oleh

Persiapan Perayaan Imlek di Vihara Pemancar Keselamatan Majalengka

Citrust.id – Walaupun perayaan imlek hanya akan dilakukan secara sederhana, namun persiapan menyambut perayaan imlek terus dilakukan pengurus Klenteng atau Wihara Pemancar Keselamatan di Majalengka, tepatnya di ruas jalan Abdul Halim Majalengka yang didirikan tahun 1803.

Pengurus Wihara Edi Subarhi mengungkapkan, persiapan imlek tahun ini dilakukan dengan sederhana karena umat budha atau konghucu di Majalengka semakin sedikit. Bahkan tinggal keluarganya, selebihnya umat yang biasa beribadah di klenteng kini tinggal di luar kota ikut bersama anaknya atau pindah tempat tinggal.

“Tidak ada persiapan berlebih, hanya bersih-bersih yang biasa dilakukan setiap saat, walaupun bukan menjelang imlek. Hanya bedanya saat imlek semua sudut kami rapihkan,” ungkap Edi, Rabu (14/02/2018).

Pada saat puncak imlek menurutnya, tidak akan ada upacara seperti tahun-tahun sebelumnya karena berbagai alasan. Malah umat yang akan beribadahpun baru akan datang setelah puncak perayaan imlek, mereka yang akan datang adalah umat konghucu dari Cirebon, Bandung, dan Sumedang.

“Sekarang umat konghucu semakin sedikit, mereka yang datang beribadah itu berasal dari luar kota yang sejak lama baisa datang ke klenteng ini karena merasa nyaman beribadah di sini,” ungkap Edi.

Kini karena semakin sedikitnya jumlah umat konghucu di Majalengka, untuk perbaikan klentengpun seikit mengalami hambatan. Malah sudah cukup lama bantuan justru sering datang dari tokoh Nahdatul Ulama asal Cirebon yang kini tinggal di Jakarta. Ketika ada kebutuhan untuk perbaikan klenteng karena atap rusak atau pintu gerbang yang rusak bantuan datang dari donatur yang berbeda agama.

“Pak Prasetyo yang sering membantu kami, ketika ada kebutuhan untuk perbaikan tempat ibadah atau gerbang rusak karena rapuh asal di sampaikan selalu membantu untuk memperbaikinya,” ungkap Edi.

BACA JUGA:   Jualan Batik hingga ke Moskow

Edi sendiri mengelola klenteng sejak tahun 2003, setelah pengurus lama usianya tak muda lagi. Edi pun nampak khawatir tak ada lagi generasi penerus yang bisa memelihara klenteng karena semakin sedikitnya umat konghucu. /abduh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed