oleh

Gua Maria Sawer Rahmat Cisantana, Pilihan Umat Katolik Napak Tilas Perjalanan Yesus Kristus

CIREBON (CT) – Selain malakukan persiapan misa natal di gereja, sejumlah umat Kristiani mengisi waktu pasca perayaan natal mereka, dengan berziarah ke Gua Maria. Gua Maria Sawer Rahmat di Desa Cisantana Kabuapten Kuningan, menjadi pilihan umat Katolik untuk merasakan kekhusuan berdoa dihadapan patung Bunda Maria, yang terletak disebuah bukit alam pegunungan.

Selain merasakan kekhusuan berdoa, mereka juga menjadikan ziarah ini sebagai rekreasi alam. Gua maria adalah tempat ziarah khas umat katolik, yang kerap dikunjungi setiap usai perayaan natal maupun hari paskah. Tak hanya umat kristiani yang berasal dari Kuningan yang berziarah lokasi ini, tak sedikit pula mereka berasal dari luar daerah seperti Bandung, Cirebon, Ciamis dan Jakarta.

Untuk mencapai tempat peribadatan utama, para peziarah harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer. Dengan menaiki tangga batu para peziarah juga menyusuri lorong pepohonan rindang ditengah perbukitan lereng gunung Ciremai. Dengan membawa lilin, mereka melakukan perjalanan sambil menghirup udara pegunungan dan menikmati
indahnya alam.

“Kami sekeluarga menyengajakan diri datang kesini untuk menyepi dan berdoa agar khusuk. sekaligus ziarah dan wisata. Sengaja sebelum natal kesini, jadi betul-betul hening,” kat Devi, salah soerang peziarah yang datang dari Jakarta bersama keluarganya.

Umat katolik menyebut perjalanan menuju gua itu sebagai prosesi jalan salib. Mereka harus berhenti pada setiap tempat pemujaan di sepanjang jalan yang menanjak, untuk memanjatkan doa sebelum sampai ke gua maria. Perjalanan sambil mengucapkan doa itu dilakukan untuk mengingatkan umat katolik, tentang perjalanan Yesus Kristus memanggul salib menuju bukit Golgota atau bukit Kalvari.

Rimbunnya pohon dan semak di kiri dan kanan jalan, cukup membuat suasana teduh dan sejuk. Pada musim hujan, para pengunjung dapat melihat dan menikmati indahnya bunga-bunga hutan bermekaran suasana alami leren gunung Ciremai. “Jalan salib di sini terdapat 14 tempat perhentian. Iiap-tiap perhentian mengisahkan riwayat yesus, mulai dari ketika dia dijatuhi hukuman hingga ia dimakamkan,” kata Frater Evodius OSC, Frater Biarawan Order Salib Suci, disela-sela ziarah.

BACA JUGA:   Milenial Kuningan Gelorakan Persatuan dan Kesatuan

Pada tiap perhentian itu pula, dibangun altar yang digunakan umat untuk berdoa dan menyalakan lilin. Pada perhentian kedua belas, terdapat salib besar letaknya di bukit Totombok yang merupakan lambang ketika Yesus wafat di kayu salib. Salib ini juga merupakan tanda menancap dan mengakarnya iman umat katolik di tatar sunda. Setelah melalui 14 perhentian, tibalah umat di Gua Maria Fatima Sawer Rahmat.

Patung bunda maria berdiri tegak dan anggun pada sebuah gua yang di bawahnya mengalir air yang jernih. Air ini berasal dari sebuah air terjun yang berada di kaki sebelah selatan bukit, dan penduduk mengenalnya dengan curug sawer. Itu sebabnya gua ini disebut gua maria sawer rahmat.

Setiap malam jumat kliwon atau jumat agung pada bulan Mei dan Oktober, di gua maria ini berlangsung acara misa suci, dan ramai dikunjungi peziarah. Di sekitar Gua Maria Sawer Rahmat terdapat sebuah taman indah, yang dibentuk untuk menggambarkan taman Getsemani yang menurut kitab suci Kristen disitulah Yesus Kristus ditangkap untuk diadili sebelum disalib. (CT-105)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed