oleh

350 Indonesia Bersama Nelayan Blokir Dermaga di Lokasi PLTU Sumuradem

INDRAMAYU (CT) – Nelayan Indramayu bersama 350 Indonesia dan Rakyat Penyelamat Lingkungan (RAPEL), melakukan aksi blokir jalur dermaga tongkang batu bara di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 Sumuradem, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Sabtu (13/02).

Aksi tersebut, menuntut agar PLTU 1 ditutup dan menolak pembangunan PLTU 2. Pasalnya, limbah PLTU batu bara tersebut sangat mencemari laut, sehingga para nelayan kesulitan mencari udang dan ikan di laut di lokasi yang kini jadi bangunan PLTU itu, yang dulu menjadi lumbung.

Aksi dilakukan dengan menggunakan perahu, menutup jalur dermaga tempat bersandarnya kapal tongkang batu bara PLTU Sumuradem selama beberapa jam. Para nelayan pun membentangkan spanduk-spanduk yang bertuliskan bernada protes, seperti stop PLTU, stop batu bara, kemudian break free from fossil fuels yang bernada penutupan dan penolakan PLTU 1 dan 2.

“Tidak ada kata lain selain tutup PLTU 1 dan Batalkan PLTU 2. Dampak PLTU 1 sudah jelas, masyarakat sekitar hanya menjadi korban, baik dari sisi lingkungan maupun sosial dan ekonomi,” tegas Bejo Kurniawan, Koordinator 350 Indonesia yang memimpin aksi blokir dermaga kapal tongkang batu bara PLTU Sumuradem, Sabtu (13/02).

Hal senada diungkapkan, Kartana nelayan asal Desa Sukohaji, Kecamatan Patrol, yang ikut dalam aksi tersebut, dirinya sangat kesulitan mencari udang dan sejenisnya di laut sekitaran PLTU, karena limbah yang mencemari laut tersebut, dan kapal-kapal tongkang yang merusak jaring para nelayan yang terpasang di laut itu.

“Disitu dulunya menjadi lumbung udang dan ikan, tapi sekarang sih susah. Ya maunya sih ditutup, apalagi ini mau nambah PLTU 2, mau jadi apa kita,” ungkapnya.

Sementara itu, Sasep Muhamad, Pengamat Sosial dan Lingkungan Indramayu mengungkapkan, ada 269,7 hektare sawah di Desa Mekarsari, Patrol Baru, Kecamatan Patrol dan Desa Sumuradem, Kecamatan Sukra yang terancam hilang, karena di wilayah itu adalah lokasi pembangunan PLTU

BACA JUGA:   Lampor Keranda Terbang Tayang Perdana di Cirebon

2. Hal ini akan menjadi masalah, bukan hanya akan menurunkan target produksi pangan akibat alih fungsi lahan untuk PLTU 2, ratusan warga pun akan kehilangan mata pencaharian, seperti buruh tani tetap dan tidak tetap, termasuk juga para petani lahan yang menyewa pada para pemilik.

“Efek lain yang akan diderita warga, yakni pencemaran lingkungan dipastikan akan meningkat, yang sebelumnya sudah tercemar dari PLTU 1 Sumuradem. Ini harusnya menjadi pertimbagan pemerintah, dan tidak ada solusi lain kecuali tutup PLTU 1 dan tolak pembangunan PLTU 2,” tutupnya. (Riky Sonia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed