oleh

Kain Tenun Khas Nunuk Majalengka Terancam Punah

MAJALENGKA (CT) – Jumlah perajin kain tenun tradisional di Desa Nunuk Baru, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, kini makin berkurang dan terancam punah. “Hanya tinggal tiga orang yang bisa membuat kain tenun ini, itu juga sudah nenek-nenek semua,” kata Yanto Nuba Sekdes Desa Nunuk Baru, Yanto Nuba, Minggu (21/12).

Yanto mengatakan kain tenun yang dikenal dengan kain gadod ini terancam punah selain tidak ada regenaeasi perajin juga kecilnya pasar kain tenun tradisional asal Nunuk ini rupanya terkait kain yang dihasilkan lebih terbatas untuk kain kafan dan karembong (kain untuk menggendong berukuran 4 meter x 50 sentimeter-red) atau disebut selendang.

Meskipun menurutnya kain tenun buatan mereka relatif lebih kuat dan awet, terbukti, kain tenun tersebut bisa digunakan hingga belasan tahun. Namun, kini kain tersebut tergeser oleh kain yang kualitasnya tidak sebagus kain tenun nunuk, jumlahnya banyak karena diproduksi oleh pabrik.

Saat ini, kain tenun yang dibuat Ma Babu Warsim, Ar-tamah, Suniah, Sakem, serta beberapa warga lain hanya terbatas untuk kebutuhan kain kafan dan karembong. Di Nunuk, kebutuhan kain kafan bagi warga yang keluarganya meninggal masih menggunakan kain tenun buatan sendiri. Selain regenerasi, desakan kain pabrik juga tak kalah kuat Ini membuat masyarakat beralih membeli kain buatan pabrik untuk berbagai keperluan.

“Padahal secara kualitas sangat baik, perajin kain memproduksinya secara manual dan tradisional mulai menanam pohon kapas sendiri sampai membuatnya menggunakan alat tradisional,” ungkap Yanto.

Salah seorang perajin kain tenun gadod, Ma Babu Warsim warga Desa Nunuk Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka ini, mengatakan untuk memenuhi kebutuhan sandangnya menenun kain sendiri yang disebut Kain Gadod.

Nenek yang mengaku sudah berusia lebih dari 100 tahun ini mengatakan bahwa kebiasaannya membuat dan menenun kain Gadod sudah dilakukannya sejak dirinya kecil, turun-temurun dari keluarganya dengan alat tenun yang sudah berusia lebih dari 200 tahun tahun.

BACA JUGA:   Open Bidding Sudah 3 Besar, Siapa yang Bakal Dipilih Walikota?

“Seingat Ema, sejak zaman Belanda, Jepang, Ema mah sudah diwariskan alat menenun kain gadod ini dari nenek, dan sekarang tinggal 3 orang di Desa Nunuk ini yang bisa menenun kain Gadod ini,” ungkap Ma Babu Warsim di kediamannya.

Ma Babu mengatakan bahwa dahulu sesuai tradisi orang Sunda selalu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya dengan mandiri termasuk membuat pakaian.

“Sayang zaman sekarang, kain tenun buatan Ma, hanya dibeli oleh warga untuk kebutuhan kain kafan untuk membungkus mayat padahal dahulu seingat Ma, warga kampong Nunuk selalu memakai kain Godod ini sebagai bahan pakaian,” ungkapnya. (CT-110)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed