oleh

Disparbud akan Uji Publik Sejarah Hari Jadi Majalengka

Citrust.id – Dinas Parwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka segera melakukan uji publik terhadap hasil penelitian sejarah Majalengka pada tahun 2011, untuk menghilangkan polemik hari jadi Majalengka yang selama ini diperingati pada 7 Juni.

Hal tersebut disampaikan kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman, di sela haul bupati pertama Kabupaten Majalengka, Dendanegara, yang memerintah pada tahun 1819-1848 di komplek pemakaman Gunung Inten, Desa Gunungwangi, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Selasa (11/2)

“Kami akan berupaya memfasilitasi pelaksanaan uji publik dengan menghadirkan peneliti dan tokoh masyarakat, guru sejarah serta Grup Majalengka Baheula yang terus berupaya mengungkap sejumlah fakta terkait keberadaan Majalengka serta siapa yang memerintah saat itu terkait hari jadi,” ungkapnya.

Wakil Bupati Majalengka, Tarsono D Mardiana, megungkapkan, jika ditemukan fakta baru dan didukung data yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, peringatan hari jadi Kabupaten Majalengka 7 Juni bisa berubah, walaupun saat ini sudah ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah dan sudah puluhan tahun diperingati.

“Jika penelusuran sejarah sudah dilakukan dan telah dibahas oleh para ahli serta dilakukan uji publik yang melibatkan semua stakeholders serta datanya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, itu bisa diproses menjadi sebuah peraturan daerah. Sehingga perubahan peringatan hari jadi Kabupaten Majalengka bisa dilakukan, apalagi jika saat ini dianggap keliru oleh banyak pihak. Dalam aturan selalu ada kalimat tersakhir yang menyebutkan, jika di kemudian hari terdapat kekeliruan, maka bisa berubah. Apalagi Perda bisa berubah mengikuti perkembangan dan menyesuaikan dengan kondisi baru,” tutur Wabup Tarsono.

Sementara itu, Grup Majalengka Baheula serta tokoh masyarakat Desa Gunungwangi mendorong pemerintah untuk melakukan ziarah ke makam bupati pertama Majalengka saat acara peringatan hari hadi Majalengka. Terlebih saat ini telah diyakini bahwa bupati pertama adalah Dendanegara yang makam dan prasastinya jelas tertulis di batu nisan dengan tulisan hurif pegon berbahasa jawa kuno.

BACA JUGA:   Tidak Perlu Open Bidding Lagi, Cukup Uji Kompetensi untuk Cari Sekda Definitif

Menurut anggota Grumala Nana Rohmana, haul ini telah dua kali dilakukan Grumala bersama masyarakat setempat serta Dewam Kesenian Daerah Majalengka (Dekma) yang setiap acara membahas bukti-bukti sejarah yang mendukung kapan Majalengka ada dan siapa yang memerintahnya serta bagaimana prosesnya. Hadir pula pada acara tersebut keturunan keenam Raden Toemenggoeng Dendanegara, Fery Sayuti.

Keyakinan Dendanegara sebagai Bupati pertama itu setelah membaca tulisan yang tertera di pintu masuk dan batu nisan bersama penerjemah asal Indramayu, Tarka, serta peneliti asal Belanda pada 5 Januari 2019.

Sementara itu, Budayawan Majalengka, Rachmat Iskandar, memaparkan tiga hal yang menjadi rasa penasaran warnga setempat, yakni soal sebutan Depok Wijayakusumah karem di sana disebut Pemakaman Embah Wijayakusumah serta Dendadiningrat.

Menurutnya, kata depok serat harfiah adalah duduk antara sila dan emok. Jadi orang suda masa lalu padepokan itu sebuah sanggar silat atau penca. Di dalam penca sunda dikenal dengan jurus depok yaitu dari duduk ke berdiri sudah jadi kuda kuda. Kata depok itu berarti perguruan silat yang kemudian menadi padepokan.

Sedangkan wijayakusumaha alah sejenis bunga yang dipercayai kaum Uphanisada sebagai bunga yang mampu mengobati orang sakit, bahkan orang matipun konon bisa hidup kembali.

“Jadi diperkirakan padepokan wijayakusumah ini adalah perguruan silat dan yang mengajarkannya diknal dengan mana Raden Wijayakusmah. Itulah yang mungin menarik RT Dendanegara untuk dimakamkan di Padepokan Wijayakusumah.” Ungkapnya.

“Sedangkan RT Dedanegara adalah regent (bupati) pertama Kabupaten Majalengka yang diangkat gubernur Belanda saat itu, ” tukasnya. (Abduh)

Komentar

News Feed