Tradisi Apeman di Keraton Kasepuhan Cirebon Wujud Syukur dan Doa

  • Bagikan
Tradisi Apeman di Keraton Kasepuhan Cirebon Wujud Syukur dan Doa
Tradisi apeman di Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi wujud syukur dan doa. (ist)

Citrust.id – Tradisi Apeman Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menjadi salah satu rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Selain Apeman, Keraton Kasepuhan juga akan menggelar sejumlah tradisi adat yang berlangsung sejak bulan Safar hingga mencapai puncaknya pada 12 Mulud atau bertepatan dengan 26 Agustus 2026.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Goemilar Soeriadiningrat, mengatakan seluruh rangkaian tradisi tetap dilaksanakan sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.

“Insyaallah tetap melaksanakan tradisi yang tadi disampaikan, yaitu Apeman. Rangkaian peringatan Maulid Nabi itu satu rangkaian di bulan Safar yang diawali beberapa tradisi, yaitu Buka Bekaseman Ikan yang dilaksanakan tanggal 5 Safar,” ujar Goemilar.

Ia menjelaskan, Bekaseman Ikan akan kembali dibuka pada 5 Mulud sebagai bagian dari rangkaian Siraman Panjang. Tradisi Siraman Panjang merupakan prosesi pencucian piring atau benda peninggalan Sunan Gunung Jati yang kemudian diarak hingga puncak peringatan Maulid Nabi pada 12 Mulud.

“Siraman Panjang adalah pencucian piring atau peninggalan dari Sunan Gunung Jati yang insyaAllah akan diarak di puncaknya pada tanggal 12 Mulud yang jatuh pada 26 Agustus,” katanya.

Selain itu, Keraton Kasepuhan juga akan menggelar tradisi Gerboan selama bulan Safar. Tradisi tersebut berupa pelaburan atau pengecatan menggunakan tanah merah di kawasan Siti Inggil, tembok-tembok Pustaka Kasepuhan, hingga Keraton Dalam Agung Pakungwati.

“Jadi ada beberapa rangkaian atau acara yang nanti insyaallah di bulan Mulud sampai puncaknya,” ucapnya.

Goemilar menjelaskan, Tradisi Apeman memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa bersama agar masyarakat diberikan perlindungan dari berbagai musibah.

“Makna Apeman itu adalah sebagai wujud syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita bersama-sama berdoa meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari tolak bala atau marabahaya,” tuturnya.

BACA JUGA:  “Mimpi Dadi Raja”

Menurutnya, tradisi tersebut juga berkaitan dengan pandangan masyarakat mengenai bulan Safar yang identik dengan berbagai musibah. Namun, ia menegaskan bahwa doa dan permohonan perlindungan kepada Allah tidak terbatas pada waktu tertentu.

Dalam rangkaian menyambut Mulud, Keraton Kasepuhan juga akan menggelar Rebo Wekasan pada 13 Agustus. Kegiatan tersebut akan diisi dengan sedekah kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial.

“Insyaallah pada tanggal 13 Agustus kita akan memberikan sedikit rezeki kepada masyarakat dari keraton,” kata Goemilar.

Sementara itu, Tradisi Apeman yang telah dilaksanakan diikuti oleh keluarga besar Keraton Kasepuhan Cirebon, para sesepuh, wargi, dan para abdi dalem. Kehadiran mereka menjadi simbol kebersamaan dalam menjaga tradisi sekaligus menjadi rangkaian peringatan Maulid Nabi yang akan berlangsung hingga puncaknya pada 12 Mulud. (Haris)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *