oleh

Sebagai Pelopor KPR, BTN Terpacu Untuk Terus Maju

CIREBON (CT) – Mungkin banyak yang mengenal Bank Tabungan Negara atau biasa disebut BTN sebagai bank pelopor Kredit Pemilikan Rumah (KPR), tidak heran memang jika julukan tersebut menyemat di badan BTN, karena BTN memang sejak tahun 1976 telah mempelopori lahirnya realisasi KPR di Indonesia.

BTN sendiri adalah Badan Usaha Milik Negara yang berbentuk perseroan terbatas dan bergerak di bidang jasa keuangan perbankan.

Cikal bakal BTN dimulai dengan didirikannya Postspaarbank di Batavia pada tahun 1897. Pada tahun 1942, pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, bank ini dibekukan dan digantikan dengan Tyokin Kyoku. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia bank ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan diubah menjadi Kantor Tabungan Pos. Pemerintah berani mengambil tindakan untuk membukanya kembali dengan mengubah namanya menjadi Bank Tabungan Pos RI dengan tugas meneruskan fungsi dibentuknya KTP saat itu

Sebagai bentukan baru pemerintah Indonesia sendiri, Bank Tabungan Pos pada awal kegiatannya termasuk dalam lingkungan Kementerian Perhubungan saat itu. Tetapi kemudian dalam perjalanannya status kegiatannya beralih dibawah koordinasi pengawasan Departemen Keuangan dibawah Menteri Urusan Bank Sentral (sekarang disebut Bank Indonesia).

Dalam masa peralihan inilah tanpa disadari cikal bakal nama sebuah lembaga tabungan dengan nama Bank Tabungan Negara itu terbentuk. Awal dari keputusan untuk menentukan tanggal lahir dan nama menjadi BTN itu sebenarnya diilhami dari pendirian Bank Tabungan Pos itu sendiri. Para pemrakarsa lahirnya BTN saat itu telah menetapkan satu kebulatan tekad untuk meneruskan perjuangan pendirian BTN. Memang sejarah pendirian BTN tidak terlepas dari Bank Tabungan Pos yang mengilhami kelahirannya.

Bank Tabungan Pos yang saat itu kembali dibuka (sempat dibekukan) berdasarkan UU Darurat No 50 tahun 1950 tanggal 9 Februari 1950, telah mengilhami para pendiri BTN untuk menjadikan tanggal tersebut sebagai tanggal lahir BTN. Latar belakang dipilihnya tanggal tersebut sebagai tanggal lahir BTN tidak lain karena terdapatnya jiwa dan semangat keberanian dalam menentukan sikap pada kondisi yang tidak menentu pada saat itu. Karena pada tanggal tersebut diyakini memiliki semangat patriotisme, maka resmilah tanggal tersebut diangkat sebagai tanggal lahir BTN yang sekaligus mengganti nama Bank Tabungan Pos RI pada saat itu.

Menjelang jatuhnya Orde Lama, pemerintah pada saat itu sempat melakukan tindakan untuk menyatukan seluruh bank-bank pemerintah yang ada pada saat itu menjadi sebuah Bank Tunggal dengan nama masa itu Bank Negara Indonesia.

Tindak lanjut kemudian dari kebijakan pemerintah tersebut adalah dengan masa peralihan sebelum diintegrasikan pada bank-bank pemerintah yang ada (kecuali Bank Dagang Negara), maka masing-masing bank tersebut sempat dijadikan sebuah unit dari Bank Tunggal tersebut. Selanjutnya dalam perjalanannya Bank Tabungan Negara merupakan sebuah unit dari Bank Negara Indonesia, dimana saat itu Bank Tabungan Negara masuk kedalam Unit V.

Karena sebagai sebuah unit dari Bank Negara Indonesia, maka pada saat itu Bank Tabungan Negara sempat kehilangan kekuasaan dan wewenang. Hal ini patut dimaklumi karena Bank Tabungan Negara langsung ditempatkan dibawah kekuasaan urusan Bank Sentral masa itu, sementara Bank Tabungan Negara hanya dipimpin oleh seorang Direktur Koordinator yang notabene sangat sulit dalam pengembangannya.

Kebijakan pemerintah untuk menyatukan bank-bank pemerintah tadi kedalam sebuah Bank Tunggal yang akan diberi nama Bank Negara Indonesia tadi ternyata tidak berlangsung lama. Hal ini karena kekuasaan pada Orde Lama hanya berumur pendek. Dan dengan beralihnya kekuasaan kepada Orde Baru, maka prakarsa pembentukan Bank Tunggal tersebut dikembalikan sebagaimana sebelumnya dan diatur kembali secara lebih sehat.

Tahun 1976 sangat berarti bagi Bank Tabungan Negara. Pasalnya, tahun itu menandai realisasi KPR pertama kalinya di Indonesia. Realisasi KPR pertama tersebut adalah di Kota Semarang dengan sembilan unit rumah. Kemudian pada tahun yang sama menyusul di Kota Surabaya dengan delapan unit rumah sehingga total KPR yang berhasil direalisasikan BTN pada tahun 1976 adalah sejumlah 17 unit rumah dengan nilai kredit pada saat itu sebesar Rp 37 juta.

“Sukses realisasi KPR tahun 1976 inilah yang akhirnya membawa kesuksesan BTN dalam merealisasikan KPR pada tahun-tahun berikutnya. Kini, Bank Tabungan Negara dikenal masyarakat sebagai bank spesialis KPR,” ujar Deputi Branch Manager, Donnie Iskandar kepada CT. (CT-125)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed