oleh

Potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia Sangat Besar

Citrust.id – Climate Energy Manager WWF Indonesia, Indra Sari Wardhani, mengungkapkan, pemanfatan energi terbarukan penting untuk dilakukan. Penggunaan energi fosil yang berkepanjangan akan menimbulkan efek rumah kaca atau pemanasan global.

“Efek rumah kaca adalah ketika panas matahari yang menyoroti bumi tidak memantul dan terjebak pada atmosfer. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan iklim. Suhu bumi makin naik atau terjadi pemanasan global,” katanya saat jadi pembicara workshop “Menelaah Arti Penting Energi Terbarukan di Indonesia” di Hotel Salak, Kota Bogor, 18-19 Juni 2019.

Di tempat yang sama, Senior Advisor Albright Stonebridge Goup’s East Asia and Pasicific, Ratih Hardjono, Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Ada tiga faktor utama yang menyebabkan perubahan iklim. Tiga faktor itu adalah suhu yang ekstrem, meningkatnya permukaan air laut, dan produksivitas hasil pertanian.

“Perubahan iklim di Indonesia berdampak pada meningkatnya permukaan air laut, perubahan intensitas dan pola curah hujan serta meningkatnya suhu di permukaan,” ujar Ratih.

Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi BPPT, Dr. Mohammad Mustafa Sarinanto, mengungkapkan, potensi pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia sebenarnya sangat besar. Potensi EBT di Indonesia antara lain PLTA, energi surya, panas bumi, angin, bioenergi dan energi laut

“Saat ini, pemanfaatan EBT di Indonesia masih didominasi oleh PLTA diikuti biomassa, panas bumi, dan biodiesel. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) belum bisa berkembang optimal. Selain masalah operasional, sistem PLTS masih terbentur besarnya investasi penyimpanan energi dalam bentuk baterai,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Mustafa Sarinanto, produksi energi fosil dapat memenuhi kebutuhan domestik hingga tahun 2026. Pasokan EBT dapat meneruskannya hingga tahun 2031.

“Energi fosil mendominasi sektor kelistrikan, transportasi, dan sektor rumah tangga. Namun, diperkirakan pada 2032 jumlah impor energi sudah lebih banyak daripada produk energi domestik. Dengan demikian, Indonesia akan jadi importir energi pada 2032,” pungkasnya. /haris

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed