oleh

Romantika Muda-Mudi Tionghoa (1920-1950) di Pasar Pagi Cirebon

Ilustrasi

Oleh Jeremy Huang

TAHUN 1920-1977 banyak orang Tionghoa berbisnis di Pasar Pagi Cirebon. Pada tahun itu juga Pasar Pagi Cirebon ramai dikunjungi banyak pembeli karena letaknya dekat dengan Balai Kota dan Kantor Karesidenan Cirebon, serta dekat dengan Pelabuhan. Di Pasar agi banyak pedagang keturunan Timur Tengah, Tionghoa, Jawa, Sunda dan berbagai suku di Indonesia. Terjadi pembauran yang alami, serta hidup Damai.

Di dekat Pasar Pagi, ada Hotel Semarang yang dikelola oleh orang tuanya Een Indriati Hirianto, neneknya Sianne Dominikus Setiadi. Hotel Semarang tersebut banyak dikunjungi dan tempat penginapan paling rame di sana.

Di Pasar Pagi juga memiliki kisah cinta romantika yang Indah. Tahun 1931 di Pasar Pagi mempersatukan Pemuda Tionghoa Kwee Kwan Soen dari Kebumen Jawa Tengah dengan Arniti (Saniti), Perempuan Pribumi Asli dari Desa Pagundan Kuningan Jawa Barat. Pertemuan mereka terjadi di Pagundan Kuningan sewaktu Kwee Kwan Soen yang saat itu duda, baru saja di tinggal mati istrinya, pergi Ke Pagundan Kuningan bertemu dengan Arniti, janda beranak satu yang di tinggal mati suaminya. Kwee Kwan Soen pergi ke Pagundan Kuningan untuk wisata dengan In Guan, saudagar minyak tanah di Pasar Pagi, kakeknya dr Imelda Susanti. Setelah Pertemuan itu, kemudian mereka menikah dan tinggal berbisnis di Pasar Pagi. Kwee Kwan Soen dan Arniti memiliki 7 orang anak. Tetapi sayang anaknya Kwee KwanSoen dan Arniti yang nomer 5 meninggal dunia.

5 April 1932 Arniti melahirkan bayi perempuan, kemudian Kwee Kwan Soen menamakannya Kwee San Nio yang artinya Putri Gunung. Karena Cintanya Kwee Kwan Soen kepada Arniti istrinya menamakan anak pertamanya San Nio. San Nio dalam bahasa Mandarin artinya Putri Gunung. Begitu bahagianya Kwee Kwan Soen dengan kelahiran putri pertamanya. Kwee Kwan Soen mendapatkan cintanya dari Arniti Putri Gunung oleh sebab itu anak pertamanya dinamakannnya San nio, artinya Putri Gunung. Tahun 1934 Arniti melahirkan Kwee Siok Nio, anak ketiga lahirlah Kwee San Liang. Tahun 1935 bertambah bahagianya Kwee Kwan Soen ketika mendapatkan putra pertama dinamakan Kwee San Liang artinya Ular Gunung. Tahun 1936 Lahirlah Putri yang tercantik di namakan Kwee Soan Nio. Diantara Putri Putri Kwee Kwan Soen yang paling tercantik Kwee Swan Nio.

BACA JUGA:   Pepep Dorong Pemkab Majalengka Siapkan Dampak BIJB dan Segitiga Rebana

Tahun 1938 lahirlah Kwee san Liong yang artinya (Naga gunung) tetapi sayang tahun 1945 Kwee San Liong meninggal karena sakit malaria. Tahun 1939 lahirlah putra ketiga namanya Kwee San Ling. Tahun 1941 lahirlah Kwee Swie Nio. Tahun 1949 Kwee Kwan Soen Meninggal Dunia, sehingga Kwee San Nio Putri tertua terpaksa putus sekolah membantu Arniti membesarkan ke lima adik-adiknya Kwee San Nio.

Perjuangan Arniti hebat meski janda dapat membesarkan ke 6 anaknya dibantu oleh Kwee San Nio sebagai anak tertua. anaknya Arniti 2 orang jadi guru yaitu Kwee San Liang dan Kwee Swie Nio menjadi Guru Zending, kini ganti nama jadi sekolah SMP BPK Penabur Cirebon, Arniti di bantu anaknya Kwee San Nio dalam mencari uang juga berhasil menyekolahkan Kwee san Ling jadi Sarjana. Arniti memiliki 2 orang anak jadi guru yaitu Kwee San Liang dan Kwee Swie Nio. Dan Arniti juga memiliki seorang anak menjadi sarjana ilmu politik dari Universitas Padjajaran yaitu Kwee San Ling.

Suatu prestasi yang luar biasa Arniti beranak enam dibantu Kwee San Nio, anaknya yang tertua di zaman baru merdeka dapat membesarkan ke enam anaknya berhasil meraih pendidikan tinggi dan terhormat. Padahal Arniti buta huruf dapat mendidik anak-anaknya untuk meraih pendidikan tinggi.

Tahun 1945-1950 kawan-kawannya Kwee San Nio dan adik-adiknya Kwee San Nio kumpul di rumahnya Kwee San Nio di Pasar Pagi Cirebon. Jaman dulu Pasar Pagi tempat nongkrong anak-anak muda Tionghoa. Kwee San Nio dulu suka main bulu tangkis. Dulu tahun 1945 Iwing, Tony, Sun Tiauw, Tian Eng, Ek Lie, Erning, Eklie, Beng Hwat, Wie Liong, Tjoe Beng, adalah kawan anak anaknya Kwee Kwan Soen yang suka nongkrong dan main ke rumahnya Kwee Kwan Soen.

Tahun 1945-1960 anak-anaknya, toko Waring primadonanya pasar pagi Cirebon karena anak-anaknya toko Waring Cantik-cantik menjadi idola banyak pemuda tionghoa, dan anak-anaknya toko waring adalah kawan dari anak-anaknya Kwee Kwan Soen. Anak-anaknya toko waring suka main ke rumahnya Kwee kwan Soen. Akhirnya banyak membuat pemuda tionghoa main ke rumahnya Kwee Kwan Soen di pasar Pagi Cirebon. Biasanya jam 3 sore mereka kumpul di rumahnya Kwee Kwan Soen.

BACA JUGA:   Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati Resmikan Gedung Kampus II UGJ

Tahun 1945 Tian Eng anaknya toko waring adalah primadona kembangnya gadis tionghoa di Pasar Pagi Cirebon.

Januari 1955 Kwee San Nio Putri Pertama Kwee Kwan Soen Arniti menikah dengan Oey Beng Hwat. Iwing yang mempertemukan dan memperkenalkan Oey Beng Hwat dengan Kwee San NIo diPasar Pagi Cirebon. Akhirnya Kwee San Nio yang melanjutkan usaha jamu Nyonya Idep di Pasar Pagi Cirebon.

In Guan saudagar minyak tanah di pasar pagi Cirebon terkenal dermawan kakeknya Imela Susanti.

Saya masih ingat di Pasar pagi, saya suka main dengan otong, iis Theresia Yuni, Imelda Susanti, Maya, Daud, David Tanjung, iyang, Heryanto Abeng, diding, udin, sinbat, Agustini Esther, dan Melania Gondo.

Saya juga masih ingat tiap jam 7 malam setelah toko tutup ada Pak Dalang selalu memainkan wayang kulitnya memainkan wayang cerita mahabrata. Dari Situ saya mengenal wayang dari Pak Dalang, PaK Dalang jualan kopi giling. Mang Daman suka menyanyikan lagu tarling dan langgam jawa. Ada Bu Munah, Ada os, ada mang juri, adaom kian wie, ada cek gonggong, ada Om En, ada Kie Muk, ada Siok Hwa, giok how, ada encim Sano di Pasar Pagi Cirebon.

Saya juga ingat tahun 1975 jam 2 siang tutup toko karena om kimuk, cim sanno mengajak mamah-papah ke Palimanan untuk mandi air blerang di palimanan. Pasar Pagi penuh kenangan. []

Komentar

News Feed