oleh

Politik 2018-2019 : Sebuah Jalan Menuju Kekuasaan (5)

Oleh : Bintang Irianto

Dalam tulisan yang ke 4, telah dijelaskan beberapa nama yang akan maju pada Pilpres 2019 berkaitan dengan calon yang akan mendampingi Joko Widodo dan Prabowo Subiakto, dengan memunculkan beberapa nama yang memang mempunyai tingkat populeritas. Nama-nama tersebut melalui beberapa survey juga punya kapabelitas yang memadai untuk dijadikan pertimbangan dalam menganalisa kecocokan pasangan dan tentunya akan mengangkat penambahan partai pendukung di parlemen.

Namun Pada minggu ini muncul Survey di media online juga menjelaskan nama-nama yang muncul untuk mulai dipasangkan menjadi paslon (pasangan calon), dimana dari setiap survey nasional, penulis tidak melihat Capres selain Jokowi dan Prabowo. Artinya kemungkinan ada tokoh yang muncul dalam kebekuan pada dua nama itu sangat susah, atau boleh dikata selain kedua tokoh tersebut hanya berapa persen saja, hal ini didasari belum adanya seorang tokoh yang mempunyai keberanian untuk memecahkan kebekuan dua calon ini.

Lembaga Alvara telah melakukan survey pada tanggal 17 Januari – 7 Februari 2018 dengan melibatkan sebanyak 2.203 responden untuk siapa yang memang akan baik untuk mendampingi Jokowi dan Prabowo, dalam survey itu muncul beberapa nama yaitu Agus Harimurti Yudhoyono dengan prosentase 17,2 persen, Gatot Nurmantyo 15,2 persen, Jusuf Kalla 13,1 persen, Anis Bawesdan 9,3 persen dan Muhaimin Iskandar 8,9 persen. Sedangkan pasangan yang mendampingi Jokowi adalah Gatot Nurmantyo dengan prosentase 61,9 persen dan pendamping Prabowo adalah Anies Bawesdan sekitar 60 persen, dan para responden menginginkan untuk calon Wakil Presiden dari kalangan militer adalag 93,2 persen.

Pertanyaanya kemudian, mengapa dalam survey tersebut nama Agus Harimurti Yudhoyono dan Muhaimin Iskandar serta Jusuf Kalla tidak masuk dalam kriteria untuk pasangan calon yang akan mendapingi Jokowi atau Prabowo?. Kalau Jusuf Kalla memang dianggap tokoh lama,kemungkinan para responden menginginkan sesuatu yang baru atau kemudian melihat bahwa beliau merupakan tokoh yang tentunya tidak akan maju kembali dalam pentas Capres dan Cawapres 2019, lantas bagaimana dengan Ketua PKB dan Pangeran Partai Demokrat ini, akankah berpasangan sendiri atau memang sedang mencoba mendongkrak populeritasnya untuk bisa masuk kedalam penjaringan untuk mendampingi Jokowi atau Prabowo ?.

BACA JUGA:   Komisi II DPRD Kota Cirebon Pertanyakan Konsep Cirebon Bersih DLH

 

Tokoh Agamis Atau Tokoh Nasionalis ?

Pada tulisan yang lalu, penulis mencatat bahwa kedua Calon Presiden yang sudah muncul ini harusnya memilih pemimpin untuk cawapresnya adalah kalangan tokoh agama, atau paling tidak tokoh agamanis-religius. Penulis berpendapat bahwa hal ini untuk menyatukan “stigma” nasionalis-regigius dalam mengawal proses demokratisasi di Indonesia kedepannya, artinya estafeta pemahaman kebangsaan dan kenegaraan hanya ada pada jargon nasionalis-kebangsaan.

Jokowi dan Prabowo bisa dikategorikan sebagai tokoh kalangan nasionalis, karena terlahirkan menjadi pemimpin dari partai yang mendorongngya kalangan nasionalis, maka untuk menepatkan posisi tersebut tentunya akan memngambil capresnya dari kalangan agamis atau relegius. Nama yang muncul dalam survey tersebut memang merupakan tokoh-tokoh yang sebahagian khalayak menganggap mewakili kalangan religius, bisa kita katakan bahwa Gatot Nurmantyo yang dalam survey Lembaga Alvara dijadikan pasangan untuk mendampingi Jokowi karena memang selain Jenderal yang dalam proses karirnya menjadi Panglima TNI selalu berada dekat dengan kalangan Ulama yang berlatar belakang berbagai kelompok, menjadikan dirinya mempunyai tingkat populeritas yang sangat signifikan. Kalangan Nahdyyin, semua pesantrenya di dekati juga para Ulama-Ulamnya serta selalu menyatakan bahwa “pejuang NKRI ini adalah kalangan santri,” maka wajar saja kemudian populeritas ini sangat diunggulkan pada survey yang dilakukan lembaga Alvara. Selain itu, Sang Jenderal satu ini juga mendapatkan tempat dikalangan tokoh kegamaan di Jakarta beserta bassis masanya.

Sedangkan Anies Bawesdan yang juga didaulat pada survey tersebut untuk mendampingi prabowo juga merupakah salah satu tokoh yang lahir dari kalangan habaib juga mantan Rektor Paramadina yang didirikan oleh salah satu cendekiawan terkemuka Nurcholis Madjid. Selain itu, kemenangannya sebagai Gubenur DKI Jakarta dongkrakanya adalah para tokoh agama di wilayah Jakarta, sehingga menjadi wajar saja responden menepatkan dirinya dalam cawapres untuk mendampingi Prabowo.

Kemanakah Cak Imin dan Agus Harimurati Yudhoyono dalam survey Lembaga Alvara tersebut?, karena menurut penulis bahwa Cak Imin ini merupakan salah satu tokoh muda sebagai pemimpin PKB yang partainya merupakan bentukan Gus Dur, tentunya mengidentikan salah satu tokoh yang mewakili kalangan santri. kalau Agus Harimurti memang bisa kita kategorikan sebagai kelompok Nasionalis yang juga merupkan putera Mantan Presiden RI ke 6 Soesilo Bambang Yudhoyono, maka sangat tepat kalau ditepatkan sebagai salah satu perwakilan kelompok nasionalis.

BACA JUGA:   Pakai Sarung, Acep Purnama Pimpin Upacara Peringatan Hari Santri di Kuningan

Penulis berfikir bahwa survey ini ingin memunculkan sesuatu kaitan dalam kebekuan politik pasangan calon presiden yang wacananya hanya didominasi oleh Jokowi dan Prabowo. Artinya bahwa kebekuan tersebut akan terpecah dengan munculnya fenomena ini, atau memang kedua tokoh muda ini juga akan menaikan populeritasnya sehingga bisa muncul sebagai cawapres untuk bisa dipasangkan dengan jokowi dan prabowo.

Calon Cawapres Bisa Mendorong Suara Untuk Parlemen

Memang pasangan calon cawapres harus menjadi salah satu point untuk menepatkan pasangan yang bisa menaikan suara diparlemen, karena proses penyatuan ini akan berdampak pada partai pendukungnya kedepan.

Mengapa hal itu menjadi satu syarat, karena di tahun 2019 posisinya adalah pileg dan pilres, sehingga partai yang medukung salah satu calon harus juga bisa melakukan sinergitasnya bagi partai koalisi yang akan masuk ke parlemen. Kalau bisa dikatakan, bahwa koalisi pendukung pilpres ini adalah koalisi permanen yang akan menghantarkan Capres dan Cawapres dalam proses kebijakan-kebijakan kedepannya.

Oleh karenanya, kita akan melihat apakah nanti di 2019 pasangan ini akan menepatkan paslon Jokowi dan Gatot Nurmantyo serta Prabowo-Anies Bawesdan menjadi paslon yang akan maju dalam pertarungan, atau ada salah satu lagi paslon yang muncul yaitu Muhaimin iskandar-Agus Harimurti Yudhoyono sehingga menjadi tiga paslon Capres dan Cawapres. Atau kemungkinan Jokowi akan mengambil Muhaimin Iskandar dengan tetap saja Prabowo mengambil Anies Bawesdan, semuanya masih dalam hitung-hitungan politik nasional. *** Wallahu A’lam Bishawab

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed