oleh

Gayatri Putri Pangestu, Inginkan Tari Tradisional Bisa Mendunia

CIREBON (CT) – Di era modern ini, banyak masyarakat khususnya anak-anak muda yang tidak mengetahui dan peduli terhadap seni budaya tradisional. Padahal, hal tersebut sangatlah penting, karena seni budaya adalah jati diri suatu daerah.

Akan tetapi, di Desa Sigong, Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Cirebon, Gayatri putri pangestu (19) peduli dan bahkan dirinya ingin membuat kesenian tradisioanal hidup kembali seperti pada jaman dahulu.

Gayatri sejak kecil sudah diarahkan oleh ayahnya, yang juga peduli dengan Seni budaya tradisional. Dari bangku SMP dirinya sudah mengajarkan seni tari kepada banyak pihak, yakni Tari Merak yang pertama kali diajarkan terhadap Mahasiswi Akademi Perawatan (Akper) Buntet Pesantren.

Dari situlah dirinya mulai fokus untuk belajar kesenian-kesenian tradisional khususnya seni tari. Perempuan kelahiran Cirebon, 24 Juni 1995 ini mengaku, dirinya menyukai seni, murni karena dirinya sangat suka dari kecil dan memang kebetulan kondisi keluarganya mendukung, yakni keluarga yang suka dan peduli terhadap kesenian tradisional, dan saking sukanya terhadap seni, dirinya ingin mendalami semuanya.

“Saya suka seni dari kecil dan itu murni keinginan saya, kebetulan kondisi keluarga mendukung gitu, karena sama-sama suka seni dan saya ingin ngulik semuanya,” ujar Putri, panggilan akrabnya.

Dara cantik ini sekarang menjadi instruktur tari di sebuah sanggar milik ayahnya, yakni Sanggar Rara santang “Arum Bandung” Desa Sigong, Kecamatan Lemah abang, Kabupaten Cirebon. Dirinya mengajar tari setiap hari Sabtu dan Minggu, dan ratusan anak didik, dari berbagai daerah rutin mengikuti jadwal latihannya.

Ketika ditanyai CT, terkait waktu masa muda yang terganggu, yang di mana pada umumnya anak-anak muda sekarang, yakni main dan nongkrong, dirinya mengaku bahwa, sebenarnya tidak ada yang terganggu, karena dari kecil dirinya tidak terbiasa bermain, bahkan ia suka ikut latihan tari dari pada bermain, karena menurutnya inilah cara bermainnya.

“Saya tidak merasa terganggu, karena dari kecil tidak biasa main, malah lebih suka ikut latihan nari dan itulah cara mainku,” pungkasnya sambil tersenyum.

Mahasisiwi Semester 3 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Fakultas pendidikan seni tari, memiliki cita – cita, ingin menjadi Pendidik Seni Internasional, menurutnya banyak penari hebat, tapi kehebatannya hanya miliknya saja, karena tidak diajarkan ke yang lainnya, dari hal itulah kenapa kemudian dirinya ingin menjadi pendidik, karena pendidik, walaupun tidak hebat, tapi kehebatannya bisa berkembang.

“Banyak penari hebat, tapi kehebatannya hanya miliknya saja, tapi kalau pendidik, walapun tidak hebat, tapi kehebatannya bisa berkembang dan saya ingin suatu saat nanti menjadi pendidik seni yang Go Internasional,” harapnya. (CT-127)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed