oleh

Profit Keuntungan Lebih Besar, Petani Mangga Mulai Beralih ke Mangga Import

INDRAMAYU (CT) – Mangga adalah buah khas dari Indramayu, konon katanya cita rasa mangga Indramayu berbeda dengan buah mangga yang berasal dari daerah lain. Namun, dengan banyaknya cita rasa yang hampir sama, membuat sebagian petani mulai berpikir untuk beralih menanam pohon mangga import. Kamis (27/11).

Eka Nurahman (24) penjual bibit mangga import di Desa Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, mengaku bahwa kualitas dari mangga import lebih baik dari mangga lokal. Namun, harga yang lebih terjangkau, menurut Eka, menjadi alasan utama mengapa banyak petani di Indramayu lebih memilih untuk menanam mangga import.

“bibit mangga dari Thailand antara lain khiojay , chokanan, okyong, chokbabun, yuwen, dan R2ER itu bisa didapatkan dengan harga mulai dari Rp. 20.000 hingga Rp. 70.000 dengan ukuran 50 cm per bibit, sedangkan untuk mangga lokal saya menjual bibit jenis agri gardina, garifta, marifra, kenlayung, manalagi dan harumanis dengan ukuran 50 cm mulai dari harga Rp. 40.000 hingga Rp. 143.000,” ujar Eka.

Eka menambahkan bahwa ukuran dan berat mangga import dua kali lipat dari mangga lokal, dan rasanya pun tidak kalah dengan mangga lokal.
“Dengan tekstur kulit yang tebal, bijinya tipis , dan warna kulit yang jika masak itu merah keungu-unguan dan agak bergincu, beratnya bisa mencapai 1 – 1,5 kg per biji bahkan ada yang hingga mencapai 3 kg jika dirawat dengan baik,” lanjut Eka.

Masih menurut Eka, harga jual mangga import pun lebih malah ketimbang mangga lokal. “Selain diberi pupuk organik dan non organik saya pun merawatnya dengan memberi perangkap lalat agar tidak berulat dan ketika masak saya bungkus dengan koran bekas, hasilnya jauh lebih baik, dan harga per kilonya pun jauh lebih mahal mulai dari Rp. 30.000 hingga lebih dari Rp. 100.000.” Ungkapnya (CT-112)

Komentar

News Feed