oleh

IPB: Keanekaragaman Hayati di Indramayu tak Terpengaruh Kegiatan Seismik 3D

Indramayutrust.com – Institut Pertanian Bogor (IPB), melaporkan hasil penelitian tentang Kajian Dampak Kegiatan Seismik 3D Terhadap Keanekaragaman Hayati di Kabupaten Indramayu, untuk menjawab kekhawatiran kalangan petani di Indramayu, khususnya di desa Segeran dan Segeran Kidul, terhadap kegiatan survei seismik 3 Dimensi (3D), Rabu (07/12).

Ketua Tim Peneliti IPB, Dr.Ir.Agus Priyono Kartono, M.Si, menyimpulkan empat hasil temuan penelitian yang berlangsung pada bulan Oktober hingga Desember 2016, yang dilakukan bersama dengan tim peneliti Universitas Wiralodra Indramayu.

Keempat temuan tersebut, adalah keanekaragaman hayati yang meliputi keragaman flora dan satwa liar tidak terpengaruh oleh kegiatan Sesmik 3 Dimensi (3D). Perbedaan hasil ukuran keanekaragaman hayati lebih disebabkan oleh perbedaan kondisi cuaca pada saat pengumpulan data di lapangan.

Kedua, tidak ada kerusakan pada tanaman jeruk, padi sawah, dan mangga yang diakibatkan oleh rambatan getaran yang bersumber dari kegiatan seismik 3D, yang dibuktikan dengan tidak dijumpainya jenis pohon jeruk ataupun mangga yang mengalami kematian atau bahkan tanda-tanda kematian seperti kerontokan (gugur) daun, pengeringan ranting dan cabang setelah 2 minggu pasca seismik.

“Demikian pula yang terjadi pada tanaman padi, tidak menunjukkan adanya kematian akibat kegiatan seismik 3D. Oleh karena itu tidak ada hubungan antara kegiatan seismik 3D dengan tingkat kerusakan tanaman jeruk, mangga, ataupun padi sawah,” Jelas Ketua Tim Peneliti IPB.

Selain itu, kegiatan seismik 3D yang menimbulkan getaran pada lapisan tanah tidak berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah, yang dibuktikan dengan tidak adanya perubahan antara kondisi hara tanah pada sebelum kegiatan dan sesudah dilakukannya seismik.

“Kegagalan budidaya tanaman hortikultura, terutama jeruk, lebih diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit yang telah ada sebelum kegiatan seismik dilakukan,” ungkapnya.

BACA JUGA:   1 Desember 2019 Jadwal KA Berubah, Ini Penyebabnya

Dikatakannya, bahwa jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman jeruk, yang ditemukan baik sebelum maupun sesudah kegiatan seismik adalah CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) yang disebabkan oleh bakteri Candidatus liberibacter asiaticum,

Juga embun jelaga (cendawan Capnodium citri), kudis/scab (cendawan Spaceloma fawcetti), kanker atau bercak daun (cendawan Xanthomonas axanopodis), kutu sisik (serangga Lepidosaphes beckii),

Serta ulat peliang atau penggorok daun (serangga Phyllocnistis citrella), kutu daun (serangga Taxoptera citridus, Taxoptera auranti), dan kutu kebul (serangga Bemisia tabaci).

“Masyarakat menerapkan teknik budidaya tanaman jeruk, mangga, dan padi sawah dengan mengikuti teknik yang diwariskan turun temurun. Pengetahuan tentang budidaya tanaman yang baik dan benar kurang dikuasai sehingga perawatan dan pemeliharaan tanaman belum dilakukan secara intensif. Masyarakat kurang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang organisme pengganggu tanaman (OPT),” paparnya

Selain menyimpulkan 4 temuan tersebut, Tim Peneliti memberikan saran kepada petani budidaya jeruk bahwa Pengendalian penyakit CVPD pada tanaman jeruk dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan strategi penanaman tanaman sela dari jenis jambu biji Psidium guajava L.

“Pengembangan populasi tawon jenis Tamaraxia dryi Waterston dan Tamaraxia radiatus Waterston, sebagai agen extoparasit serangga vektor CVPD, kemudian Injeksi tetracyline atau penicillin ke pohon yang terserang penyakit dengan dosis 500 ppm atau 1000 pp dengan tekanan 10 kg2/cm dan Penggunaan insektisida yang efektif dan terdaftar untuk digunakan pada jeruk seperti imidacloprid, fenpropathrin, chlorpyrifos, dan dimethonate,” terangnya. (Didi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed