oleh

Si Kembar Yatim Piatu Pikul Tanggungjawab Beri Nafkah Empat Adiknya

Cirebontrust.com – Lima anak yatim piatu dari pasangan almarhum, Bambang dan almarhumah, Saijatun yang tinggal di sebuah rumah gubuk di bantaran sungai Desa Pilangsari, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon kondisinya cukup memprihatinkan.

Kehidupan sehari-hari yang mereka jalannya, mengharuskan diusia remaja dan masih anak-anak itu mencari uang sendiri untuk mencukupi kebutuhan makan mereka berlima, diketahui antara lain, dua bocah kembar bersaudara, yakni Miki (16) dan Diki (16) dan ketiga aadik kandungnya, Istifani (15), Nisa (11), Ipan (7) dan Rendi (5).

Sejak ditinggal oleh kedua orangtua yang meninggal dunia, keenam anak yatim piatu ini, mereka harus rela menetap di sebuah rumah yang kondisinya tidak layak huni. Pondasi rumah hanya setengah papan kayu dan kurangnya sirkulasi udara dan sinar matahari.

“Ayah kami sakit maag dan terkena stroke, hingga lumpuh dan akhirnya meninggal dunia tahun 2016 lalu. Ibu meninggal dunia saat melahirkan adik kami yang ke tujuh, Ibu meninggal bersama bayinya yang masih dalam kandungan saat melahirkan Mei 2017 lalu,” kata Miki saat ditemui di rumahnya.

Dikatakannya, agar dapat memenuhi kebutuhan ekonomi untuk dia dan adiknya, Miki (16) dan Diki (16) saudara kembar itu yang sebagai kakak tertua terpaksa menjadi buruh cuci motor dan mencari rongsokan.

Miki dan Diki pun mengakui, mereka berdua harus menghentikan masa masa pendidikannya di bangku sekolah hanya mencapai kelas 2 SMP, terpaksa keluar karena tidak ada biaya untuk sekolah mereka.

Dia mengaku sempat putusasa dengan keadaan yang mereka alami. Namun karena memiliki tanggungjawab untuk menghidupi kelima adiknya, dia tetap ikhlas menjalani semua kepahitan hidupnya.

Kesehariannya, mereka tidak seperti layaknya anak-anak sebaya mereka, yang bisa bermain dan tertawa bahagia. Keenam kakak beradik ini, hanya bisa membersihkan makam kedua orangtua mereka di setiap datangnya hari besar keagamaan misalnya hari raya.

BACA JUGA:   NU Majalengka Gelar Bakti Sosial Peringati Hari Santri

“Kami tidak berharap banyak, saat ini kami terus berusaha untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup kami dengan kerjaan yang kami lakukan. Kami tidak mau dianggap anak yang cengeng, maka sekuat tenaga kami terus berusaha,” tandasnya. (Johan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News Feed