oleh

Tolak Seismik, IMS Gandeng NGO Internasional

INDRAMAYU (CT) – Ikatan Masyarakat Segeran (IMS) mengadakan seminar lingkungan dengan tema “Memapah Kebersamaan Dalam Bingkai Perjuangan Lingkungan Berkeadilan” hal itu bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap masyrakat, terkait isu-isu lingkungan yang tidak berkeadilan dan juga pemahaman hukum terhadap kejahatan lingkungan, Minggu (29/05).

Kegiatan yang digelar di lapangan sepak bola Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, yang dihadiri oleh ratusan masyarakat dari dua desa, yakni Segeran Kidul, dan Segeran Lor itu, adalah bentuk perlawanan masyarakat setempat terhadap proyek Seismik yang dilakukan oleh Pertamina.

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, yakni 350 Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kemudian Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), dan Rakyat Penyelamat Lingkungan (Rapel).

‎Dalam pemaparannya, Direktur Eksekutif Rapel, Moh Aan Anwaruddin menjelaskan, dalam setiap pembangunan mega proyek bertaraf nasional, yang kaitannya dengan eksploitasi alam dan energi seperti Seismek, akan menyebabkan dan meninggalkan kerusakan yang luarbiasa, bukan hanya lingkungan, tapi juga ekonomi, sosial dan budaya masyarakat setempat.

“Pembangunan yang mengeksploitasi alam tidak ada manfaatnya sedikitpun. Yang ada, kita akan semakin sengsara, dan rusak. Contohnya PLTU di Cirebon. Semenjak adanya PLTU, mata pencaharian nelayan hilang, banyak terjadi kemaksiatan, dan lain sebagainya,” paparnya.

Lebih lanjut Aan ‎mengingatkan, masyarakat Segeran agar tetap menjaga wasiat para pendahulunya untuk tetap melawan dan menolak Seismik. Dia pun mengajak para tokoh nahdiyin agar bersikap dan ikut berjuang dengan masyarakat.

“Warga nahdiyin harus segera bersikap, terutama NU secara struktural, karena yang paling terdampak dari proyek-proyek pemerintah adalah warga nahdiyin. Temasuk juga Muhamadiah, Asyhadatain, dan lainnya. Bila perlu, kita gruduk mereka dan ajak mereka untuk ikut berjuang,” tegas Aan yang disambut sorak-sorai semangat dari masyarakat yang hadir.

BACA JUGA:   Pemda Kota Cirebon Raih Penghargaan Swasti Saba Wistara

Menambahkan, Bejo Kurniawan dari 350 Indonesia. Dia mengaku salut dengan perjuangan masyarakat Segeran, yang dari tahun 1980-an hingga saat ini masih konsisten dan komitmen menolak Seismik.

“‎Ini luarbiasa, perlawanan Seismik hingga menjadi wasiat anak cucu. Saya berharap agar pesan itu jangan sampai putus. Ceritakan terus kepada anak cucu, agar perjuangan yang dilakukan masyarakat Segeran saat ini tidak terputus,” ujarnya.

Sementara, ‎Haris Azhar, Koordinator KontraS, melalui sambungan skype mengatakan, pihaknya siap melakukan advokasi hukum bilamana terjadi intimidasi terhadap masyarakat Segeran. “Saya tunggu laporannya. Kita siap kawal,” singkatnya.

Perlu diketahui, ‎kegiatan survey Seismik yang pernah dilakukan pada tahun 1987 itu mengubah kesuburan tanah dua desa. Sehingga daerah yang dijuluki “Haji Jeruk” karena memang disitu adalah pusat penghasil jeruk di Indramayu, membuat tumbuhan  jeruk, dan juga tumbuhan perkebunan serta pertanian lainnya tidak produktif lagi, kering dan mati secara sistemik.

Kini, setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, kesuburan tanah di dua desa itu berangsur-angsur kembali pulih dan para petani sudah mulai menanam jeruk lagi. Tidak mau mengalami nasib yang sama, maka warga desa tersebut  menolak adanya survei sumur Seismik yang kembali dilakukan oleh pihak Pertamina melalui PT. Elnusa dengan nama proyeknya Seismik 3D Akasia Besar. (Riky Sonia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed