oleh

Melihat Tradisi Gotong Royong Unik Warga Cicenang

Citrust.id – Pesta pernikahan atau khitanan yang sering disebut hajatan serta membangun rumah bagi warga Blok Dukuhhuma, Kelurahan Cicenang, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, tidak membutuhkan modal besar, karena sebagian besar akan disumbang warga lainnya satu blok.

Modal hajatan hanya dibutuhkan untuk upah dan membeli sayuran atau sewa hiburan bagi yang akan menyelenggarakan hajatan.

Sikap gotong royong, saling bantu terhadap kesulitan tetangga dan warga kampung atau berbagi saat mendapat kebahagiaan masih kental dilakukan oleh mereka.

Jumlah Kepala Keluarga di Blok tersebut menurut keterangan Ketua RT 18, Solihin hanya sebanyak 80 KK, sebagian kepala keluarga sudah lansia namun beberapa diantara mereka masih tetap bisa produkstif dan turut bergotong royong dalam segala hal.

Sikap gotong royong ini misalnya ditunjukan ketika masyarakat akan melakukan hajatan atau membangun rumah.

Menurut Solihin serta sejumlah warga lainnya Tati, Muhali dan Ian, bagi yang akan menyelenggarakan hajatan tinggal melaporkan kepada Ketua RT dan menyampaikan waktu pelaksanaan hajatan. Setelah mendapat laporan ketua RT akan keliling kerumah-rumah warga untuk memberitahukannya kembali.

Satu minggu menjelang hajatan, warga akan langsung berdatangan ke rumah Ketua RT untuk menyerahkan bantuan kebutuhan kelengkapan hajatan, seperti beras, mie instan, minyak goreng, telur, rokok, beras ketan, garam, bumbu penyedap, gula putih, aneka kue, hingga terasi dan lain sebagainya.

“Tiga hari sebelum hajatan di mulai semua barang sudah bisa diangkut oleh warga yang akan melaksanakan hajatan. Biasanya semua kebutuhan sudah lengkap bahkan berlebih. Pemilik hajat tinggal memenuhi kebutuhan yang belum ada dari masyarakat,” ungkap Solihin, Rabu (20/11/2019).

Penyumbang ini jika diuangkan nilainya berpariasi tergantung kemampuan masing-masing. Ada yang mencapai Rp 700.000, ada yang hanya Rp 50.000 seperti menyubang 2 kg telur ayam. Atau hanya menyumbang dua bungkus garam, kecap dan bumbu penyedap lainnya, atau 5 kg beras putih.

BACA JUGA:   Polres Majalengka Raih Juara I Lomba Menembak Hari Juang TNI AD

Semua yang nyumbang menurut Solihin dicatat satu persatu barang apa yang disumbangkannya. Daftar catatan dibuat dua, satu catatar RT serta salinan diserahkan kepada pemilik hajat. Agar ketika balik hajatan yang disumbang bisa melihat apa yang dulu diterimanya dan kembali menyumbang dengan barang yang sama.

“Ada kalanya minyak goreng bisa memperoleh 2 kwintal, beras 5 kwintal, barang bisa melimpah melebihi kebutuhan hajatan. Mengangkut barang dari rumah saya bisa diangkut dua kendaraan bak terbuka,” kata Solihin.

Untuk pamulang (pengembalian) bagi yang tidak makan atau yang tidak datang hanya menitipkan amplof juga bisa dipenuhi dari donatur karena banyak warga yang menyumbang kue, mie hingga minuman ringan atau air mineral. Makanan atau minyak goreng sisa hajat biasanya dibagikan kepada para pekerja atau tetangga, jika terlalu banyak kadang dijual oleh pemilik hajat.

“Pada saatnya hajat, semua warga tetap datang ke lokasi hajatan dan memberikan amplop sesuai keiklasan masing-masing,” katanya.

Sumbangan semacam ini berlaku juga bagi mereka yang akan membangun rumah. Warga berupaya menyumbang semen, bata merah, paku, genting, besi, cat atau barang apa saja sesuai keuangan. Pengerjaan pembangunan rumah juga dilakukan secara gotong royong. Pemilik rumah tinggal mencari pekerja tukang tembok atau tukang kayu.

Tak heran jika membangun rumah berukuran sedang bisa selesai dalam kurun waktu belasan hari saja karena setiap hari warga yang menyumbang tenaga bisa mencapai puluhan orang. Untuk mengepektifkan warga yang akan membantu tenaga, biasanya ketua RT membuat jadwal kerja bagi warganya agar setiap hari pekerja bisa tetap ada.

Menurut warga setempat sikap ini sudah dilakukan sejak dulu, sejak orang tua Solihin masih hidup. “Saya meneruskan langkah orang tua saya sudah 18 tahunan. Katanya dulu gotong royong seperti ini dilakukan karena banyak warga yang rumahnya bilik dan tidak bisa membangun rumah. Tokoh-tokoh kemudian berkumpul untuk rereongan. Setelah itu berlanjut hingga sekarang,” pungkas Solihin. (Abduh)

Komentar

News Feed