oleh

Mengenang Perjuangan Wong Cerbon

Oleh DADANG KUSNANDAR*

SUATU senja di Cirebon. Teman baik saya menyerahkan buku tebal bertajuk: Sekelumit Kisah Perjuangan Masyarakat Kotamadya Cirebon. Setebal 200-an halaman buku yang ditulis menggunakan mesin tik itu dihimpun oleh Panitya Peneliti Monumen Perjuangan Kotamadya Cirebon.

Diawali kata pengantar, “Berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, Panitya Peneliti Monumen Perjuangan Kotammadya Cirebon yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tk. II Cirebon tanggal 10 Maret 1976 Nomor 125/223.Ks.022/WK, telah dapat menyampaikan sekelumit kisah Perjuangan Masyarakat Kotamadya Cirebon dari periode phisik sampai dengan perjuangan Orde Baru atau Orde Pembangunan, yang dihimpun dari beberapa tokoh-tokoh perjuangan baik bersenjata masyarakat yang berasal dari Kota Cirebon”.

Perjuangan wong Cirebon (bersenjata dan politik) konon kurang terpublish sehingga masyarakat kurang mengetahui apa dan bagaimanakah kiprah wong Cerbon  dalam sejarah bangsa. Buku tebal yang dijilid rapi dengan hard cover warna biru laut ini menuturkan sejarah pembentukan BKR/TKR/TNI dan berdirinya Resimen Sumarno sebagai Bab I. Sepanjang 38 halaman yang dihimpun oleh Kelompok “A” yang terdiri dari Moh. Khamim, Suharto, Moh. Nadjib dan S. Wihardja ditulis perjuangan bersenjata.

dadang-kusnandarSecara rinci diakui bahwa pergumulan data-data perjuangan yang dibebankan kepada Kelompok “A” tidak saja diperoleh dari para pejuang yang berada di Cirebon dan sekitarnya, tetapi juga diperoleh dari pejuang yang memegang peranan cukup penting dalam pembentukan kesatuan tentara di Cirebon. Ada dua nama yang tertulis di sini, yaitu Ex Kolonel Sapari Suriadibrata, beralamat di Jl. Taman Cibeunying Selatan No. 41 Bandung, dan Ex Mayor Kabullah Widjajaamiarsa Prof. Dr. Guru Besar di Unpad Bandung beralamat di Jl. Citarum No. 8 Bandung.

BACA JUGA:   Kedubes Amerika Tertarik Pariwisata Kuningan

Tentu saja saya berterima kasih tak terkira manakala memperoleh dokumen berharga ini dari Supriyadi HS Sekratis Dewan Harian Cabang (DHC) Angkatan 45 Kota Cirebon yang menurutnya buku ini didapat dari Sukardi mantan Anggota DPRDGR Kotamadya Cirebon. Upaya mengenal sejarah dan perjuangan bersenjata dan diplomasi (politik) di Cirebon harus disajikan kepada publik. Bukan semata-mata untuk nostalgia atau momento mory melainkan untuk pengetahuan sejarah terutama bagi kalangan muda. Menjelang Hari Pahlawan 10 November ingatan kita menyoal perjuangan bangsa Indonesia, semoga tertaut dengan kiprah para pejuang bersenjata dan politik di Cirebon.

Sekadar mengulang, sekira  tahun 2007 lalu saya pernah dua kali mengikuti seminar sejarah Cirebon. Menghadirkan sejumlah sejarawan UI dan Unpad, kami kewalahan memperoleh data Cirebon pada masa pendudukkan Jepang. Namun karena kejar tayang dan proyek pemerintah Propinsi Jawa Barat, hasil seminar pun dibukukan. Ternyata dokumen tebal ini menuliskan kisah masa pendudukkan Jepang di Bab III.

Dokumen yang belum tuntas saya baca ini layak sebagai sajian dan kajian publik. Kiranya ada pihak yang tergelitik guna mengupas isi dokumen yang tidak sempat dibukukan setelah Walikotamadya Cirebon (saat itu) Tatang Suwardi digantikan oleh H. Aboeng Koesman. Tentang dokumen ini pun saya memperoleh suport Daryanto sahabat Smansa 82 Cirebon. Dari Tangerang dan Bandung ia kerap memberi masukan. []

*) Bidang Infokom DHC 45 Kota Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed