oleh

Musikalisasi Puisi dan Kreator Kota Ini (3)

Oleh Imam Sanoezy

 

MUSIKALISASI PUISI DI CIREBON

Dari obrolan penulis dengan seorang aktor sekaligus sastrawan Edeng Syamsul Ma’arif, musikalisasi puisi di Cirebon baru dikenal pada paruh 2000-an. Saat itu, banyak sekolah menyelenggarakan perlombaan musikalisasi puisi. Menurutnya, masih sedikit kelompok atau seniman di Cirebon yang secara khusus dan konsisten berkarya di bidang musikalisasi puisi. Kalau pun ada, masih bergerak dan ditunjukan dalam lingkup terbatas.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar. Karena di Cirebon tidak kekurangan penyair dan pemusik. Keduanya sangat mungkin membangun relasi kreatif untuk mengeksplorasi kekuatan teks dengan keragaman ekspresi musik. Menurut Sapardi Djoko Damono pada ASEAN Literary Festival 2016, puisi itu harus dinyanyikan. Siapa yang akan tahu puisi pendek seperti Aku Ingin yang termuat di sudut sebuah koran tidak begitu terkenal di Jogja, jika tidak ada yang berusaha mengangkatnya ke dalam bentuk musikalisasi puisi?

Dan sekarang, karena lagu itu, publik jadi mengenal Sapardi. Jadi, dalam musikalisasi puisi ada simbiosis mutualisme. Kreator atau musisi bisa saja mendapatkan syair lagu atau puisi yang sudah ditulis oleh para penyair tanpa harus menulis puisi sendiri. Dan penulis puisi diuntungkan karena karya puisinya dibawakan atau dibuat musikalisasi puisi.

Jika melihat sejarah yang pernah berlangsung, di Cirebon sendiri sudah terjadi upaya sosialisasi musikalisasi puisi. Dinas pendidikan dan beberapa sekolah pernah menyelenggarakan lomba musikalisasi puisi. Tahun 2015, pada Pergelaran Seni Teater Awal ke-23 IAIN Syekh Nurjati Cirebon, diselenggarakan lomba musikalisasi puisi tingkat SMA sewilayah III Cirebon.

Ternyata, lomba ini diikuti banyak sekolah dengan antusiasme luar biasa. Lomba ini juga menghasilkan juara yang memiliki kualitas tidak murahan. Upaya lain yang pernah terjadi, pada event-event kesenian dan diskusi sastra juga selalu disertakan pertunjukan musikalisasi puisi. Sayangnya, peristiwa-peristiwa di atas masih bersifat seremonial dan sporadis. Musikalisasi puisi belum menjadi agenda kreatif para pelaku seni di Cirebon.

BACA JUGA:   Ini Tanggapan Bupati Majalengka Soal Kasus yang Menimpa Anaknya

Saya melihat, problem terbesar belum berkembangnya musikalisasi puisi di Cirebon bisa terlihat dari sejumlah indikator. Pertama, musikalisasi puisi belum menjadi kebutuhan para pelaku seni budaya di Cirebon. Kedua, pergaulan antara para penyair dan praktisi musik terkesan tidak saling membutuhkan. Sehingga, pergesekan yang bersifat mutual sangat sulit dijumpai. Masing-masing seolah tidak ingin saling mengenal dan saling memberi manfaat. Ketiga, ada kecenderungan yang cukup memprihatinkan, para pelaku seni di Cirebon seakan menghindari segala sesuatu yang berbau teks. Karenanya, diskursus dan dialektika mengenai musikalisasi puisi pun hampir tidak pernah terjadi.

Ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin melakukan aktivitas seni tanpa menjadikan teks sebagai bagian penting dari basis sikap dan nalar kreatif? Ini tak ubahnya orang-orang buta yang melempar jauh tongkatnya ketika berjalan. Lebih dari itu, di mana sebenarnya letak keberhargaan intelektualitas? Andai saya boleh bermimpi, seluruh kenyataan itu hanya berlangsung di negeri antah-berantah. Tidak di sini.

*) Penulis adalah pemusik, bergiat di Lingkar Jenar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed