oleh

Tak Sepeser Aku Punya Uang…

-Dok KITLV
-PENJUAL jasa penukar uang.

Oleh: Nurdin M. Noer*

UANG, lagi-lagi uang… tak sepeser pun aku punya uang. Lagu dan keluhan setiap orang ini cukup menunjukkan, betapa pentingnya uang dalam kehidupan manusia. “Ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang,” kata pepatah “cewek matre” terhadap seorang cowok lunglai, miskin dan tak berduit, saat dia tengah jatuh cinta. Uang memang telah menjadi alat tukar menukar dengan barang dan sebagai alat pembelian dan penjualan suatu barang.

Uang dalam kehidupan manusia memiliki sejarah yang panjang. Pada masa lalu, masyarakat kuno menggunakan ternak sebagai standar nilai, tetapi melakukan pembayaran-pembayaran dengan benda yang mudah dilakukan. Begitu juga dalam kitab Undang-Undang Hammurabi menjadikan perak dipergunakan untuk tujuan tersebut. Banyak benda yang digunakan sebagai uang, seperti kulit kerang, tembakau, dan ikan kering. Logam-logam mulia yang karena sifatnya tahan lama, menyenangkan dan nilai instrinsiknya yang tinggi lebih disukai. Uang kertas yang banyak digunakan semenjak 350 tahun lalu biasanya dijamin oleh benda standar yang memiliki nilai instrinsik yang dapat menggantikan uang kertas itu (ensikolpedia umum, 1986). Di bawah ini pecahan uang yang pernah digunakan pada masa Belanda menjajah Indonesia.

Pecahan uang zaman Welanda :
Gowéng : 0,25 sén
Pésér : 0,50 sén
Duit : 0,85 sén
Sén : 1 sén
Bénggol : 2,50 sén
Seténg : 3,50 sén
Kelip : 3,50 sén
Baru : 5 sén
Ketip : 10 sén
Talén : 25 sén
Se-tengah : 50 sén
Pérak : 100 sén
Ringgit : 250 sén
Ukon (wangmas) : 1.000 sén = 10 gulden

(sumber: Haryoto Kunto,)-NMN***

*Penulis adalah pemerhati kebudayaan lokal.

BACA JUGA:   Dewan Minta Dishub Kota Cirebon Kaji Lalu Lintas

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed