sejumlah kelompok kesenian dari luar daerah juga datang untuk meramaikan acara.

Kehadiran peserta mencerminkan jaringan Macan Ali yang tersebar di berbagai wilayah. Sebanyak 39 panglima dari sejumlah daerah di Indonesia tercatat hadir, bersama perwakilan padepokan, paguyuban, dan komunitas budaya, termasuk Forum Spiritual Indonesia, Sunda Wiwitan, serta Maung Bodas.

BACA JUGA:  Sensasi Steamboat Lezat dan Terjangkau dari BATIQA Hotel Cirebon

Dalam kesempatan itu, organisasi juga mengukuhkan sejumlah panglima baru dan menunjuk dua wakil panglima tinggi untuk mendukung pelaksanaan tugas organisasi di berbagai daerah.

Prabu Diaz menegaskan, kesamaan visi seluruh anggota menjadi landasan dalam menjalankan organisasi, baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri. Komitmen tersebut mencakup penjagaan kedaulatan NKRI, pengamalan semangat Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, serta pelestarian tradisi leluhur.

“Kami selalu mengedepankan silaturahmi dan kebersamaan karena memiliki komitmen yang sama untuk menjaga adat tradisi Nusantara. Komunikasi kami juga terjalin dengan masyarakat Dayak di Kalimantan, Nias, Bali, bahkan Papua,” ungkapnya.

Memasuki tahun ke-11, Macan Ali telah menyiapkan sejumlah agenda lanjutan. Salah satunya Kirab Agung Laskar Macan Ali yang direncanakan menempuh rute dari Sunda Kelapa menuju Alun-Alun Sangkala Buana Cirebon pada 1 hingga 14 Oktober.

Organisasi tersebut juga merancang kegiatan bertajuk Menjaga Tudong Internasional 2027. Agenda ini direncanakan melibatkan empat negara, yakni Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Adapun puncak peringatan satu dasawarsa akan diisi doa bersama lintas iman. Perwakilan setiap agama akan berdoa menurut keyakinan dan tradisi masing-masing demi keselamatan bangsa Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Macan Ali juga akan memberikan penghargaan kepada dua tokoh yang dinilai memiliki kontribusi terhadap perkembangan organisasi. Kedua tokoh tersebut berasal dari latar belakang agama berbeda, yakni Kristen dan Buddha.

Sejumlah pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dijadwalkan menghadiri acara puncak, di antaranya Wali Kota Cirebon, Kapolres, Dandim, Danlanal, dan Kajari.

Prabu Diaz berharap peringatan satu dekade ini menjadi penguat komitmen organisasi untuk terus menjaga persatuan, melestarikan adat istiadat, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.

“Kami mendoakan agar bangsa ini tetap terjaga dan kokoh, serta masyarakatnya segera bangkit secara ekonomi dan semakin sejahtera,” pungkasnya. (Haris)

BACA JUGA:  Tradisi Kupatan Masih Lestari di Cirebon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *