oleh

Aktivitas Warga Lumpuh Total Pasca Musibah Banjir Bandang

CIREBON (CT) – Ribuan rumah di lima kecamatan Cirebon timur terendam banjir setelah diguyur hujan Selasa malam (22/03). Banjir yang terjadi, karena pendangkalan sungai yang ada di masing-masing kecamatan setempat. Banjir yang merendam rumah tersebut, ketinggiannya antara semata kaki orang dewasa hingga dua meter.

Adapun ketiga kecamatan yang rumahnya terendam, yakni Kecamatan Waled meliputi Desa Ambit, Ciuyah, Mekarsari dan Desa Gunungsari. Kecamatan Lemahabang, yakni Desa Sigong, Blok Cantilan, kemudian Kecamatan Gebang, Desa Gebangudik, Blok Lebak, dan Kecamatan Astanajapura, Desa Japura Kidul, Blok Cantilan. Bahkan akibat banjir di desa ini, aktifitas pendidikan lumpuh total dan Kecamatan Pangenan, Desa Beringin, merendam 20 hektar tanaman padi siap panen.

Di Desa Mekarsari sebanyak 298 rumah terendam, Desa Gunungsari 395 rumah, Desa Ambit 490 rumah, Desa Ciuyah 552 rumah. Desa Sigong, Blok Cantilan 10 rumah, Desa Gebangudik, Blok Lebak 100 rumah, dan Desa Japurakidul, Blok Cantilan, selain merendam puluhan rumah berdampak pula pada lumpuh totalnya aktvitas pendidikan. Di Desa Beringin 20 hektar tanaman padi terendam, dan terancam gagal panen.

Salah seorang warga Desa Gebangudik, Kecamatan Gebang yang rumahnya terendam, Rian mengatakan, dirinya bersama warga lain harus menerima kenyataan seperti ini setiap tahun.

“Banjir kali ini merupakan yang terbesar dari biasanya. Kalau hujannya besar dan terus menerus, bisa jadi satu meter ketinggiannya, namun jika hujan tidak terlalu besar hanya dibagian halaman ruamh saja,” katanya kepada CT, Rabu (23/03).

Menurut Kuwu Gunungsari Yoyo Sudharyo, dirinya sangat prihatin dengan kejadian ini dan mempertanyakan Perda no 6 2015 tentang penanggulangan bencana. Kemungkinan besar, belum ada sinkronisasi antara dinas terkait, seperti Dinas Kesehatan, PSDAP, Dinsos dan lainnya. Sehingga, setiap tahun empat desa (Desa Gunungsari, Ambit, Ciuyah dan Desa Mekarsari) di Kecamatan Waled ini menjadi langganan banjir.

“Langganan kok banjir, seharusnya ada sinkronisasi untuk pencegahan. Agar masyarakat tak khawatir ketika hujan maupun tidak. Tak hanya rumah yang terendam, tanaman padi yang siap panen di desa lain turut terkena imbasnya. Bisa jadi gagal panen dan membuat petani merugi,” ujarnya.

Yoyo menjelaskan, banjir yang merendam rumah penduduk itu, karena dangkalnya sungai Ciberes dan Bendungan Surakatiga. Sehingga pada saat hujan besar di daerah Kuningan, desa kami dan desa lainnya terkena imbasnya.

“Saat kunjungan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar saat banjir 2014 lalu, pernah mengatakan akan mengeruk Sungai Ciberes. Akan tetapi, hingga saat ini belum juga terlaksana. Padahal yang dibutuhkan warga bukan hanya sembako melainkan tindakan nyata berupa antisipasi banjir,” tegasnya.

‪sementara itu, di tempat berbeda, Kasi Penertiban dan Ketertiban (Kasi Tribtram) Kecamatan Astanajapura, H Abdul Aziz menambahkan, tak hanya rumah penduduk yang kemasukan air. Akan tetapi, fasilitas umum seperti sekolah ikut terendam. Sehingga, melumpuhkan kegiatan belajar mengajar di sekolah yang ada di Desa Sigong, Blok Cantilan.

“Karena jalan menuju sekolah banyak lumpur, untuk mencegah hal buruk terjadi pada para murid, maka aktivitas KBM di sekolah dasar dan madrasah diliburkan sementara,” imbuhnya. (Riky Sonia)

Komentar

News Feed