oleh

Ansor Desak Aparat dan Pemkab Larang Pengibaran Bendera HTI

Citrust.id – Pengibaran bendera atau simbol Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Kabupaten Majalengka dalam acara peringatan Tahun Baru Hijriyah belum lama ini membuat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Majalengka gerah.

Ketua Pimpinan Cabang GP. Kabupaten Majalengka, Ahmad Cece Ashfiyadi, menyayangkan ada pihak yang ikut membela pengibaran bendera HTI, bahkan mulai membangun framing seakan-akan yang menolak itu antiIslam.

“Munculnya bendera HTI cukup kami sayangkan dan merupakan bentuk kecolongan semua pihak. Yang lebih kami sayangkan lagi malah ada pihak-pihak yang membela dan mengggiring ke arah frame antiIslam bagi pihak-pihak yang menolak dan melarang”, ungkapnyausai mengumpulkan semua pimpinan Ansor dan komandan Banser Kabupaten Majalengka, Sabtu (7/9).

Ia meminta bendera HTI tidak boleh berkibar, bukan malah sebaliknya dibela bahwa bendera itu merupakan bendera tauhid sehingga coba digiring pada perpecahan umat Islam.

“Yang kami heran, sejak kapan ada bendera tauhid. Padahal kami juga umat Islam, bahkan selalu mengagungkan kalimat suci atau kalimat tauhid yang tertulis di bendera tersebut dalam amaliyah kami. Sehari-hari tetap punya bendera kebangsaan merah lutih dan juga mempunyai bendera organisasi yang sah dan didaftarkan secara resmi ke pemerintah. Sudahlah, jangan mengelak terus dengan dalih apaaun. Istilah bendera tauhid itu muncul setelah dilarangnya HTI”, tambahnya didampingi Kasatkorcab Banser Majalengka Wahyudin.

Kang Cece sapaan pria itu mengimbau kepada pihak-yang melakukan pembelaan tidam menggiring isu dan melebarkan masalah ini ke ranah yang sensitif, seperti isu agama dan lainnya. Itu akan berbahaya dan merugikan semuanya.

“Catat bahwa Ansor ini Islam dan sangat cinta kalimat tauhid. Kami tidak akan mundur selangkahpun kalau urusannya dengan merongrong Keutuhan Negara Republik Indonesi (NKRI) tercinta ini,” imbaunya.

Setelah peristiwa tersebut, Ansor sudah melakukan koordinasi serta shilaturrahmi dengan Kapolres, Kepala Kementerian Agama dan Bupati Majalengka untuk segera bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang melakukan perbuatan tersebut

Ia berharap semua pihak sudah final menyepakati bahwa tidak ada bendera tauhid. Itu adalah bendera HTI yang sudah jelas-jelas dilarang berkibar di NKRI.

“Kami sudah sampaikan keberatan dan penolakan dan berharap adanya sikap tegas dari semua pihak yang berwenang, khususnya bagi para ASN dan lembaga pendidikan yang masih menjadi anggota HTI atau kelompok antiNKRI dan berani memunculkan simbol HTI. Kami masih menunggu hasil akhir. Tidak menutup kemungkinan kami akan turun jalan kalau memang masalah ini tidak segera diselesaikan,” jawabnya.

Cece mengajak semua anggota Ansor dan Banser tetap siap siaga apabila ada intruksi bergerak secara bersama-sama dengan kekuatan penuh demi tetap tegaknya NKRI dari rongrongan kelompok yang antiNKRI dengan berubah baju. Ia mengajak seluruh masyarakat Majalengka menolak kehadirannya dan memunculkan simbol-simbol HTI biar terus tercipta keamanan dan ketertiban dalam kehidupan kita untuk mewujudkan visi Raharja. (Abduh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed