oleh

Guyub, Tradisi Unik Warga Sindangmekar Kab. Cirebon di Momen Lebaran

CIREBON (CT) – Lebaran hari ke dua masih digunakan warga untuk bersilaturahmi dan menyantap ketupat. Di Cirebon Jawa Barat, ada tradisi guyub yakni tradisi berkumpul bersama warga kampung. Selain tahlil bersama, warga juga berdoa mensyukuri atas nikmat bisa merasakan hari kemenangan. Tradisi guyub diakhiri makan bersama dengan menu opor dan ketupat, Kamis (07/07).

Ada kebiasaan turun temurun yang dilakukan warga blok Bunut Desa Sindangmekar, Kabupaten Cirebon. Setiap tahun di hari lebaran kedua, warga desa ini menggelar tradisi guyub. Seluruh warga berkumpul di musala setemat, untuk menggelar silaturrahmi, bersalam-salaman di hari fitri.

Warga juga menyiapkan menu makanan utama berupa opor ayam dan ketupat, yang disimpan di tengah acara. Setelah semuanya berkumpul, barulah tradisi guyub dimulai. Sesepuh warga kemudian memimpin acara tahlil dan doa untuk arwah keluarga dan leluhur yang sudah meninggal.

Bagi warga Bunut Sindangmekar, lebaran Idul Fitri selain merayakan hari kemenangan setelah sebulan berupasa, juga dijadikan momentum untuk mengingat keluarga mereka yang telah meninggal melalui tahlil. Doa juga dipanjatkan sebagai rasa syukur warga bisa merayakan hari kemenangan.

Usai doa, warga kemudian beramai-ramai menyantap hidangan opor ayam dan ketupat. Keakraban dan rasa kekeluargaan warga kampung ini bergitu terasa di hari raya. Ada juga warga yang memanfaatkan tradisi ini untuk berbagi rejeki dengan membagi-bagikan uang kepada anak-anak.

“Khususnya warga sekitar dalam rangka merayakan hari Idul Fitri dan biasanya juga Idul Adha setiap hari raya, acaranya habis duhur doa bersama untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal dan yang masih hidup agar bahagia dunia akhirat, terus makan-makan silaturahmi, tradisi tiap tahun, untuk keluarga dan tamu-tamu yang datang,” ujar salah seorang warga setempat, Ustaz Syafi’i.

BACA JUGA:   Hadir di Foodalicious, SamWon Express Luncurkan Menu Baru

Tradisi guyub ini, sudah dilakukan warga secara turun temurun. Tradisi ini sebagai bentuk solidaritas sesama muslim untuk saling berbagi dan mempererat tali silaturahim. Mereka berharap bisa kembali bertemu dengan Ramadan dan hari raya Idul Fitri berikutnya. (CT)

Komentar

News Feed