oleh

Bubur Sura dan Panjang Jimat, Tradisi Cirebon Berkaitan dengan Penanggalan

Ilustrasi

CIREBON (CT) – Sistem penanggalan yang ada di Cirebon mengadopsi sistem penanggalan Jawa. Merupakan hasil pembicaraan antara Sultan Agung Mataram dengan para ulama Islam, Tanggalan Jawa (Kalender Jawa) yang digunakan di Cirebon tidak sama percis dengan yang ada di Jawa, namun memiliki beberapa perbedaan dari segi penamaannya yang disesuaikan dengan adat dan tradisi Cirebon. Berkaitan dengan itu, di Cirebon ada dua tradisi yang berkaitan dengan penanggalan yaitu bubur sura dan panjang jimat.

Tradisi bubur sura dilakukan dilakukan diawal tahun baru Islam yaitu pada bulan Muharram yang dalam sistem penanggalan di Cirebon disebut bulan Sura, dalam persfektif Cirebon, awal tahun haruslah digunakan untuk introspeksi diri (muhasabah), memperbanyak sedekah, berbagi dan mempererat tali silaturahmi, pada hari kesepuluh bulan Muharram atau bulan Sura setelah selesai melaksanakan puasa sunah di bulan Muharram, masyarakat Cirebon membuat bubur Sura sebagai bentuk untuk memperbanyak sedekat, berbagi dan mempererat tali silaturahmi. Bubur Sura merupakan bubur yang dibuat dari tepung beras dengan santan yang berisi sayuran, daging dan telor, warna putih dari bubur Sura dalam persfektif Cirebon melambangkan kesucian sementara taburan lauk pauknya melambangkan kegembiraan masyarakat Cirebon dalam menyambut tahun yang baru dengan saling bersedekah, berbagi dan mempererat tali silaturahmi.

Selain itu, ada pula panjang jimat.  Dalam persfektif Cirebon berasal kata panjang ( terus menerus), siji ( satu) dan rumat (pelihara) yang berarti “satu hal yang terus menerus harus dipelihara” dan bagi masyarakat Cirebon satu hal tersebut adalah Keislaman yang diwujudkan dari terus memegang teguh esensi dari dua kalimat syahadat. Disebabkan pusaka-pusaka yang ada di keraton-keraton Cirebon berkaitan dengan dakwah Islam maka pusaka-pusaka tersebut dibersihkan (bahasa Cirebon : angumbah gaman) pada bulan mulud karena pada bulan inilah rasul dilahirkan dan menjadi pembawa kesempurnaan bagi Islam, tradisi ini berbeda dengan tradisi di keraton-keraton Jawa di mana keraton Jawa biasa membersihkan pusakanya pada bulan Suro dan bukan pada bulan Mulud seperti yang dilakukan di Cirebon. Bagi kesultanan Kasepuhan misalnya, benda pusaka yang paling berharga bukanlah kereta kencana atau keris melainkan piring-piring yang bertahtakan kaligrafi arab yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati langsung dari Meka. Oleh sebab itu dalam bahasa Cirebon dikenal kata Panjang untuk menyebutkan piring dan Jimat untuk menyebutkan nasi berserta lauk pauknya. (Net/CT)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed