oleh

Bantu Atasi Trauma Anak Korban Pelecehan Seksual dengan Cara Ini

Ilustrasi

CIREBON (CT) – Ketika Anda mendapati seorang anak menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual oleh orang lain, Anda lantas begitu khawatir dengan keselamatan si buah hati dan malah mungkin, ketakutan yang baru muncul dalam diri anda bahwa si kecil bisa jadi mengalami hal serupa dan dilakukan oleh orang lain. Dengan begini Anda kemudian menjauhkan anakĀ  dari kehidupan sosialnya dan melarangnya pergi keluar rumah atau bergaul dengan teman-temannya.

Ketahui lebih dini, menjauhkan anak yang baru saja mengalami hal buruk dalam hidupnya, terutama kekerasan seksual, hanya akan menimbulkan rasa kesepian pada anak. Ketika anak merasa sendiri dan kesepian, bukan tidak mungkin hal ini akan mengikat mereka pada kejadian buruk yang telah menimpanya dan ketakutan ini akan semakin membesar.

Untuk itulah, sebaiknya usahakan anak agar tetap bisa ceria dan bermain layaknya seperti anak biasa. Upayakan agar anak bisa mendapatkan kembali kehidupan normalnya seperti sediakala. Karena hanya dengan begini, perlahan mereka akan dapat melupakan traumatik dan ketakutannya pada masalah yang telah menimpa mereka.

Akan tetapi, pengawasan ekstra dari para orangtuanya adalah jaminan pasti keselamatan si anak. Untuk itu, biarkan anak bermain, namun dengan perhatian dan pengawasan penuh dari orangtunya.

Selain itu, menurut psikolog anak dari Universitas Atma Jaya, Agustina Hendrati, mengatakan bahwa mengatasi trauma pada anak yang mengalami pelecehan seksual memang tidak mudah. Sebab, membangkitkan kembali rasa nyaman dan aman setelah menerima tindak pelecehan bukan hal mudah bagi anak.

Orangtua harus bisa membuat anak bersedia mengungkapkan pengalamannya. Anak harus mampu menceritakan bagian tubuh mana yang mengalami pelecehan seksual. Sebab jika tidak, pengalaman buruk tersebut akan menjadi racun dalam kehidupannya.

BACA JUGA:   Dinas Damkar Beri Edukasi Pencegahan dan Penanganan Kebakaran

Namun, cara agar anak bersedia menceritakan pengalaman itu harus disesuaikan dengan usia si anak. Jika anak masih berusia dini, orangtua bisa menggunakan media gambar atau boneka. Dan terakhir, yakinkan pada anak bahwa apa yang ia alami bukan kesalahannya. Berikan perasaan bahwa anak adalah korban. (Net/CT)

Komentar

News Feed