oleh

KUMUH

Oleh DADANG KUSNANDAR*)

MENYUSUR Jalan Kalibaru Selatan dan Kalibaru Utara Kota Cirebon sungguh tidak nyaman. Kali  Sukalila yang terletak di tengah kota tidak memberikan pemandangan sejuk dan asri. Bangunan liar sepanjang kali berupa kios pedagang kaki lima berbagai jenis produk jual menutup sungai yang dicitrakan sebagai ikon Kota Cirebon. Bersebelahan dengannya tegak berdiri toko dan pusat perdagangan. Pemandangan yang kontradiktif tiap saat tampak.

Sudah berapa kalikah upaya recovery Kali Sukalila dilakukan pemerintah? Seingat saya baru satu kali. Lupa tahun berapa ketika beco milik pemda macet dan tidak berfungsi di tengah kali ketika tengah mengeruk endapan sungai. Cukup lama beko itu mangkrak di tengah sungai dekat jembatan Pamitran. Selebihnya kebijakan pemda menyangkut bantaran Kali Sukalila adalah pembiaran berdirinya puluhan bangunan yang menutup kali.

Melihat fakta itu sedikitnya ada tiga hal penyebab kekumuhan Kali Sukalila. Pertama, belum ada upaya serius penanganan tata ruang kota. Kedua, cukup banyak kepentingan tumpang tindih dalam merekolasi PKL. Dan ketiga, kinerja antar lembaga di bawah pemda sepertinya kurang terintegrasi dengan baik.

Padahal di kota ini ada dinas pariwisata yang bisa memanfaatkan Kali Sukalila sebagai salah satu objek wisata. Ada dinas kebersihan dan pertamanan yang bisa menyulap bantaran Kali Sukalila menjadi ruang hijau terbuka berikut penanaman pohon bagi sirkulasi udara kota. Ada pula dinas pekerjaan umum yang cukup lihai dalam hal konstruksi bangunan di atas jenis tanah apa pun. Dan dinas terkait lain bisa terintegrasi menangani Kali Sukalila.

Berkaca pada keberhasilan Surabaya menjadi hijau dan asri melalui tangan dingin Rismawati saat menjabat sebagai Kadis Kebersihan dan Pertamanan, serta dibantu oleh partisipasi aktif warga plus LSM lingkungan ~Surabaya menjadi sejuk, hijau dan asri. Konon DPRD Kota Cirebon pun pernah melakukan kunjungan kerja dan studi komparasi ke ibu kota Jawa Timur itu. Salah satu agendanya adalah masalah penghijauan kota.

BACA JUGA:   Sultan Saddam Pimpin KNPI Majalengka 2019-2023

Berkaca pula dari kebijakan Walikota Bandung Ridwan Kamil membangun beberapa taman kota hingga memperoleh banyak penghargaan internasional, kiranya sudah cukup referensi pemerintah Kota Cirebon untuk menyulap Kali Sukalila. Bahkan saya yakin para perancang kota (ahli planologi) banyak yang mukim di Cirebon dan pasti memiliki ide/ konsep tata ruang kota sesuai dengan kultur Cirebon.

Tersiar kabar peraturan daerah tentang tata ruang kota Cirebon dibuat menyesuaikan dengan bangunan yang ada di atas tanah. Dengan demikian konsep lingkungan menjadi subordinat. Seharusnya bangunan yang akan didirikan di atas permukaan tanah mengikuti/ menyesuaikan diri dengan kontur alam Cirebon. Korelasi keduanya memungkinkan untuk memperoleh keasrian dan kesejukan kota.

Manakala bangunan yang berdiri di atas bantaran sungai suatu ketika diusut oleh suatu LSM lantas dihujat untuk segera dirobohkan, pada saat itu seakan-akan kita menjadi pendekar lingkungan hidup. Ironinya bangunan yang dipersoalkan biasanya dimiliki oleh pengusaha besar sehingga protes yang muncul berbau kepentingan segepok uang.

Berangkat dari keinginan mulia untuk mengeliminir kekumuhan Kali Sukalila, sudah saatnya pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan publik yang tepat bagi terciptanya sebuah pemandangan yang asri, sejuk dan hijau di Jalan Kalibaru. Jangan berhenti pada pemikiran memenangkan pilkada Kota Cirebon 2018 saja. Masih banyak pekerjaan besar yang mesti dilakukan. []

*) Penulis lepas, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed