Citrust.id – Perlambatan ekonomi global yang diiringi ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter dunia mendorong investor melirik emas sebagai instrumen lindung nilai.
Di tengah volatilitas pasar keuangan, emas dinilai tetap mempertahankan perannya sebagai safe haven yang relatif stabil dibandingkan instrumen investasi lain.
Analis sekaligus Kepala Cabang PT Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman, mengatakan, emas memiliki karakteristik unik karena tidak bergantung pada kinerja satu negara, mata uang, maupun kebijakan tertentu.
“Dari dulu sampai sekarang, setiap kali ekonomi global melambat atau penuh ketidakpastian, emas selalu kembali dilirik. Emas berdiri di luar sistem keuangan konvensional, sehingga lebih dipercaya saat risiko meningkat,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).
Menurut Ernest, meskipun berbagai instrumen investasi modern menawarkan potensi imbal hasil yang menarik, sebagian besar tetap memiliki keterkaitan langsung dengan risiko sistemik.
“Dalam kondisi ekonomi global yang tidak pasti, emas masih menjadi tempat parkir dana yang dianggap aman oleh banyak investor,” katanya.
Ia menjelaskan, pergerakan harga emas berjangka tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Harga terbentuk dari kombinasi sejumlah variabel fundamental dan sentimen pasar.
“Pemicu yang paling sering memengaruhi harga emas berjangka adalah kebijakan suku bunga dan arah bank sentral, pergerakan nilai dolar Amerika Serikat, serta sentimen pasar global,” tutur Ernest Firman.
Sementara itu, permintaan fisik emas dan pembelian oleh bank sentral juga memiliki peran, terutama dalam jangka menengah dan panjang. Namun, dalam jangka pendek, pasar emas berjangka cenderung lebih sensitif terhadap dinamika sentimen dan kebijakan moneter global.
Di balik peluang yang ada, Ernest mengingatkan investor agar tidak mengabaikan risiko perdagangan emas berjangka. Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah rasa percaya diri berlebihan.
“Banyak investor beranggapan emas pasti naik, lalu masuk pasar tanpa perhitungan risiko. Padahal, emas berjangka sangat fluktuatif,” ujarnya.
Penggunaan margin tanpa perencanaan matang juga menjadi risiko lain yang kerap luput dari perhatian. Pergerakan harga yang relatif kecil saja dapat berdampak signifikan terhadap modal jika tidak diimbangi dengan manajemen risiko yang baik.
“Manajemen risiko adalah fondasi utama. Tanpa manajemen risiko, sebaik apa pun analisis yang dilakukan bisa runtuh dalam waktu singkat,” katanya.
Dengan manajemen risiko yang tepat, investor dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, belajar dari kesalahan, dan berkembang secara berkelanjutan.
Terkait waktu yang tepat untuk masuk ke pasar emas berjangka, Ernest menegaskan bahwa hal tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh level harga.
“Waktu yang tepat itu bukan soal harga mahal atau murah, tetapi soal kesiapan investor,” ucapnya.
Ia menuturkan, PT Equityworld Futures (EWF) Cirebon secara konsisten memberikan edukasi dan literasi kepada calon nasabah mengenai mekanisme perdagangan emas berjangka, potensi keuntungan, serta risiko yang menyertainya.
“Setelah calon investor memiliki pemahaman yang lengkap dan rencana transaksi yang jelas, kapan pun sebenarnya bisa mulai. Yang perlu dihindari adalah masuk karena ikut-ikutan atau takut ketinggalan momentum,” ujarnya.
Bagi investor pemula, Ernest menyarankan pendekatan konservatif dengan mengalokasikan sekitar 10 hingga 20 persen dari total modal, fokus mempelajari analisis teknikal dan fundamental, serta tidak terlalu sering membuka posisi.
“Di tahap awal, jangan mengejar untung besar. Yang lebih penting adalah memahami ritme pasar dan membangun disiplin,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi dan simulasi sebelum bertransaksi di pasar riil. Edukasi mengenai profil perusahaan pialang, karakteristik produk perdagangan berjangka, serta potensi risiko dan keuntungan merupakan prosedur standar yang wajib dijalankan.
“Melalui simulasi, investor bisa merasakan dinamika pasar tanpa risiko kehilangan dana sungguhan,” ujarnya.
Dalam meningkatkan literasi perdagangan emas berjangka, Ernest mengakui masih terdapat tantangan berupa persepsi di masyarakat.
“Masih banyak yang memandang perdagangan berjangka sebagai sesuatu yang rumit dan berisiko tinggi, tanpa memahami mekanisme dan regulasinya,” kata dia.
Oleh karena itu, pihaknya berupaya mengedukasi masyarakat dengan pendekatan yang sederhana, jujur, dan realistis.
Dari sisi perlindungan investor, Ernest menilai regulasi perdagangan berjangka di Indonesia pada prinsipnya sudah cukup memadai, terutama dengan pengawasan otoritas yang berwenang.
Namun, ia menekankan pentingnya kesadaran investor untuk hanya bertransaksi melalui perusahaan pialang resmi dan berizin.
“Regulasi saja tidak cukup. Investor juga harus aktif belajar, memahami hak dan kewajibannya, serta tidak mudah tergiur janji keuntungan yang tidak masuk akal,” ujarnya.
Ernest membagikan kiat agar investor tetap disiplin di tengah fluktuasi harga emas.
“Punya trading plan dan patuhi trading plan tersebut. Jangan mengubah keputusan hanya karena emosi. Volatilitas pasar emas justru menjadi ujian utama bagi kedisiplinan dan konsistensi investor dalam jangka panjang,” pungkasnya. (Haris)













