Citrust.id – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, suasana khidmat menyelimuti Keraton Kasepuhan Cirebon. Dentuman bedug Samogiri kembali menggema dalam tradisi Dlugdag, sebuah ritual turun-temurun yang menjadi penanda dimulainya ibadah puasa sekaligus simbol kuat pelestarian warisan budaya Islam di Cirebon.
Tradisi Dlugdag bukan sekadar seremoni tahunan. Prosesi sakral ini diyakini telah ada sejak era Sunan Gunung Jati dan terus dijaga oleh keluarga keraton hingga kini.
Penabuhan bedug dilakukan di area masjid keraton atau Langgar Agung seusai salat Asar sebagai tanda resmi menyambut Ramadan.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, menegaskan bahwa Dlugdag merupakan warisan budaya yang tidak terpisahkan dari identitas keraton.
“Sejak zaman Sunan Gunung Jati, tradisi Dlugdag sudah ada sebagai tanda masuknya bulan suci Ramadan. Kita sebagai keturunan keraton wajib melestarikan tradisi tersebut,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Ia menjelaskan, tradisi yang telah berusia ratusan tahun ini menjadi ciri khas Keraton Kasepuhan dalam menyambut Ramadan. Dlugdag sendiri bermakna menabuh bedug Samogiri yang berada di kompleks masjid keraton, dilakukan secara khusus dan penuh penghayatan spiritual.
Dalam prosesi tersebut, empat hingga lima orang penabuh terlibat, biasanya terdiri atas Sultan, Penghulu Keraton, serta anggota keluarga keraton lainnya. Namun, pada Ramadan tahun ini, penabuhan dipimpin oleh Patih Sepuh bersama keluarga keraton.
Setiap dentuman bedug memiliki makna religius mendalam karena diiringi lantunan zikir dan selawat. Pukulan pertama dibarengi bacaan “Lailahaillallah Muhammadarrasulullah” sebanyak dua kali. Pukulan kedua disertai bacaan “Allah” sebanyak tujuh kali. Adapun pukulan ketiga diiringi bacaan “La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim”.
Rangkaian tradisi Ramadan di Keraton Kasepuhan tidak berhenti pada Dlugdag. Pada malam ke-20 atau malam likuran (malam ganjil), keraton juga menyalakan lilin sebagai simbol menyambut malam Lailatul Qadar.
Tradisi itu menjadi pengingat akan pentingnya memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Keberlanjutan tradisi Dlugdag menunjukkan komitmen Keraton Kasepuhan dalam menjaga nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.
Dentuman bedug Samogiri pun tak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga gema sejarah yang menghubungkan masa lalu dan masa kini dalam semangat menyambut Ramadan 1447 Hijriah. (Haris)













