oleh

Pengrajin Produksi Gerabah Desa Sitiwinangun Mulai Percantik dengan Ukiran Khas Cirebon

Citrust.id – Sebagian masyarakat Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon berprofesi sebagai pembuat kerajinan gerabah. Kegiatan tersebut sudah berlangsung ratusan tahun lalu, bahkan dalam perkembangannya kini dilakukan oleh generasi penerusnya.

Sejak jaman dulu hingga sekarang, Kecamatan Jamblang masih dikenal sebagai kampung pengrajin gerabah, meski dalam kemajuannya mendapatkan gempuran produksi keramik-keramik murah buatan luar negeri, sempat membuat usaha gerabah harus tertatih-tatih.

Upaya tetap bertahan, sejumlah pengrajin gerabah di Desa Sitiwingun, Kabupaten Cirebon mencoba membuat kreasi dengan ukiran menarik pada produksi gerabah salah satunya ukiran yang syarat akan nilai sejarah.

Seperti yang dilakukan pasangan suami-istri, Marini dan Dija sebagai pengrajin tertua di Desa Sitiwinangun ini, sudah menekuni pembuatan gerabah sejak tahun 60-an. Mereka membuat gerabah dengan teknik sederhana dan sangat tradisional.

”Hasil gerabah ini tak hanya dipasarkan di daerah Cirebon saja, melainkan merambah ke berbagai kota di tanah air, seperti Bandung, Jakarta, Bali hingga Sumatra,” ujar Marini, pengrajin gerabah tradisional Sitiwinangun.

Biasanya, katanya pola dan tekniknya dalam membuat kerajinan gerabah tidak berubah atau sudah turun temurun dari generasi ke generasi. Darah seni yang mewarisi, membuat pasangan ini konsisten menekuni warisan nenek moyangnya untuk membuat gerabah dengan teknik tradisional.

“Waktu yang dibutuhkan untuk proses pembakaran gerabah Ditiwinangun, cukup singkat hanya 1 jam saja. Berbeda dengan gerabah daerah lain yang membutuhkan waktu 1 hari 1 malam,” katanya.

Pengrajin gerabah Desa Sitiwinangun, kini mulai mempercantik gerabahnya, melalui berbagai ukiran desain menarik. Salah satu ukiran yang khas adalah bentuk mega mendung dan wadasan yang merupakan ciri khas Cirebon.

“Harga gerabah yang dijual pun bervariasi, mulai dari seribu rupiah, puluhan ribu, jutaan, hingga puluhan juta, bergantung motif dan ukurannya,” tandasnya.

BACA JUGA:   Pasal yang Menjerat Anak Bupati Majalengka Bisa Berubah

Mereka sangat berharap, pemerintah daerah dan pemerintah pusat membantu usaha mereka. Karena para pengrajin belum tersentuh oleh pihak terkait. kaitannya, untuk mengembangkan dan mempomosikan produk garabah yang ada di Desa Sutiwinangun yang sudah dikenal sejak jaman dahulu. (citrust.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed