Citrust.id – Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar Tradisi Ruwahan dalam rangka memperingati Nisfu Syaban di Pungkuran Bangsal Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, Selasa (3/2/2026).
Tradisi tersebut menjadi agenda tahunan yang terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus spiritual Keraton Kasepuhan Cirebon.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, mengatakan, peringatan Nisfu Syaban yang dalam tradisi lokal dikenal sebagai bulan Ruwah merupakan tradisi turun-temurun yang selalu dilaksanakan oleh Keraton Kasepuhan setiap tahun.
“Tadi memang kita mendengarkan makna peringatan Nisfu Syaban yang disebut juga bulan Ruwah. Ini tradisi yang dari dulu dijalankan oleh Keraton Kasepuhan Cirebon,” ujar Pangeran Raja Goemelar.
Ia menjelaskan, bulan Ruwah menjadi momentum bagi masyarakat untuk mendoakan para leluhur dan orang-orang yang telah meninggal dunia. Selain itu, Nisfu Syaban diyakini sebagai waktu pencatatan amal perbuatan manusia sebelum dilaporkan kepada Allah SWT.
“Di bulan ini kita mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia. Tadi juga disampaikan oleh Kiai Jumbur bahwa catatan amal kita akan dilaporkan kepada Allah SWT,” katanya.
Menurut Pangeran Raja Goemelar, peringatan Nisfu Syaban memiliki keterkaitan erat dengan rangkaian peristiwa keagamaan lainnya. Rangkaian tersebut dimulai dari bulan Rajab dengan peristiwa Isra Mikraj, dilanjutkan Nisfu Syaban, hingga memasuki bulan suci Ramadan.
“Ini memang satu rangkaian bulan yang penuh keberkahan dan ampunan, apalagi nanti di bulan suci Ramadan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam tradisi masyarakat Cirebon, Nisfu Syaban lebih dikenal dengan istilah Ruwahan yang memiliki makna mendoakan arwah para leluhur sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan nilai-nilai spiritual.
Setelah bulan Syaban, Keraton Kasepuhan Cirebon juga berencana menggelar tradisi Dlugdag atau memukul bedug sebagai penanda masuknya bulan suci Ramadan. Pelaksanaan tradisi tersebut tetap menunggu keputusan resmi pemerintah melalui Kementerian Agama.
“Biasanya tradisi memukul bedug dilakukan pada bada Asar sebagai tanda masuk bulan suci Ramadan. Itu pun menunggu keputusan pemerintah agar tidak terjadi kebingungan di masyarakat,” ungkapnya.
Melalui rangkaian tradisi keagamaan tersebut, Pangeran Raja Goemelar berharap umat Islam dapat terus mengingat pesan Rasulullah SAW untuk menjaga kualitas ibadah, khususnya salat lima waktu, serta senantiasa menaati ajaran Allah SWT yang tertuang dalam Al-Qur’an. (Haris)













