oleh

Lèspèringgo “Teles dipè Garing Dienggo”

Foto Ilustrasi

Oleh Nurdin M Noer*

INI kisah kalangan pemuda Cirebon tahun 1970-an. Pakaian hanya selembar di badan dipakai berhari-hari, terpaksa harus melakukan cara dan taktik unik, yaitu “lèspèringgo”. Artinya, “Teles dipè garing dienggo” (basah dijemur kering dipakai).

Apa daya, sisa-sisa krisis ekonomi sebelum  1965 masih sangat terasa. Beli selembar baju pun tak mampu, akhirnya larilah ke Pasar Talang (belakang BAT) dan membeli pakaian bekas. Itu pun tak bisa banyak, karena uangnya sangat amat ketat.

Kedatangan anak muda di Pasar Talang, bagi kalangan pedagang pun maklum. Ia pun langsung menanyakannya.

“Luru lèspèringgo, tah ?”
“Weruh baekah ya !?” Lalu tawar menawar pun terjadi.

Pada masa anak-anak muda, asal memakai celana jeans akan dibilang keren, meski celana itu dipakai lebih dari satu bulan. Makin berbau dan terasa gatal di kulit, makin bergaya. Bahkan hingga sekarang memakai celan jeans robek masih digemari kalangan muda laki-laki maupun perempuan.

Istilah “lespèringgo” merupakan plesetan dari nama-nama dalam film cowboy Amerika Serikat, seperti Jango, Ringo dan lainnya. Para cowboy tersebut dalam aksinya menggembala sapi, selalu memakai jeans.
Disindir kalangan mubalig, jika di Amerika para cowboy menyandang pistol di pinggangnya, maka cowboy “lèspèringgo” ini selalu menyelipkan sisir berukuran besar pada pinggangnya. Film bertema cowboy pada masa 1970-an memang sangat popular.

Cowboy  memiliki akar sejarah yang panjang, dalam melacak kembali ke Spanyol dan pemukim Eropa awal di Amerika. Selama berabad-abad, perbedaan di medan, iklim dan pengaruh tradisi ternak penanganan dari beberapa budaya menciptakan beberapa gaya yang berbeda dalam peralatan, pakaian dan penanganan hewan. Sebagai cowboy selalu praktis disesuaikan dengan dunia modern, peralatan cowboy dan teknik juga disesuaikan dengan tingkat tertentu, meskipun banyak tradisi klasik masih dipertahankan saat ini. Selain kerja di peternakan, beberapa koboi bekerja untuk atau berpartisipasi dalam rodeo. Cowgirls, pertama kali didefinisikan seperti pada akhir abad ke-19, memiliki peran historis, meski kurang didokumentasikan dengan baik, tetapi dalam dunia modern telah menetapkan kemampuan untuk bekerja pada setiap  tugas yang sama, dan memeroleh rasa hormat yang cukup untuk prestasi mereka.

BACA JUGA:   AKBP Iman Pastikan Mapolres Kuningan Kondusif

Ada juga penanganan ternak di banyak bagian pada lain dunia, khususnya Amerika Selatan dan Australia, yang melakukan pekerjaan yang sama dengan cowboy di negara mereka masing-masing (wiki).

Gaya cowboy memang pernah mendapat perhatian luar biasa di kalangan anak muda Indonesia. Pada masa tahun 1950-an hingga 1980-an. Gaya kekoboy-koboyan dalam gaya dan bahkan kesombongan. Main asal tembak,  asal gebuk, disebut gaya cowboy. Namun istilah “lespèringgo” rupanya hanya ada di Cirebon. []

*wartawan senior dan pemerhati kebudayaan lokal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed