oleh

Arsitektur Pecinan Kuno di Cirebon

Oleh JEREMY HUANG

SUNGGUH disayangkan wajah Arsitektur Pecinan Kuno hanya tersisa beberapa Rumah saja di Kota Cirebon. Padahal banyak filosofi di dalamnya. Dalam Buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu di Jawa” milik Slamet Mulyana dan MO Parlindungan, dituliskan Kedatangan Laksmana Cheng Ho di Muara Jati untuk mengisi perbekalan.

Ketika Singgah di Muara Jati. Mereka, rombongan Laksmana Cheng Ho, membangun Mercusuar di Muara Jati. Ada beberapa orang dari rombongan Laksmana Cheng Ho menetap di Sekitar Muara Jati. Slamet Mulyana menuliskan ada 3 Perkampungan Pecinan yaitu di Srindil Gunung sembung dan Talang. Tan Eng Hoat jadi kepala Perkampungan China di Srindil, Kung Wu Ping kepala perkampungan China di Gunung Sembung dan Talang.

Menurut dokter Iwan Satibi, kata nama jalan berasal dari Sam Po Toa Lang yang artinya 3 pembesar yang dituakan, yaitu Laksmana Cheng Ho, Ma Huan dan Wang Jing Hong.

Menurut Lukito, dosen Arsitektur Untar Jakarta menceritakan ciri khas Arsitektur China Kuno dapat dilihat dari Atas genteng rumah, yang bentuknya melengkung jika dilihat dari depan. Kemudian lebar di depannya. Jendelanya up and down. Ke atas dan ke bawah sebagai tempat jualan. Jadi untuk alas tempat jualan. Yang bisa buka tutup. Di dalam ruangan dalam rumah, di tengah tengahnya ada ruang terbuka. Ada sumurnya. Ruang tengah terbuka sebagai tempat sirkulasi udara.

Menurut Lukito, ruang tengah terbuka berasal dari Filsafat Tiongkok kuno. Bangunan China kuno terbuka disebut sumur langit (sky well) bahasa hokiannya Cimce. Sumur untuk menampung air hujan, atap terbuka untuk ventilasi udara dan sinar matahari. Ciri khas arsitektur kuno China Selatan berazas filosfi Confucius dan Laozi, bakmi Thiam, Di, Ren (langit, bumi dan umat manusia) lambang pelestarian ekosistem, hidup harmonis dengan alam atau lingkungan.

BACA JUGA:   Cucu Mantan Bupati Kuningan Beri Bantuan Kendaraan Roda Tiga

Menurut Lukito, bangunan rumah pecinan tidak boleh tusuk sate. Pintu dan dapur tidak boleh sejajar. Jadi pintu masuk tidak boleh tembus langsung ke dapur, karena itu dapat membuang rejeki. Jadi pintu masuk di buat berbelok dan berkelok sebelum menuju dapur. Kamar tidur juga tidak boleh berhadap-hadapan, itulah ciri khas Arsitektur Pecinan Kuno.[]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed