oleh

Ini Alasan Enam Orang Majalengka Pergi ke Kalimantan

MAJALENGKA (CT) – Sementara itu, Mukaya salah seorang eks Gafatar mengaku pindah ke Kalimantan ikut program mandiri ketahanan pangan, bukan ikut Gafatar karena Gafatar sudah dibubarkan sejak Agustus 2015 tahun lalu.

“Saya hanya ikut program tani mandiri ketahanan pangan, karena di sini tidak punya lahan dan di sana tidak pernah ikut kegiatan Gafatar, tidak diajak oleh siapa pun,” ungkap Mukaya di depan Bupati Majalengka dan Unsur Muspida, Senin (01/02) di Pendopo Kabupaten Majalengka.

Ia mengaku mengenal, Ahmad Musadeq cuma sebagai koordinator lahan dan tidak ada kegiatan lain, hanya khusus bertani. “Saya tetap sholat lima waktu dan sholat Jumat, tidak ada kegiatan berkelompok selain bertani,” ungkapnya.

Berbeda dengan pengakuan eks Gafatar lainnya, Muhamad Anwari yang mengaku memang dulu dirinya bersama keluarga masuk Gafatar pergi ke Kalimantan, tepatnya di Kecamatan Semintau, Kabupaten Kapuas untuk merantau dan disambut warga setempat dengan ramah.

“Disana penduduknya tidak hanya Muslim, namun Nasrani juga, Saya dikasih lahan 1 hektare baru dicangkul dan baru 2 bulan di Kalimantan. Namun akibat beberapa kejadian di Kabupaten tetangga, kami yang baru datang dievakuasi oleh Pemerintah kembali ke Majalengka,” ungkap Anwari.

Anwari mengungkapkan Ormas Gafatar mengedepankan misi sosial budaya dan menghidupkan nilai-nilai gotong-royong dan agama masing-masing, terserah individu karena ada Muslim dan Nasrani yang masuk anggota.

“Kita kesana untuk bertani dan diiming-imingi lahan kosong, saya diajak Pa Yatno orang Jogyakarta waktu kerja di proyek bangunan di Jakarta,” ungkapnya.

Anwari mengungkapkan di Kalimantan, dirinya bertani dan berdagang ketoprak selain membantu anggota lain membangun rumah dan pemukiman, karena keahliannya sebagai mantan tukang bangunan.

“Pernah ketemu Ahmad Musadeq dikasih motivasi-motivasi saja, tentang agar sukses dan lainnya. Kami anggota Gafatar ini beli tanah bersama dan digarap bersama sesuai keahlian, yang bisa tani ya bertani, jadi pedagang dan lainnya,” ungkapnya. (Abduh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed