oleh

Peringati Maulid Nabi Muhammad, Keraton Kanoman Gelar Tradisi Siraman Gong Sekati

CIREBON (CT) – Peringati Maulud Nabi Muhammad SAW Keraton Kanoman Cirebon menggelar tradisi Siraman Gong Sekati yang dilaksanakan setiap tanggal 07 Maulud pukul 09.00 WIB, Selasa (30/12).

Seperangkat alat gamelan dan gong dikeluarkan dari tempat penyimpanan di Gedung Jimat, kemudian dibawa menunju Langgar Alit komplek Keraton Kanoman, oleh abdi dalam dan kerabat Keraton.

Gong sekati merupakan salah satu pusaka Keraton Kanoman peninggalan abad ke-15. Dilakukannya prosesi siraman hanya boleh dilakukan oleh keturunan karabat Keraton Kanoman dari Desa Sindang Kasih, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon. Setelah dilakukan penyiraman, perangkat gamelan digosok dengan serabut kelapa serta abu gosok serbuk batu bata. Adapun makna ritual mencuci gong sekati adalah untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SWT, harus dimulai dengan sesuatu yang suci dan bersih. Usai proses penyiraman gong sekati langsung di bawa ke Bangsal sekaten.

Di tempat tersebut Gong Sekati akan mulai dibunyikan setiap malam pukul 20.00 WIB dari tanggal 8-12 Mulud atau dari mulai nanti malam hingga malam puncak pringatan Maulud Nabi Muhammad atau sering disebut Malam Panjang Jimat.

Pada prosesi muni gong sekati (membunyikan Gong Sekati) terdapat syiar islam melalui budaya kesenian gamelan. Beberapa menit sebelum Gong Sekati dibunyikan hadirin diwajibkan membaca dua kalimat syahadat. Hal ini mempresentasikan bentuk syiar islam melalui budaya. Dan surak atau sawer dilakukan ketika gong dibunyikan bertujuan untuk mengamalkan sebagian rizki.

Gong sekati sendiri merupakan barang-barang kenangan dari sultan Demak II Abdul Qodir atau Pangeran Sabrang Lor kepada Sunan Gunung jati. Pangeran Sabrang Lor dikenal juga sebagai menantu Sunan Gunung Jati yang menikah dengan putri sulungnya Putri Pulung Ayu.

BACA JUGA:   UGJ Adakan Konferensi Internasional ASSETH 2019

Kegiatan ini lebih pada upaya mengingat perjuangan syiar islam oleh Sunan Gunung Jati melalui pendekatan seni dan budaya, seperti halnya Sunan Kalijaga. Para Nayaga akan memainkan lima lagu di antaranya Parianom, Bangau Butak, Rambu Cilik Rambu Gede, Cing Cing Dhuwur, juga Kanjongan. Kelima lagu dimainkan menggunakan Gong Sekati berisikan pesan-pesan kebajikan dan ajakan untuk melaksanakan kebaikan. (CT-105)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed