oleh

PWI-Yasika Gagas Kaukus Wartawan dan Pengusaha Peduli Pendidikan

Citrust.id – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Yasika Majalengka dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Majalengka menggagas kaukus wartawan dan pengusaha peduli pendidikan.

Ketua STIKP Yasika, Arip Amin, megungkapkan, dewasa ini banyak persoalan pendidikan yang membentuhkan sentuhan lembut untuk mengatasinya.

“Dari data penelitiaan yang kami miliki, minat warga Majalengka mensekolahkan anaknya ke perguruan tinggi sangat rendah. Mereka lebih memilih bekerja,” ujarnya saat berdiskusi bersama para wartawan di sekretariat PWI Kabupaten Majalengka, Jalan Gerakan Koperasi Nomor 03, Jumat (25/01/2019).

Jika kondisi itu dibiarkan, lanjut mantan aktivis PKBI Cirebon itu, akan berdampak pada pengurangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas bagi generasi masa depan masyarakat Majalengka. Terlebih Kabupaten Majalengka sendiri tengah mengalami berbagai kemajuan baik pembangunan infrastruktur, banyaknya industri, beroperasi Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) dan pembangun fisik lainnya.

“Tapi meski rendah, ternyata ada fenomena menarik dari penelitiaan kami, yaitu masyarakat Majalengka akan kuliah ke perguruan tinggi jika ada kampus di Majalengka yang memiliki kualitas yang lebih baik,” ucapnya.

Persoalan menarik inilah, kata dia, diperlukan peran kerjasama semua pihak guna memberikan pencerahan kepada masyarakat akan pentingnya mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Peran media yang sangat strategis untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat agar mereka tergugah untuk melanjutkan sekolah anaknya setelah tamat di bangku SMA.

Masalah lainnya adalah minimnya anggaran pendidikan. Itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, tapi harus ada peran lain di antaranya pengusaha peduli pendidikan. Jika mengandalkan anggaran pemerintah daerah tentunya sangat terbatas.

“Bayangkan, kalau menurut UU itu anggaran pendidikan harus 20 persen. Tapi faktanya karena minimnya anggaran hanya bisa direalisasikan 14 persen. Ada kekosongan 6 persen yang tentunya harus diisi oleh pengusaha atau perusahaan yang memiliki kepeduliaan terhadap kemajuan dunia pendidikan. Seperti contohnya jika ada sekolah rusak, bisa dibangun dari pengusaha tersebut,” ucapnya.

BACA JUGA:   Pengusaha Kapal Keberatan Retribusi di TPI Kejawanan, DPRD Dorong Penyelesaian

Selain itu, kata pengurus Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) itu, dalam meningkatkan mutu SDM bagi para guru, terutama dalam pelatihan peningkatan kompetensi sangat rendah. Diperlukan sokongan dana yang besar untuk menutupi kekurangan tersebut.

“Mungkin karena ketersediaan anggaran yang minim dan kurangnya perhatian membuat anggaran untuk ini sangat terbatas,” ucapnya.

Dia berharap dengan terbentuknya kaukus wartawan dan pengusaha peduli wartawan mampu menjawab semua tantangan dan meminimilisir persoalan pendidikan yang terjadi dewasa ini.

“Saya harap media dalam memberitakan pendidikan tidak harus bad news is good news, tapi harus good news is good news. Dengan begitu akan memberikan nilai dan dampak yang sangat positif,”tukasnya.

Ketua PWI Kabupaten Majalengka Jejep Falahul Alam menyambut baik gagasan tersebut. Saat ini kinerja wartawan di Majalengka tidak ada yang fokus dalam menyikapi setiap persoalan. Dengan terbentuknya kaukus itu diharapkan dapat memberikan solusi cerdas serta memberikan kontribusi pemikiran terhadap pemerintah selaku pemangku kebijakan.

“Kami akan mendukung setiap langkah apapun, terlebih untuk kebaikan masyarakat sesuai dengan tupoksi kami sebagai media. Kami berharap pembentukan ini dapat direspons positif oleh lembaga terkait lainnya,” tukasnya. (Abduh)

Komentar

News Feed