oleh

Harkitnas sebagai Momentum Bangkitnya Dokter dalam Mengutamakan Pelayanan untuk Nusantara

Oleh Masludi Sopriyadi*

Apa yang kita ingat bahwa setiap tanggal 20 Mei Bangsa Indonesia memperingati hari apa? Setiap tanggal 20 Mei Bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Namun demikian banyak di antara kita yang tidak mengetahui latar belakang sejarah Hari kebangkitan nasional.

Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei, menjadi titik balik perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Sejak saat itu, para pemuda berkomitmen bersatu untuk melakukan perlawanan melalui pergerakan atau organisasi, sehingga tidak mengandalkan kekuatan fisik lagi.

Cikal bakal Boedi Oetomo sebagai pelopor organisasi pemuda di Tanah Air diawali oleh gagasan Dokter Wahidin Soedirohusodo mengenai studiefonds, atau dana pendidikan. Menurut dia, pendidikan bisa menjadi salah satu cara untuk melakukan perubahan dan meningkatkan kualitas hidup. Lulusan Sekolah Dokter Djawa itu pun berusaha agar jumlah anak pribumi yang mengikuti pendidikan terus bertambah.

Dokter Wahidin kemudian melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa untuk mengenalkan dana pendidikan. Kemudian, saat hendak menuju Banten pada Desember 1907, beliau singgah ke STOVIA. Gagasan Dokter Wahidin tentang dana pendidikan kemudian menarik perhatian beberapa pelajar di sana, yakni Soetomo dan Soeradji.

Kita dapat melihat bahwa kebangkitan nasional tersebut dimulai oleh sebuah inisiatif luhur dari seorang putra bangsa, Dr.Wahidin Sudirohusodo. Kebangkitan dimulai dari satu orang yang merasa tergerak oleh penderitaan bangsanya, yang tidak ingin berdiam diri melainkan rindu akan perubahan bagi bangsanya. Karena seringnya diperhadapkan pada penderitaan masyarakat, mata hati Dr. Wahidin Sudirohusodo terbuka.

Rasa cintanya kepada masyarakat Indonesia yang menderita ini membuatnya ingin bangkit melakukan sesuatu bagi mereka. Keingan Dr. Wahidin Sudirohusodo mendapat sambutan baik dari siswa Sekolah Dokter Jawa atau STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische/ sekolah untuk mendidik dokter-dokter pribumi) di Jakarta seperti Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Cipto Mangunkusumo, dan teman-teman lainnya.

Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908, Sutomo dan kawan-kawannya mendirikan suatu perkumpulan yang diberi nama Budi Utomo di Jakarta. Dimana nama Budi Utomo ini diambil dari dialog antara Soetomo dengan seniornya dr.Wahidin Sudirohusodo: menika satunggaling padamelan sae serta laku Budi utami (ini merupakan pekerjanan baik serta prilaku yang utama/ mulia).

Organisasi Budi Utomo dianggap sebagai organisasi modern pertama kali di Indonesia yang memberi arah baru dari perjuangan rakyat Indonesia pada saat itu. Bermula dari Budi Utomo inilah maka mulai bangkit organisasi-organisasi yang bergerak demi kepentingan nasional. Sehingga dapat dikatakan kebangkitan Indonesia waktu itu dicetuskan oleh berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Oleh sebab itulah hari Kebangkitan Nasional diperingati tiap tanggal 20 Mei.

BACA JUGA:   Generasi Muda Desa Jambar Adakan Tabligh Akbar dan Lomba Islami

Problematika Dokter Indonesia

Namun dalam kurun waktu seabad lebih sejak berdirinya Budi Utomo, citra dokter cenderung meredup. Hal ini bisa terjadi disebabkan beberapa hal, antara lain adalah, Pertama, belenggu struktural. Pemerintah hingga saat ini belum mampu memberikan Regulasi yang benar-benar tepat terhadap peran dan penempatan dokter yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dimana dari hampir 170 ribu dokter, baik itu dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi maupun dokter gigi spesialis lebih dari separuh nya justru ada di kota kota besar, dan hanya sedikit yang berada di daerah, termasuk juga masalah penempatan dokter intership perlu dikaji ulang.

Kedua, belenggu kultural. Di masyarakat profesi dokter dianggap posisi yang sangat terhormat dan strategis. Satu sisi ini sangat menguntungkan bagi para dokter yang memang ada panggilan nurani dalam menjalankan profesinya. Namun sangat beban bagi dokter yang kemudian berubah niat untuk meng-komersilkan profesinya.

Ketiga, belenggu pendidikan. Ada persoalan mendasar dalam sistem pendidikan kedokteran di Indonesia. Dimana kurikulum baru sebatas transfer of knowledge, belum sampai pada transfer of values. Pada akhirnya dokter itu akan terjun ke masyarakat bila telah selesai pendidikannya, namun bekal bagaimana berinteraksi dengan masyarakat secara luas sangat sedikit bekalnya. Kemampuan how to relation and manage community tidak ada sehingga banyak sekali kesalahan-kesalahan yang tidak perlu dilakukan oleh seorang dokter namun terjadi.

Keempat, belenggu ikatan profesi. Organisasi profesi sebesar IDI sudah sewajarnya dikelola secara professional karena memiliki tupoksi yang sangat strategis, untuk meningkatkan profesionalitas seorang dokter pasca selesai pendidikan di universitas. Namun IDI terjebak pada masalah rutinitas dan seremonial belaka, belum lagi ada tumpang tindih dengan organisasi lain dari profesi dokter namun bukan meningkatkan profesionalitas dokter, akan tetapi menambah birokrasi profesi dokter akibatnya high medical-economic. Sementara para anggota hanya merasa terbebani dengan iiuran anggota saja, namun tidak mendapatkan sesuatu kecuali surat izin praktek.

Kelima, belenggu budaya hedonis. Budaya hedonis dengan dahsyatnya menyerang semua orang termasuk profesi dokter. Dokter lebih memilih kepada tampilan luar dibandingkan dengan pesona pribadi yang kemudian memancar dalam pola pelayanannya. Mereka berlomba-lomba meningkatkan performa luarnya demi mengejar gengsi dan meningkatkan status di hadapan para koleganya. Akibatnya pelanggaran dalam etika profesi tak bisa dihindarkan. Hubungan pasien dan dokter hanya hubungan formalitas antara penerima dan pemberi jasa. Maka wajarlah bila terjadi eksplorasi profesi demi mendapatkan imbalan yang besar.

Hari Bakti Dokter Indonesia

Fakta sejarah di atas telah membuktikan bahwa dokter Indonesia telah menorehkan tinta emasnya dalam menentukan arah perjuangan dan pembangunan bangsa Indonesia. Maka pada peringatan seabad Hari Kebangkitan Kebangkitan Nasional, yaitu pada tanggal 20 Mei 2008 ditetapkan sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia.

BACA JUGA:   Monumen Mesin Mekanik Perawatan Jalan Rel Hiasi Kota Cirebon

Akan tetapi melalui momentum Hari kebangkitan Nasional, yang merupakan juga Hari Bakti Dokter Indonesia, maka dokter yang merupakan insan Aesculapius oleh pemerintah diberi amanah untuk mewujudkan Nawa Cita ke 5 yaitu memperbaiki kualitas rakyat Indonesia. Sebagai mana kita ketahui bahwa kualitas pembangunan suatu bangsa bisa dinilai melalui indikator Indeks Pembangunan Manusia yaitu Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi/ infrastruktur. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke 6 dari 10 negara asean dalam hal Indeks Pembangunan Manusia.

Dalam komponen pembangunan kesehatan tidak akan terlepas dari peran sentral para dokter. Pada dokter adalah intelektual yang dalam menjalankan profesinya langsung berhadapan atau berada di tengah masyarakat dibekali nilai profesi yang menjadi kompas dalam segala bidakannya. Nilai profesi itu antara lain adalah kemanusiaan (humanism), etika (ethics) dan kompetensi (competence). Itulah yang dilakukan dokter Wahidin dan para sejawatnya lebih dari seabad yang lalu jauh sebelum adanya rekomendasi WHO.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional yang juga merupakan Hari Bakti Dokter Indonesia menjadi penting bagi dokter Indonnesia untuk keluar dari belenggu yang mengikat, untuk mengambil peran dalam pembangunan sumber daya manusia. Sehingga ke depannya di era bonus demografi yang sedang kita jalani, Indonesia tidak hanya unggul dalam hal kuantitas masyarakatnya, tapi unggul dalam hal sumber daya manusianya. Karena pada dasarnya dokter selalu berpegang teguh pada filosofi ular dan tongkat. Dimana ular adalah hewan yang memiliki kemampuan untuk berganti kulit setelah periode waktu tertentu, dan hal ini sering dikaitkan dengan kehidupan/ kesembuhan yang baru”.

Bisa ular dapat berfungsi sebagai racun namun dapat juga berfungsi untuk mengobati, layaknya obat-obatan (farmako) pada saat ini juga dapat berfungsi untuk menyembuhkan penyakit namun dapat juga menjadi racun. Ular juga melambangkan sifat seorang dokter yang bekerja dengan kehidupan dan kematian. Dan mengapa tongkat juga dipilih sebagai simbol? Ada beberapa pendapat yang dikemukakan. Tongkat merupakan simbol kemandirian seorang Asclepius dalam bekerja dan mengobati. Tongkat juga bisa berarti penopang pada saat seseorang sedang menderita penyakit. Namun demikian, secara bersamaan ular dan tongkat merupakan lambang profesionalisme dan kemandirian seorang dokter.

*Dokter Muda RS Islam Sultan Agung Semarang dan Wakil Kepala Bidang Kesehatan GP ANSOR Indramayu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed