oleh

Mengintip Pengrajin Kain Tenun Tajung

CIREBON (CT) – Kain tenun tajung, blongsong dan blongket Palembang tersohor akan keindahannya. Kain ini juga memiliki ciri khas berupa motif benang emas, perak yang bervariatif warni-warni bagaikan pelagi.

Siapa sangka kain yang memiliki nilai historis menjadi kain khas melayau ini sebagian di produksi di Kabupaten Cirebon, tepatnya di Desa Karangsari Kecamatan Weru serta di Desa Pamijahan, Marikangen, Gombang, dan Desa Bodelor Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon.

Setiap harinya  puluhan kain tajung, blongsong dan blongket dihasilkan dari tangan-tangan terampil para ibu dan pria di Blok Lebak Desa Karangsari menenun dengan alat  tenun yang terbuat dari kayu “kotrekran” atau dalam bahasa Cirebonya alat tenun”gedogan” dan untuk di kampung asalnya (Palembang) di sebut Dayan.

“Kalau disini namanya tenun kotrekran, karena saat menenun terdengar suara kotrek-kotrek. Suara itu akibat benturan (beradu) dari alat tenun saat pekerja menenun,”ucap Yatimah (38) salah satu pekerja kain tenun baru-baru ini.

Ibu dua anak ini mengatakan, dulunya di Desa Karangsari banyak orang yang membuat kain tenun, hanya berjalanya waktu kain tenun yang di hasilkan kurang peminat dan mulai beralih mengerjakan kain tenun Palembang.

“Setelah masuknya pabrik rotan, lambat-laun pengrajin tenun mulai hilang dan mulai bekerja sebagai buruh pabrik,”kata Yatimah.

Suci (30) pemilik usaha tenun kain Palembang di Desa Karangsari mengatakan, usaha pembuatan kain tenun yang digelutinya merupakan peninggalan ayahnya (alm H. Madinah) dan kini dilanjutkan olehnya. Dulu, terang Suci, keluarganya merupakan salah satu pengrajin kain tenun khas Cirebon yakni kain sewed (kain untuk gendong).

“Kata orang sih,kain tenun Cirebon berkembang pesat sekitar tahun 1950-1980-an. Namun pada tahun 1980-an mulai masuk pabrik rotan dan usaha tenun mulai terpinggirkan karena masyarakat lebih memilih menjadi buruh pabrik,”kata ibu satu anak ini.

BACA JUGA:   Jalan Raya di Kota Cirebon Disemprot Disinfektan

Suci sambil menyodorkan air minum menceritakan, setelah kejayaan tenun Cirebon mulai redup sebagian pengrajin kain tenun mulai beralih membuat motif Palembang. Karena memang pangsa pasar hasil tenun masih terbuka lebar di Palembang.

“Dulu banyak orang sini yang merantau ke Sumatera dan membuat kain tenun disana. Hanya saja di Palembang mencari pekerja untuk menenun susah, sehingga mulailah dikembangkan kain tenun Palembang di Cirebon,”terang Suci.

Untuk motif tenun sendiri yang di produksi di sini ada tujuh motif diantaranya motif setelan, kotak, kotak rekan, kotak janda, mata pirik, kotak kecil, kotak besar. Motif tersebut terdapat di tiga jenis kain tenun  tajung, blongsong dan blongket yang semuanya merupakan kain tenun khas Palembang.

“Untuk ukurannya ada dua macam ada yang panjang 4 meter dan lebar 2 meter dan panjang 4 lebar 1.20 centimeter,” katanya.

Dalam sehari,setiap pekerja bisa menghasilkan 1 stel kain dan slendang dan untuk kain sarung  bisa membuat 5 potong dalam dua hari. Pekerja saat ini,kata Suci,ada 17 orang dan yang berada di rumahnya 8 orang sedangkan sisanya membuatnya di rumahnya masing-masing.

“Untuk satu potong kain tenun untuk lelaki upahnya Rp 25 ribu dan untuk kain perempauan (brosong)  satu stel Rp35 ribu.ya rata-rata dalam seminggu untuk kain tenun perempuan bisa jadi 6 potong dan untuk kain sarung bisa 10 ptong,” terang Suci.

Dia menambahkan, untuk bahan baku benang dan pewarna langsung di kirim dari Palembang. Sementara untuk pengiriman biasanya dalam dua minggu mengirim 10 kodi,selain ke Palembang,ujar Suci,kain tenun juga pasarkan ke Jambi, Riau dan Cianjur Jawa Barat.

“Untuk satu potong kain tenun paling murah Rp100 ribu dan yang paling mahal Rp450ribu, harga itu tergantung motif, jenis dan bahan kainnya katun atau sutra,” pungkasnya. (CT-115/108)

BACA JUGA:   Pemdes Cidenok Cegah Virus Corona

Komentar

News Feed