Citrust.id – Tradisi Panjang Jimat kembali digelar Keraton Kasepuhan Cirebon pada Rabu (26/8/2026) malam sebagai puncak rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Prosesi Pelal Ageng tersebut berlangsung dengan arak-arakan berbagai perangkat adat dan sajian yang memiliki makna simbolis terkait kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Goemilar Soeriadiningrat, mengatakan pelaksanaan Panjang Jimat menjadi puncak dari rangkaian kegiatan yang telah dimulai sebelumnya, termasuk tradisi siraman panjang.
“Alhamdulillah malam hari ini, di tanggal 26, di malam Kamis, kami Keraton Kasepuhan Cirebon bisa mengadakan acara tradisi, tradisi Panjang Jimat, yang intinya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW,” kata Goemilar.
Menurut dia, iring-iringan Panjang Jimat terbagi dalam sejumlah bagian, mulai dari Panjang 1 hingga Panjang 7. Dalam rangkaian tersebut juga terdapat meron atau dongdang dengan 38 piring pengiring yang sebelumnya menjalani proses pencucian.
Goemilar menjelaskan, sejumlah benda yang dibawa dalam arak-arakan tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan upacara. Setiap perangkat memiliki simbol yang berkaitan dengan proses kelahiran manusia.
“Sebetulnya tadi iring-iringan itu bermakna kelahiran anak manusia. Jadi contoh, ada Kembang Goyang itu menandakan ari-ari, air pasatan itu seperti air ketuban, atau ya serbat itu seperti darah setelah melahirkan,” ujarnya.
Sebelum arak-arakan dimulai, para abdi dalem dan perangkat keraton terlebih dahulu menjalani persiapan lahir dan batin. Penata upacara melakukan Ngadu Batos dengan menghadap Sultan Sepuh atau pihak yang mewakili untuk menyampaikan maksud sekaligus meminta restu atas pelaksanaan rangkaian Panjang Jimat.
Rangkaian malam tersebut juga diisi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, selawat, zikir, doa, pengkisahan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW, serta tausiah. Kegiatan tersebut berlangsung sejak selepas Magrib hingga menjelang prosesi puncak.
Menjelang arak-arakan, Pangeran Komisi melakukan sungkem kepada Pangeran Patih sebagai penanda dimulainya prosesi. Dalam rangkaian tersebut, Pangeran Patih menjalankan tata laku khusus dengan tidak berbicara selama prosesi sebagai simbol keteguhan, keheningan batin, dan istikamah dalam menjalankan amanah adat.
Setelah itu, rombongan bergerak dengan barisan yang diawali Pangeran Patih, keluarga keraton, tokoh dan perangkat keraton, serta abdi dalem yang mendapat tugas khusus.
Di belakangnya terdapat rombongan pembawa pusaka dan atribut kebesaran keraton. Perangkat yang dibawa antara lain pusaka, bendera kebesaran, panji-panji, atribut adat, serta perlengkapan simbolis lainnya, termasuk Bendera Macan Ali.
Bagian utama arak-arakan kemudian diisi rombongan pembawa Panjang Jimat. Para abdi dalem membawa sejumlah perlengkapan, seperti piring panjang atau Panjang Jimat, kendi, lodor, Nasi Jimat, tumpeng, serta berbagai sajian dan perlengkapan upacara lainnya.
Seluruh bawaan tersebut disusun dan dibawa mengikuti tata cara serta ketentuan adat yang berlaku. Maknanya tidak sebatas sebagai bagian dari prosesi, tetapi menjadi pengingat mengenai nilai keimanan, keteladanan, serta ajaran Nabi Muhammad SAW.
Setelah seluruh rombongan siap, arak-arakan bergerak dari kawasan bangsal keraton menuju Langgar Agung. Perjalanan dilakukan dengan mempertahankan tata urutan rombongan dan melewati kawasan keraton, termasuk Pintu Si Blawong.
Sesampainya di Langgar Agung, perangkat dan sajian Panjang Jimat ditempatkan pada lokasi yang telah ditentukan. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Al-Barzanji yang memuat riwayat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
Pembacaan tersebut dilakukan bersama-sama dalam suasana khidmat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Setelahnya, rangkaian ditutup dengan doa bersama untuk memohon keberkahan, keselamatan, ketenteraman, serta petunjuk agar masyarakat dapat meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.
Puncak Panjang Jimat atau Pelal Ageng menjadi bagian penting dalam peringatan Maulid Nabi di Keraton Kasepuhan Cirebon. Tradisi tersebut memadukan tata adat keraton, syiar Islam, penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, dan pelestarian warisan budaya Cirebon.
Melalui prosesi tersebut, peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga mengingatkan pentingnya menerapkan nilai dan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari. (Haris)







