oleh

Piyé Kabare? Enak Zamanku, toh?

Oleh NURDIN M. NOER*

SEBUAH spanduk berukuran lebar terpampang di pinggiran jalan berbagai pelosok kampung dan perdesaan. Dalam spanduk itu tergambar seseorang mirip Soeharto (Presiden ke-2 R.I). Terdapat catatan pada spanduk tersebut berbunyi,”Piyé kabaré? Enak zamanku toh?” Ucapan itu mengesankan seakan hanya pada zamannya ia berkuasa (1967–1998) merupakan “zaman keemasan” bagi seluruh rakyat Indonesia. Weteng wareg, luru duwité gampang ‘perut kenyang, cari uang gampang’.

Kalimat “énak lagi zaman Soeharto” umumnya seringkali dilontarkan kalangan masyarakat bawah, seperti pengemudi angkot, pedagang kakilima, pengojeg dan sebagainya. Namun tidak termasuk kalangan mahasiswa, insan pers, para aktivis, penggerak buruh, para penyair dan kelompok lain yang secara sadar mengenali sosok Soeharto dalam berbagai sisi.

Ingat Soeharto, ingat kalangan aktivis yang telah dibunuh sadis pada zaman ia berkuasa. Marsinah sebagai salah satu contoh, seorang buruh pabrik arloji di Sidoarjo yang dibunuh secara sadis dan mayatnya dibuang di pinggir hutan Sidoarjo.

Marsinah (lahir di Nglundo, 10 April 1969–meninggal 8 Mei 1993 pada umur 24 tahun) adalah seorang aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di dusun Jegong, Desa Wilangan dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.

Dua orang yang terlibat dalam otopsi pertama dan kedua jenazah Marsinah, Haryono (pegawai kamar jenazah RSUD Nganjuk) dan Prof. Dr. Haroen Atmodirono (Kepala Bagian Forensik RSUD Dr. Soetomo Surabaya), menyimpulkan, Marsinah tewas akibat penganiayaan berat. Marsinah memperoleh Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun yang sama. Kasus ini menjadi catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO).
4 Mei 1993, para buruh mogok total, mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250. Tunjangan tetap Rp 550 per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen. Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.

BACA JUGA:   Anak Jalanan Diminta Tak Memalak Sopir Angkot

Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap. Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada 8 Mei 1993 (wiki).

Marsinah, bukan satu-satunya aktivis yang tewas dan diduga dibunuh kalangan militer rezim Soeharto. Nama lainnya, seperti Widji Tukul (penyair), Udin Syarifudin (wartawan Bernas Yogyakarta), Dedi Hamdun (suami artis Eva Arnas), Mulya Elang (mahasiswa) dan ribuan mahasiswa dan rakyat tak berdosa tewas terpanggang pada kebakaran area perbelanjaan (mall) di seluruh Tanah Air. Siapa yang enak pada zaman itu? []

*Wartawan Senior, Aktivis Sastra dan Teater Masa Orde Baru.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed