oleh

Kunjungi BBKPM Bandung, Peserta Pelatihan Editor Temukan Fakta Unik

Citrust.id – Kunjungi Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung, kelompok 3 peserta pelatihan editor strategi pemberitaan penyakit TBC temukan fakta unik dan menarik.

Kelompok 3 peserta pelatihan editor strategi pemberitaan penyakit TBC dari DKI dan Jawa Barat mengunjungi
BBKPM di Jalan Cibadak, Nomor 214, Kota Bandung, Jumat (20/5/2022).

“Mudah-mudahan, acara ini manfaatnya akan berpengaruh besar terhadap akselerasi eliminasi TBC tahun 2030,” kata Rian Surahman, Sub Koordinator Pengembangan Sumber Daya BBKPM Bandung.

Rian berharap, inti kegiatan itu, yakni penyebarluasan informasi kepada masyarakat dalam rangka akselerasi eliminasi TBC tahun 2030, dapat tersampaikan ke masyarakat.

Koordinator Promosi dan Sumber Daya BBKPM Bandung, Cecep Slamet Budiono, mengatakan, 20 persen penderita TB di Jawa Barat. Untuk kontribusi BBKPM Bandung sebesar 60 persen bagi angka TBC nasional.

“Kami sangat menyambut baik program Yayasan Pesona Jakarta dengan menggandeng para jurnalis atau editor yang sangat inovatif. Semoga ada tindak lanjut dari kegiatan ini,” ungkapnya.

Philip Arya Sena, dari Yayasan Pesona Jakarta, mengatakan, tujuan akhir acara itu adalah agar masyarakat bisa mengakses layanan informasi dari media online.

“Harapannya, ketika di BBKPM Bandung ini dapat melihat dan merasakan, sehingga yang kami tulis punya rasa dan melihat layanan BBKPM,” ungkapnya.

Sementara itu, dr. Dahlia Kadarsih, Koordinator Pelayanan dan Penunjang Kesehatan BBKPM Bandung, memaparkan, TBC kurang seksi berbanding Covid-19 dan HIV. Harus ada ketertarikan dulu untuk mengetahui tentang TBC. Setelah itu, baru menyampaikan tentang TBC.

Kunjungi BBKPM Bandung, peserta pelatihan editor strategi pemberitaan penyakit TBC pun temukan fakta unik dan menarik.

Dahlia mengatakan, BBKPM Bandung adalah sebuah faskes milik Kemenkes unik. BBKPM Bandung merupakan instansi vertikal dan rencananya akan menjadi rumah sakit.

“Uniknya, Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) disatukan,” ungkap Dahlia.

Tupoksinya mulai dari perencanaan, program, hingga anggaran. Tidak hanya pelayanan kesehatannya saja, tetapi juga melayani rujukan dari puskesmas.

“BBKPM Bandung ini merupakan rujukan regional dan instalasi rawat jalan spesialis paru, TB DOTS, TB Resisten Obat, spesialis penyakit dalam dan spesialis anak. Ada juga klinik berhenti merokok,” ungkap Dahlia.

Hal unik lainnya adalah, BBKPM Bandung punya klinik asma PPOK untuk pasien berobat seumur hidup. Selain rehabilitasi medis, ada juga program senam sehat dan lainnya.

“Pasien TBC yang datang tidak hanya datang berobat dan pulang, tetapi pelayanan all in, mulai edukasi sampai gizi,” ungkapnya.

Ada tiga faskes di Bandung yang memberikan layanan TBC, yakni BBKPM Bandung, RSHS, dan Rumah Sakit Rotinsulu.

“Pasien TBC sulit mencari tempat rawat inap. Apalagi waktu Covid-19 kemarin, ruangannya banyak yang pakai. Kami sedang membangun gedung di Cianjur untuk pelayanan TBC. Di Bandung juga punya tempat rawat inap,” imbuhnya.

Dahlia juga mengungkapkan, BBKPM Bandung punya akun Facebook, Instagram, dan YouTube untuk sosialisasi ke masyarakat. Ada beberapa program yang sudah terlaksana, antara lain Desa Siaga TBC di Garut dan Rumah Singgah TBC.

“Kita juga melakukan advokasi dengan camat, babinsa dan bhabinkamtibmas serta kerja sama dengan polres dan kodim di Garut. Kami pun melakukan sosialisasi secara webinar,” jelasnya.

Dahlia menambahkan, petugas TBC all out melayani pasien TBC. Bahkan, pasien yang berprofesi sebagai sopir angkot yang tidak bisa mengambil obat karena bentrok dengan jadwal narik angkot, diberikan langsung. Pihaknya juga melakukan bina layanan yang terintegrasi secara online untuk memudahkan rujukan.

Sementara itu, dr. Arief Budi Soetrisno dari BBKPM Bandung mengatakan, sebuah penyakit yang sudah ada obatnya, diketahui juga penyebab dan pencemarannya, seperti TBC, seharusnya sudah bisa dikendalikan. Namun, dari masa penemuan mumi sampai sekarang masih jadi masalah.

“Indonesia peringkat ketiga dunia untuk TBC. Sebesar 75 persen penderita usia produktif dari usia 15-50 tahun. TBC sering disamakan dengan penyakit bronkitis, padahal merupakan dua penyakit yang berbeda. Penanganannya juga berbeda,” ungkapnya. (Abduh)

 

Komentar