oleh

Mengajar Itu Rekreasi yang Paling Indah

Warisan untuk dunia pendidikan dari Alm. KH Maimun Zubair

Oleh: Firman Saefatullah
(Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti Senior di IED Majalengka)

“Yang paling hebat dari seorang guru adalah mendidik dan rekreasi paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya. Namun hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”. (KH. Maimun Zubair/Mbah Moen).

Kutipan penuh hikmah di atas yang diungkapkan oleh seorang guru yang telah berpengalaman puluhan tahun mengajar ribuan anak didik, menarik penulis untuk menelaah lebih dalam tentang bagaimana tugas kita sebagai seorang guru dan relevasinya dengan tantangan global pada masa sekarang.

Mendidik Itu Hebat

Secara normatif, tugas seorang guru adalah mendidik yang diaplikasikan dengan kegiatan belajar mengajar, baik dilakukan di dalam kelas secara langsung maupun melalui pemanfaatn teknologi daring. Akan tetapi, KH Maimun Zubair, yang biasa di panggil Mbah Moen, mengungkapkannya dengan kata “hebat”. Sebuah kata yang menggambarkan pekerjaan di luar kebiasaan.

Ketika seorang tukang bangunan mengerjakan tugasnya membuat sebuah rumah atau seorang driver mengendarai kendaraannya mengantarkan penumpang ke tempat tujuan atau bahkan seorang presiden melaksanakan tugas kenegaraannya mengunjungi daerah terluar di negaranya, hal ini mestinya sama seperti seorang guru yang menjalankan tugasnya mengajar anak didiknya di kelas.

Akan tetapi, Mbah Moen, pengasuh salah satu Lembaga Pendidikan Islam (Pondok Pesantren) yang besar di Indonesia dengan ribuan anak didik (santri) yang berasal dari berbagai daerah, memandang tugas mendidik seorang guru sangat luar biasa. Dengan segala keterbatasan seseorang yang diamanatkan kepadanya tugas sebagai guru, tentunya mempunyai tangung jawab. Bukan hanya mentransfer ilmu dari sebuah buku pelajaran kepada anak didik, bukan pula hanya sebagai jembatan penghubung antara pengetahuan yang ada di luar kelas dengan anak didik yang ada di dalam kelas.

Mbah Moen menggambarkan tugas guru bukan hanya sebatas mengajar yang dalam bahasa arab disebut ta’lim, akan tetapi harus bisa mendidik (tarbiyah). Seorang pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan bertanggung jawab secara holistik dan komprehensif meliputi fisik dan psikis (kejiwaan) anak didik.

Perihal mendidik, di kalangan akademisi pesantren sering menyebut guru sebagai murobbi lebih tepatnya seseorang yang melakukan pendampingan melekat, memberikan pengajaran, menjadi tauladan, membimbing anak didik melewati pengalaman kebatinan dan memberikan langkah-langkah solutif bagi anak didik. Seorang murobbi harus harus hadir di antara anak didik dan kondisi kejiwaaanya dalam memahami sebuah ilmu pengetahuan. Sampai digambarkan, murobbi harus juga membenarkan posisi topi seorang anak didik yang dipakainya dalam posisi miring.

Mendidik itu harus menjadi panggilan jiwa, hal-hal yang bersifat materi hendaknya tidak menjadi motivasi dan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan. Mbah Moen menyederhanakan konsep kesungguhan mendidik seorang guru dalam bentuk keihlasan. Dalam hal ini Mbah Moen menyindir pada pendidik dengan ungkapan “Nak, kalau kamu jadi guru, dosen atau kiai, kamu harus tetap usaha sampingan, biar hatimu tidak selalu mengharap pemberian atau bayawan orang lain, karena usaha dari hasil keringatmu sendiri itu barokah.”

BACA JUGA:   Pengusaha Kapal Keberatan Retribusi di TPI Kejawanan, DPRD Dorong Penyelesaian

Mengajar Itu Rekreasi yang Indah

Pondasi yang dibangun melalui ungkapan “mendidik itu hebat” di atas, Mbah Moen meniscayakan nilai-nilainya mampu menjadi spirit bagi seorang pendidik dalam menjalankan tugasnya, sehingga pada akhirnya tugas mendidik bukan menjadi beban berat yang harus dipikul oleh seorang guru, namun akan menjadi wadah kegiatan yang menyenangkan sebagaimana lazimnya orang berekreasi yang dalam bahasa lugasnya mbah Moen menyebut “rekreasi paling indah adalah mengajar”.

Dalam rekreasi, seorang guru bukan hanya harus dalam kondisi kejiwaan yang rileks menjalankan kegiatan tersebut, akan tetapi lebih jauh dari itu harus mendatangkan inspirasi dan solusi dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran selanjutnya. Karena dalam kondisi yang tenang dan menyenangkan akan dengan sendirinya terwujud ide-ide kreatif dalam proses transformasi keilmuan ini.

Dalam hal kondisi menyenangkan ini, sampai keberhasilan sebuah konsep belajar PAKEM pun terletak pada kata “menyenangkan”. Menyenangkan menjadi kunci utama yang seharusnya sudah dibangkitkan sejak awal pembelajaran, Dave Meier, dalam bukunya yang berjudul The accelerated Learning Hanbook menuliskan; “Menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam keadaan gembira bukan berarti membuat suasana ribut atau hura-hura. Ini tidak ada hubungannya dnegan kesenangan yang sembrono dan kemeriahan yang dangkal.

Kegembiraan di sini berarti bangkitnya minat, adaanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari) dan nilai yang membahagiakan dalam diri siswa.” Bahwa dalam kalimat berikutnya Meier menegaskan bahwa penciptaan kegembiraan jauh lebih penting dari pada segala teknik metode maupun media yang digunakan.

Sedangkan Paulo Fraire mengistilahkan joyfull learning untuk pendidikan yang menyenangkan, menurutnya pembelajaran yang ada di dalamnya tidak ada tekanan, baik tekanan fisik mapun psikologis. Sebab tekanan apapun namanya hanya kaan mengerdilkan pikiran anak didik, sedangkan kebebasan apapun wujudnya akan dapat mendorong terciptanya iklim pembelajaran (learning climate) yang kondusif.

Mbah Moen dengan pengalamannya mendidik, beliau telah mampu membuat konsepsi untuk menciptakan pendidikan yang menyenangkan, dengan menitik beratkan pada tanggung jawab guru dalam mendidik peserta didik adalah sebagai wahana rekreasi, di mana antara guru dan peserta didik tidak ada tekanan, baik dalam pengkondisian dan pembiasaan lahiriah maupun batiniahnya.

Selanjutnya Mbah Moen mereduksi semua persoalan yang dialami seorang pendidik dengan perkataan “Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya”.

Ungkapan ini mendeskripsikan bahwa seorang pendidik akan menemukan ujian dan tantangan dalam menjalankan rencana pembelajarannya, semua rencana yang sudah disusun rapi dan dengan perhitungan yang terukur pun belum tentu akan dapat diaplikasikan sesuai harapan.

BACA JUGA:   Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Kampanyekan Kesehatan Reproduksi dan Anti Kekerasan Seksual

Maka dari itu, suasana kebatinan pendidik harus siap menghadapinya, dan menjadikan hal tersebut bukan sebagai rintangan yang membuat “kacau” kejiwaaanya dalam berinterkasi dengan anak didik, namun seyogyanya setiap kejadian diluar prediksi bisa menjadi sumber inspirasi dalam mencari solusi melalui penciptaan model-model baru pembelajaran.

Buah dari pendidikan yang Menyenangkan

Sebagai sebuah proses tanpa ujung, pendidikan mengkristal dalam sebuah siklus yang terus berputar tanpa henti. Memulainya dengan sebuah perencanaan dilanjutkan dengan pelaksanaan dan hasil yang terus menerus di evaluasi, kemudian membuahkan perencanaan untuk kegiatan selanjutnya.

Outcome pendidikan di negara kita diharapkan sesuai dengan tuntutan konstitusional undang-undang sisdiknas, yaitu supaya anak didik dapat mengembangkan potensi diri secaar aktif untuk mendapatkan keterampilan, kahlak mulia, kecerdasan, kepribadian, pengendalian diri, dan kekuatan spiritual keagamaan yang diperlukan oleh dirinya sendiri dan masyarakat.

Mbah Moen dalam prespektif religiusnya pun mengamanahkan kepada para guru untuk bisa menghasilkan outcome yang sama dari pendidikan pendidikan. Hasil yang maksimal dari sebuah proses yang berkelanjutan, “Hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”.

Surga dalam dalam dimensi dunia adalah anak yang mampu meberikan kebanggaan baik bagi dirinya sendiri, keluarga dan bangsanya. Anak didik yang pada kemudian hari menjadikan dirinya sebagai kemanfaatan untuk banyak orang dan mampu mengaktualisasikan keilmuan yang diberikan gurunya. Tentu ini merupakan surga dunia bagi seorang guru.

Dalam dimensi religius, dengan keihlasan mengajar dari seorang guru akan mempunyai sebuah kesan tersendiri yang di alami oleh peserta didik, yang kelak akan terus mendoakan yang terbaik, termasuk berdoa untuk tempat mulia bagi para gurunya yaitu surga.

Semoga Almarhum KH Maimun Zubair diterima segala amal kebaikannya dan meninggalkan kita semua dalam Husnul Khotimah serta ditempatkan di Surga-Nya bersama pada guru-guru yang ikhlas mendarmabaktikan hidupnya untuk terus mendidik.

KH Maimun Zubair, pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Jawa Tengah, seorang pendidik yang karismatik, beliau wafat satu hari kemarin dalam rangkaian kegiatan ibadah Haji di tanah suci Mekah, kepergian beliau meninggalkan duka dan kenangan penuh nilai untuk dunia pendidikan terutamanya pendidikan Islam di bumi nusantara ini. (*)

Komentar

News Feed