oleh

Sejumlah Wilayah di Majalengka Kekurangan Air Bersih

Citrust.id – Kekeringan parah yang melanda Desa Bantarujeg, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk masak, cuci, mandi dan lain sebagainya. Warga sampai mencari air bersih ke luar daerah.

“Bawa kompan kadang bersama tetangga bawa toren pakai mobil bak bawa air bersih dari sungai, bahkan sampai ke luar kecamatan,” ungkap Yayat salah seorang warga Bantarujeg, Senin (18/11).

Mata air di Blok Perum, Kelurahan Majalengka Wetan, tepatnya di lembah antara Blok Cibatu dan Kelurahan Munjul atas Sungai Cijurey, menjadi satu-satunya sumber air bersih bagi masyarakat dari berbagai daerah.

Mata air di lokasi tersebut keluar dari tebing yang bagian atasnya adalah sawah. Tebingnya diperkirakan sepanjang kurang lebih 15 meter dan tinggi sekitar 5 hingga 7 meter berasal dari bebatuan cadas dan atras. Air keluar dari tebing melalui celah-celah batu. Ada pula yang berasal dari lubang dengan kondisi air yang sangat jernih.

Sebagian air yang keluar dari tebing dialirkan menggunakan bambu dibuat pancuran. Sebagian dibiarkan mengalir ke selokan dan bermuara ke Sungai Cijurey. Air Pancuran jika diukur menggunakan pipa peralon bisa mencapai sebesar 1 inci bahkan 1,5 inci. Ketika masyarakat berupaya mengisi jerigen hanya menunggu beberapa menit saja.

Menurut keterangan Nana, Oman, Edi dan Empa, warga Blok Cibatu, Kelurahan Munjul, ditemui saat mengambil air dengan jerigen, setiap musim kemarau warga dari sejumlah desa dan kelurahan biasa mengambil air dari mata air tersebut.

Mereka ada yang berasal dari Kelurahan Cijati, Blok Cibatu, Kelurahan Munjul, dan beberapa blok di Kelurahan Munjul itu sendiri serta Majalengka Kulon. Setiap pagi dan sore, warga pulang pergi membawa dua jerigen berkapasitas 20 literan untuk diisi air dan diangkut dengan sepeda motor. Terkadang warga mandi disana jika hari masih gelap.

BACA JUGA:   Kaum Muda NU Perkuat Wawasan Kebangsaan

“Kalau mandi kan terlihat, makanya hari harus masih gelap karena posisi pancuran adanya di pinggir jalan raya,” ungkap Oman.

Nana mengaku bisa lima kali hingga 7 balik mengangkut air dengan dua jerigen untuk keperluan mandi, mencuci dan memasak bagi keluarganya.

“Mesin cuci kan butuh air lumayan banyak, kalau mencuci di sini istri capek,” kata Nana.

Ramainya warga mengangkut air sejak pukul 04.30 WIB hingga pukul 09.00 WIB. Sorenya mulai ramai kembali pukul 16.00 WIB hingga menjelang magrib. Air untuk keperluan memasak dan air minum diambil dari sebelah Timur karena airnya lebih jernih.

Air dialirkan melalui pipa dari bagian bawah. Untuk mempermudah pengambilan air, warga berupaya membuat lubang berdiameter sekitar 70 cm X 70 cm, karena di bagian mukanya terhalang oleh senderan. Sedangkan untuk mandi bisa diambil dari tiap titik mata air yang keluar dari tebing.

“Yang sebelah ini airnya paling jernih, berbeda dengan mata air di beberapa titik tebing lainnya,” kata Ucup.

Mata air tersebut berada di tanah milik Tajudin, warga Kelurahan Cijati. Air di sana tak pernah kering. Air tetap subur dan bsia dimanfaatkan oleh siapapun yang butuh. Air tersebut terbuang ke Sungai Cijurey. Asalkan air tidak dialirkan melalui pipa ke pemukiman penduduk apalagi ke perorangan. (Abduh)

Komentar

News Feed